SURAT GEMBALA Surat Gembala
WAJAR, TAPI BEDA
11 November 2018

Saudaraku,
Tuhan tidak mengajarkan kita hidup secara tidak wajar di mata manusia. Wajar dalam pengertian kita tidak kehilangan “kemanusiaan” kita. Kita tetap menjalani hidup seperti manusia lain dalam bekerja mencari nafkah, makan minum, menikah, menikmati alam dan hobbi, menyukakan jiwa dan hati, berolah raga, rekreasi dll. Sebagai makhluk ciptaan yang hidup di alam nyata dengan segala hukum dan tata tertibnya, Tuhan menghendaki kita hidup secara wajar. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak menjadi batu sandungan dan syak bagi manusia lain yang belum mengenal kebenaran Tuhan. Dengan demikian kita menjadi berkat bagi semua orang.

Dalam sepanjang sejarah gereja sering terdapat kelompok orang Kristen yang “nyentrik” disebabkan oleh pemahamannya yang salah tentang hidup Kekristenan. Mereka pikir untuk menjadi manusia rohani atau orang Kristen yang benar, maka kita harus bersikap berbeda dengan orang lain “dalam segala hal”. Keanehan atau “nyentrik”nya itu justru dianggap sebagai “supremasi” atau keunggulan yang membuat Tuhan berkenan kepada mereka. Di antara kita dengan mereka yang tidak mengenal kebenaran memang terdapat banyak hal yang berbeda. Tetapi bukan berarti dalam segala hal kita berbeda, seolah-olah kita menjadi makhluk yang memiliki hukum dan tata tertib yang dalam segala hal berbeda dengan makhluk lain yang hidup di bumi ini.

Saudaraku,
Tidak dapat dihindari, dalam beberapa hal kita sama seperti makhluk lain pada umumnya, tetapi ada yang membedakan kita dengan mereka yaitu tujuan atau fokus hidup atau motivasi. Filosofi yang dipakai mereka pada umumnya seperti yang dikutip oleh Paulus dalam 1 Korintus 15:32 Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati. Cara hidup manusia pada umumnya hanyalah berdasarkan motivasi hidup, dan kebiasaan.
Dari penampilan luar yang bertalian dengan gerak hidup umum, kita tidak berbeda dengan mereka (makan, minum, sekolah, kerja, menikah), tetapi tujuan, fokus dan motivasi kita berbeda. Hal inilah yang Tuhan ajarkan kepada kita. Hal ini tidak mudah karena kita telah memiliki irama hidup yang salah yang telah kita warisi dari orang tua dan lingkungan. Irama hidup yang salah di sini maksudnya adalah kehidupan yang digerakkan oleh tujuan dan motivasi8 yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Saudaraku,
Irama hidup yang kita warisi dari orang tua harus diubah atau diganti dengan irama hidup yang baru. Hal ini disinggung oleh Petrus dalam suratnya dalam 1 Petrus 1:18 (tradition from your father – patroparadotou – handed down by your ancestor). Dalam hal ini kita dilatih Tuhan melalui Roh-Nya untuk meninggalkan cara hidup yang sia-sia tersebut. Cara hidup yang sia-sia inilah yang disebut sebagai “pikiran manusia” (Mat. 16:23). Dalam hal inilah proses penyangkalan diri berlangsung. Jadi menyangkal diri pada prinsipnya pada bukan hanya menyangkut masalah tindakan-tindakan lahiriah yang dianggap tidak bermoral -seperti membunuh, berzina, mencuri dll- tetapi tujuan dan motivasi hidup.

Jadi yang paling dipersoalkan bukan “buah” semata-mata, tetapi akarnya. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Paulus berkata bahwa akar segala kejahatan adalah cinta uang (1Tim. 6:10). Cinta uang adalah tradisi yang diturunkan orang tua kepada kita. Kalimat senada ditulis oleh Paulus dalam 1 Korintus 15:32, filosofi yang berkata: “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”. Hal inilah yang ditunjukkan Tuhan Yesus dalam Lukas 12:16-21, orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, tetapi tidak kaya di hadapan Tuhan. Tidak kaya di hadapan Tuhan, kalimat ini hendak menyerukan kita agar kita kaya di dalam Tuhan. Untuk kaya di dalam Tuhan kita harus mulai memiliki motivasi dan tujuan hidup yang benar.

Saudaraku,
Motivasi dan tujuan hidup yang benar harus diajarkan terus menerus di dalam gereja. Ini bukan sekadar membantu pelayanan gereja, terlibat dalam aktivitas gereja dan berbagai kegiatan rohani lain yang kita golongkan melayani Tuhan. Tetapi ini menyangkut seluruh irama hidup kita setiap hari. Di dalamnya Tuhan akan mengajar kita. Setiap kali kita berkumpul bersama dan Alkitab dibuka, di situlah tujuan dan motivasi hidup yang benar diajarkan kepada kita. Oleh sebab itu belajar Firman Tuhan adalah hal mutlak yang tidak boleh dihindari.

Filosofi hidup yang salah bukan saja kita warisi dari nenek moyang, tetapi juga hasil resapan dari lingkungan yang fasik. Lingkungan yang tidak mengenal kebenaran Tuhan (lihat 1Kor 15:33 bad companions ruin good character). Oleh sebab itu kita harus menjauhi persekutuan dengan orang yang tidak takut Tuhan (Mzm. 1:1-6).

Salam dan doa,
Erastus Sabdono