SURAT GEMBALA Surat Gembala
Tuhan Adalah Kebutuhanku
02 June 2019

Saudaraku,
Betapa seringnya kita membaca ayat ini. Kesimpulan apakah yang kita peroleh dari ayat dalam kitab Mazmur ini? Dikhawatirkan kita tidak mencapai sasaran pengertian ayat ini. Kita memahaminya dengan pengertian kita yang masih dangkal. Perlu dipersoalkan oleh kita sekarang adalah “seberapa perlunya kita terhadap-Nya?” dan “mengapa kita memerlukan-Nya?” Ini pertanyaan prinsip yang sangat menentukan mutu atau kualitas relasi kita dengan Tuhan. Seberapa dalam hubungan kita dengan Tuhan sangat ditentukan oleh jawaban pertanyaan tersebut. Kita harus mempersoalkan ini dengan serius kalau kita mau sungguh-sungguh ber-Tuhan dengan benar dan memiliki kehidupan secara benar. Bagi seekor rusa, sungai itu adalah kehidupannya. Aliran air tersebut bukan sekadar alat penunjang dan pelengkap hidup, tetapi kehidupan itu sendiri. Ia tidak dapat hidup tanpa aliran sungai tersebut.

Dari bacaan Mazmur 42:1-5 kita memperoleh kesimpulan penting: Bahwa tidak ada yang kita perlukan dalam hidup ini seperti kita memerlukan Tuhan. Kita memerlukan Tuhan bukan sekadar karena kita orang beragama, yang mana itu dibuktikan dengan rajin datang ke gereja. Sebab hampir semua agama berpendirian bahwa datang ke rumah ibadah adalah syariat penting dan bahkan dianggap utama. Jadi bisa dimengerti kalau banyak orang berpikir, kalau sudah datang ke gereja berarti sudah memenuhi panggilan untuk bersekutu dengan Tuhan. Harus memeriksa diri dengan jujur yaitu “kita butuh Tuhan karena Tuhan sendiri, atau karena suatu kebutuhan?” Kalau kita butuh Tuhan karena didesak persoalan hidup duniawi atau suatu kebutuhan, berarti kita telah menjadikan Tuhan alat atau sarana semata-mata, bukan tujuan.

Saudaraku,
Bila seseorang bersikap demikian terhadap Tuhan, yaitu datang ke gereja atau ber-Tuhan karena ia beragama, maka pada umumnya orang akan menjadikan Tuhan sekadar pelengkap kehidupan. Tuhan menjadi tambahan yang memang dianggap penting, tetapi sepenting apa pun tetap hanyalah tambahan. Tuhan diperlakukan seperti ban serep mobil. Sesungguhnya, Tuhan bukanlah pelengkap atau tambahan. Dia adalah kehidupan itu sendiri. Kita tidak memiliki kehidupan tanpa Tuhan atau hidup ini bukanlah sebuah kehidupan bila tanpaTuhan. Tuhan lebih penting dari nafas kita. Dia lebih berharga dari jantung kita. Dia kita butuhkan lebih dari kita membutuhkan darah. Apalagi harta dalam bentuk uang dan fasilitas yang lain. Tentu Tuhan kita butuhkan lebih dari kita membutuhkan apa pun dan siapa pun.

Bagi yang belum menikah, jodoh bukan jawaban yang utama. Bagi yang belum punya anak, keturunan bukanlah jawaban kebutuhan kita. Bagi yang dalam problem ekonomi, uang bukanlah jawaban. Bagi yang dalam persoalan rumah tangga, Tuhanlah jawabannya. Bagi yang sakit, Tuhanlah jawabannya. Memiliki Tuhan berarti memiliki kehidupan. Cukuplah hidup ini kalau kita memiliki Tuhan dan bersekutu dengan benar. Bila kita bersikap demikian, maka kita benar-benar memuliakan Tuhan dan bersikap sepantasnya. Selanjutnya, sikap seperti inilah yang menciptakan keintiman hubungan yang luar biasa dengan Tuhan.

Saudaraku,
Kebenaran ini sukar dikenakan karena ketidakdewasaan kita. Kedengarannya enak, mudah kita mengamininya, tetapi sukar melakukannya. Namun demikian kita harus melatih diri untuk mengenakan kebenaran tersebut. Di rumah petak kecilmu hadirkan Tuhan, maka itu lebih dari tinggal di istana raja. Semarakan hidupmu dengan hadirat Tuhan, walau tanpa celoteh anak-anak di rumahmu. Sukacitakan jiwa kita dengan berjalan bersama Tuhan di tengah tikaman kesunyian tanpa teman hidup. Bahkan ketika maut mengancam karena sakit penyakit atau yang lain, nikmati kabut kemuliaan-Nya yang menyertai kita, yaitu pendampingan-Nya atas kita.

Hendaknya kita ke gereja atau datang kepada Tuhan bukan hanya karena kita menghadapi suatu masalah atau suatu kebutuhan. Dimana Tuhan menjadi sumber pertolongan dan kekuatan yang memenuhi segala kebutuhan kita. Dalam hal ini Tuhan menjadi pendukung kehidupan kita, penopang kehidupan kita. Kedengarannya benar, tetapi ini belum tepat. Ini bukan berarti salah. Tuhan memang sumber pertolongan kita. Tetapi sikap seperti ini merupakan sikap orang Kristen kanak-kanak. Sejalan dengan kedewasaan Kekristenan kita, kita harus menjadikan Tuhan sebagai kebutuhan satu-satunya dan yang paling utama. Kita datang ke gereja atau mencari Tuhan bukan ketika sedang ada dalam persoalan atau kebutuhan semata-mata. Tuhan bukan sekadar seperti supermarket yang kita kunjungi karena ada suatu kebutuhan yang daripadanya kita dapat memperolehnya. Dalam segala keadaan kita membutuhkan Tuahan, sebab Dialah kehidupan kita.

Saudaraku,
Kebutuhan kita sebenarnya adalah Tuhan sendiri. Bukan karena ada kebutuhan lalu kita membutuhkan Tuhan. Bila demikian maka kita akan merasa puas dengan apa pun yang kita miliki hari ini. Sama seperti hubungan kita dengan pasangan hidup. Bagaimana kita memperlakukan pasangan hidup kita selama ini? Kita membutuhkan dia karena untuk sesuatu hal atau karena memang kita membutuhkan dia? Coba perhatikan, kalau sepasang manusia sudah dihanyutkan oleh cinta, maka hasrat mereka untuk membangun rumah tangga tidak didorong oleh apa pun, tetapi oleh cinta itu semata. Cinta itulah yang membangun sikap hati merasa membutuhkan pasangannya.

Pada akhirnya kalau kita mencari Tuhan, maka hal itu bukan karena berkat-Nya, bukan pula karena surga-Nya, tetapi karena Tuhan sendiri. Tuhan itulah surga kita. Tuhan itulah berkat kita. Dalam hal ini kita mengerti mengapa pemazmur berkata: “…tidak ada yang kuingini di bumi selain Engkau” (Mzm. 73:25-26). Penghayatan “Tuhan adalah kebutuhanku satu-satunya dan segalanya” merupakan pernyataan penting yang melandasi seseorang membangun hubungannya dengan Tuhan. Melandasi seseorang ber-Tuhan dengan benar. Kefanatikan seperti ini adalah kefanatikan sehat yang tidak melukai orang lain, kecuali orang yang mau binsa. Kefanatikan seperti ini harus digelorakan dalam jiwa kita. Dengan sikap hati seperti ini bisa dipastikan jiwa kita akan menjadi sehat sempurna. Inilah jalan kesembuhan bagi jiwa yang sakit.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono