SURAT GEMBALA Surat Gembala
Waktu Yang Berharga
02 October 2020

Saudaraku,

Hal yang akan sangat menakutkan dan akan menjadi sesuatu yang mengecewakan dan merupakan penyesalan yag paling dalam adalah ketika seseorang kehilangan kesempatan. Jangan sampai kita kehilangan kesempatan. Waktu kita ini benar-benar sangat berharga. Saya mengerti, banyak orang juga berbicara bahwa “waktu ini berharga,” tetapi berapa harga yang diberikan untuk waktu itu?

Orang bisa berkata “barang ini berharga,” lalu ketika ditanya berapa harganya, bisa dijawab “satu juta.” Menurut dia, satu juta itu mahal, walaupun uangnya ada dua milyar. Tetapi ada orang yang berkata “barang ini berharga, harganya lima ratus ribu.” Sebab dia hanya punya uang lima ratus ribu. Hanya segitu uangnya. Tapi karena barang ini dianggap penting, seluruh uangnya digunakan untuk membeli barang itu. Jadi, keberhargaan barang itu bisa relatif, tergantung bagaimana seseorang menilai barang tersebut. Dan seberapa nilai barang tersebut, tergantung dari fungsinya; seberapa besar fungsi dari barang tersebut.

Semua orang juga bisa berkata, “waktu itu berharga,” tapi berapa harga yang Anda tetapkan atas waktu tersebut? Mengapa orang menganggap waktu itu bernilai? Bagi sebagian orang waktu bernilai sebab mereka bisa mendapatkan uang, bisa meniti karier, bisa menangkat derajat dan martabat di tengah masyarakat, dsb. Apabila kita adalah orang percaya yang memiliki nalar, yang tidak mengikuti filsafat dunia “mari kita makan dan minum sebab besok kita mati,” kita akan berkata “waktu ini berharga karena aku mau menggunakannya untuk menyukakan hati Allah.”

Tidak ada satu detik pun yang kita lewati tanpa menyukakan hati-Nya. Waktu menjadi berharga, karena di setiap saat, kita dalam keadaan yang menyukakan Allah, dari setiap gerak, perasaan, renungan hati dan pikiran, serta setiap langkah dan tindakan kita, kita menyenangkan-Nya. Karena apa yang kita lakukan merupakan “investasi” untuk kekekalan. Sebab, kalau hanya bisa meraih gelar, pangkat, dan kekuasaan, itu akan lenyap sebagai atau seperti uap.

Jadi, kita menilai waktu itu berharga karena kita kaitkan dan arahkan pada kekekalan. Dan ini terkait dengan perasaan Allah yang menjadi Penguasa, Raja dari kekekalan itu. Kita harus jujur, kita telah melewati waktu yang panjang, tanpa sungguh-sungguh memerhatikan perasaan Allah kita. Kita anggap Dia tidak ada, karena memang seakan-akan Allah seperti tidak ada. Allah itu senyap.

Kadang-kadang kita sudah berjuang begitu keras untuk pekerjaan Tuhan, kita memurnikan motivasi kita sebersih-bersihnya, tapi kadang-kadang Tuhan seperti tidak menghargai. Atau ketika kita sembarangan hidup, tidak bersih dalam pikiran dan perbuatan, seakan-akan Tuhan juga tidak terganggu. Senyap.

Allah itu senyap, seakan-akan tidak ada. Tetapi Dia Allah yang hidup. Dia menjadi nyata dan hidup untuk orang yang berani memercayai dan menerima kesenyapan-Nya. Tidak ada keadaan yang lebih mengerikan, lebih mengecewakan, dan lebih disesali dari ketika seseorang kehilangan kesempatan. Saya menghayati, kalau sampai kita menutup mata, kita menyaksikan kekekalan yang dahsyat, kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan, dan kita tidak melakukan atau kurang melakukan sesuatu bagi Tuhan, betapa menyesalnya kita.

Apalagi kalau kita tidak hidup bersih. Kita masih membiarkan pikiran kotor, perkataan sembarangan, sikap hidup yang salah. Dan kita tidak serius membereskannya di hadapan Allah, karena kita merasa seakan-akan aman-aman saja. Kita berjuang sungguh-sungguh melayani Dia, seakan-akan Dia tidak menghargai diriku. Aku hidup sembarangan juga, seakan-akan Tuhan tidak terganggu dan tidak peduli semuanya. Tahukah saudara bahwa itu adalah sikap kurang ajar terhadap Tuhan.

Kita harus mengakui hakikat Allah, tatanan Allah yang memberi kita kebebasan. Di dalam kebebasan itu, pasti Tuhan ada dalam kesenyapan. Seperti ketika Hawa mengulurkan tangan memetik buah yang dilarang oleh Allah untuk dipetik dan dikonsumsi, Allah seakan-akan tidak ada. Allah membiarkannya.

Sejatinya, hal ini seharusnya membuat kita takut. Ketika kita mengambil keputusan yang salah, kita bertindak salah, seakan-akan Tuhan diam. Seakan-akan semua berjalan dengan aman, tidak ada tuaian dari apa yang kita tabur. Tapi pasti ada saatnya, kita akan menuai apa yang kita tabur. Alkitab mengatakan, “orang yang menabur di dalam dagingnya, akan menuai kebinasaan. Tetapi orang yang menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”

Tuhan mau kita memanfaatkan kesempatan yang Tuhan berikan ini, sehingga menjadi nilai yang bersifat kekal. Maka Tuhan berkata, “Di mana ada hartamu berada, di situ hatimu berada.” Kita harus sudah memindahkan hati kita sejak di bumi, sebab kalau kita benar-benar memindahkan hati kita dari bumi ke surga, kita akan melakukan segala sesuatu untuk Tuhan, demi kekekalan kita. Orang belum memindahkan hatinya dari bumi ke surga, pasti ia melakukan segala sesuatu terfokus hanya untuk kenikmatan hidup di bumi ini.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono