Adanya “Yesus Yang Lain”
01 December 2019

Semua gereja pasti mengajarkan tentang Yesus, dan biasanya semua orang Kristen berpikir bahwa “semua” Yesus yang diajarkan oleh gereja-gereja tersebut, sama. Namun, sesungguhnya tidaklah demikian. Nama Yesus memang sama-sama diakui dan dimiliki oleh semua orang Kristen, tetapi apa yang mereka ajarkan mengenai Dia tidaklah sama. Dengan demikian, sosok Yesus yang diajarkan sangat besar kemungkinan juga tidak sama. Jika yang diajarkan tidak sesuai dengan Yesus yang diajarkan dalam Alkitab, itu berarti “Yesus yang lain.” Ternyata dari dahulu sudah ada orang-orang yang memberitakan “Yesus yang lain” kepada jemaat. Namanya sama, yaitu Yesus, tetapi Yesus yang diajarkan bukanlah pribadi yang dimaksud oleh Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru. Dengan demikian, Yesus yang diajarkan adalah palsu. Mengenai hal ini, Paulus juga mengemukakannya dalam 2 Korintus 11:3-4.

Dalam 2 Korintus 11:3-4 tertulis, “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.”.” Frasa “Yesus yang lain” dalam ayat ini menunjukkan adanya pemberitaan Firman yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Mereka mengajarkan Yesus yang sebenarnya bukan Yesus yang diajarkan oleh Injil dalam Alkitab Perjanjian Baru.

Frasa “Yesus yang lain” dalam teks aslinya adalah allon Iesoun (ἄλλον Ἰησοῦν). Kata allonberasal dari akar kata allos yang artinya “berbeda, tetapi masih sejenis.” Kata yang sejajar dengan kata allos adalah heteros (ἕτερος) yang artinya “yang lain” dengan keberadaan berbeda jenis dan bentuknya. Penggunaan kata allos di sini hendak menunjukkan bahwa “Yesus yang lain” bukanlah Yesus yang diperkenalkan oleh agama-agama lain, melainkan Yesus yang dibaca dalam Alkitab dan diperkenalkan “seakan-akan” sejenis atau sama bentuknya, padahal sebenarnya berbeda. Hal ini bisa terjadi karena pemahaman yang salah terhadap Alkitab.Walaupun Yesus yang diajarkan seakan-akan sejenis, sebenarnya itu bukanlah Yesus yang asli. Hal ini sama dengan barang palsu yang seakan-akan sejenis dan sangat mirip dengan barang asli, padahal sebenarnya palsu. Kata allos mengindikasikan kemiripan antara “Yesus yang lain” dan Yesus yang asli.Namun, semirip apa pun, “Yesus yang lain” itu tetaplah palsu.

“Yesus yang lain” bisa merupakan konklusi dari berbagai doktrin yang dibangun sejak ratusan tahun. Doktrin-doktrin tersebut dirumuskan oleh para teolog yang membangun perpustakaan yang memuat tulisan mengenai Yesus. Mereka memiliki jawaban dari apa saja yang dipertanyakan mengenai Yesus. Mereka selalu memiliki argumentasi terhadap semua hal mengenai Yesus dan yang berkenaan dengan teologi Kristen. Para akademisi yang belajar teologi secara formal dalam sekolah tinggi teologi beranggapan bahwa tulisan para teolog dalam buku-buku di perpustakaan itu sudah cukup melukiskan wajah Yesus dan segala hal yang terkait dengan teologi Kristen. Dengan demikian, mereka merasa sudah menemukan Yesus dan pemahaman mereka mengenai Yesus sudah final.

Mereka merasa sudah menemukan Yesus secara lengkap dan mencatatnya dalam buku-buku di perpustakaan dan dalam pemahaman pikiran mereka. Faktanya, Yesus yang mereka ajarkan adalah Yesus yang tidak mengembalikan manusia untuk berkodrat ilahi, dan tidak membuat orang percaya menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Hal ini terbukti dengan kenyataan banyak orang Kristen meninggalkan gereja dan berperilaku seakan-akan tidak pernah mendengar Injil. Ini berarti Yesus yang mereka ajarkan tidak sama dengan Yesus yang ada di Alkitab.

Pikiran mereka telah terpenjara oleh doktrin-doktrin yang mereka pahami sebagai kebenaran mutlak. Mereka berpikir bahwa buku-buku di perpustakaan sudah cukup mewakili siapa dan bagaimana Allah dan Tuhan Yesus itu. Itulah sebabnya semua karya ilmiah harus memiliki referensi buku-buku tersebut. Jika tidak, karya itu dianggap tidak valid. Dengan cara ini mereka telah memagari diri mereka sendiri di bawah tempurung pikiran manusia yang terbatas. Biasanya, mereka terkurung oleh pandangan teolog-teolog masa lalu, dan mereka memandang bahwa doktrin yang diajarkan oleh teolog-teolog masa lalu sudah merupakan kebenaran mutlak. Dengan demikian, mereka menyejajarkan pandangan teologi manusia dengan Alkitab. Hal ini bisa menjadi kausal kemerosotan gereja.