Agenda Satu-Satunya
14 February 2020

Setiap kita pasti mempunyai pengalaman yang khusus dan tidak ternilai harganya, karena pengalaman tersebut adalah rancangan Allah untuk membawa kita kepada kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah. Kalau Firman Allah mengatakan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia, berarti semua kejadian yang kita lihat, kita dengar, dan yang kita alami memuat pelajaran rohani yang yang berharga. Sesungguhnya, setiap hari Allah melawat kita melalui segala hal untuk memberkati kita dengan berkat abadi, artinya semua kejadian yang kita lihat, kita dengar, dan alami memuat pembentukan Allah untuk mempersiapkan kita menyongsong kekekalan. Betapa hebat Allah sebagai Bapa dengan konsekuen dan konsisten hadir dalam hidup kita melalui Roh-Nya untuk mempersiapkan kita masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah.

Melalui semua kejadian yang dirancang oleh Allah, Ia berkehendak mengangkat iman kita sampai kepada titik standar yang Allah kehendaki. Iman yang dimaksud adalah penurutan atau ketaatan kepada kehendak Allah. Kalau Alkitab mengatakan bahwa Allah adalah Sang Penjunan dan kita adalah tanah liat, maka sejatinya tanpa henti Allah melalui Roh-Nya menggarap kita terus-menerus tiada henti. Waktu yang sangat terbatas yang diberikan kepada masing-masing individu sangat bernilai. Allah menghargai waktu itu sehingga tidak ada saat di mana Dia berhenti membentuk kita. Kalau Allah tidak berhenti membentuk kita, seharusnya kita tidak juga berhenti merespons pembentukan-Nya.

Menjadi kesalahan kita, sering kita menjadi seperti “pelajar” atau “murid” yang bolos belajar. Hal ini karena perhatian kita yang beralih kepada banyak objek. Objek itu bisa berbentuk kesenangan-kesenangan dunia, hobi, barang-barang, dan berbagai cita-cita yang kita harapkan dapat membahagiakan kita. Bagi kita yang aktif dalam pelayanan, objek tersebut bisa pelayanan itu sendiri. Kita menginginkan gereja menjadi besar baik secara jumlah maupun fasilitas gedung, banyak kegiatan-kegiatan rohani seperti diakonia, membangun sekolah, misi, aktivitas sosial, dan lain sebagainya. Ternyata di balik semua kegiatan rohani tersebut terdapat agenda-agenda pribadi yang berpusat pada kesenangan diri sendiri. Harus diwaspadai bahwa banyak hal bisa mencuri perhatian kita sehingga proses pembentukan Allah atas hidup kita terhambat.

Kalau Allah sebagai Sang Penjunan menghargai waktu kita, kita harus lebih menghargai waktu yang Allah karuniakan. Masalahnya, sering kita tidak menyadari betapa dahsyatnya kekekalan. Kalau kita mampu menghayati dahsyatnya kekekalan, kita lebih bisa menghargai setiap menit yang Allah karuniakan. Mengapa Allah menghargai waktu kita? Karena di dalam tatanan-Nya, Allah sudah menetapkan durasi waktu yang menjadi porsi masing-masing individu. Tentu saja Allah tidak akan menyangkali ketetapan atau tatanan-Nya tersebut. Menghayati hal ini, mulai sekarang kita harus menghargai waktu yang Allah karuniakan, di mana di dalamnya Allah memberikan pembentukan-Nya kepada kita. Aspek lain yang harus ditambahkan di sini adalah bahwa dalam pembentukan tersebut, Allah tidak melakukan “sulap,” artinya Allah tidak mengubah sekejap seseorang menjadi anak kesukaan-Nya, tetapi harus melalui proses yang bertahap ketat.

Satu-satunya yang menarik dalam hidup ini adalah menjadi anak kesukaan Allah. Kalau kita tidak tertarik terhadap hal ini—yaitu untuk menjadi anak kesukaan Allah—kita tidak akan bisa melihat mesin anugerah dari Allah yang begitu berharga menggarap kita setiap hari. Menjadi anak kesukaan berarti menjadi pribadi seperti Yesus yang selalu menyukakan hati Bapa. Tindakan Allah yang berharga—yaitu memproses kita untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus atau hidup dalam kesucian-Nya—harus kita tanggapi atau kita respons secara benar. Merespons secara benar artinya kita selalu mengoreksi diri melalui setiap kejadian, karena setiap kejadian pasti memuat suara Tuhan yang menasihati kita.

Kalau Yesus berkata agar kita mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maksudnya adalah agar di atas segala kepentingan hidup, hal menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah—yang sama dengan menjadi anak kesukaan Allah—adalah prioritas atau tepatnya, satu-satunya agenda hidup. Hal ini memang sukar dijalani karena irama hidup banyak orang sudah terlanjur salah. Selama ini, gereja dan para pembicaranya menolerir kehidupan wajar jemaat yang masih membagi hati bagi dunia. Pembicara di mimbar tidak mampu menularkan atau mengimpartasikan spirit atau gairah untuk menjadikan hidup sebagai anak kesukaan Allah sebagai agenda satu-satunya, karena pembicara sendiri tidak memiliki kehidupan seperti itu. Konsep-konsep teologinya tidak mengarahkan dirinya untuk menjadikan hal hidup sebagai anak kesukaan Allah sebagai agenda satu-satunya. Bagaimana pun spirit atau gairah yang terbangun dalam kehidupan pengkhotbah setiap hari menentukan warna spiritnya bagi jemaat.