SURAT GEMBALA Surat Gembala
Tidak Takut Mati
04 September 2020

Saudaraku,

Seiring berjalannya waktu, ketika Tuhan mencerahi kita dengan kebenaran-kebenaran, kita mulai bisa menata hidup kita dengan baik. Kita mulai sadar bahwa kita belum ada di tempat yang tepat di mata Allah. Dan kalau kita jujur melihat diri kita sendiri, kita bisa melihat betapa rapuhnya kita. Pernahkah Saudara membayangkan diri Saudara dimasukkan ke dalam peti mati, lalu dibawa ke liang kubur? Kira-kira bagaimana perasaan Saudara? Pasti ada perasaan takut. Lalu bagaimana kita mengalahkan perasaan takut?

Pertama, hidup kita harus benar-benar bersih. Jadi, kita harus membawa diri kita di hadapan Allah untuk minta diperiksa. Jika kesalahan yang kita lakukan, bereskan itu. Dan kalau kita minta pengampunan dari Tuhan, itu harus disertai komitmen untuk tidak melakukannya lagi. Jadi, kalau kita minta ampun lalu kita tidak bermaksud untuk memperbaiki diri, kita seperti mempermainkan Tuhan. Orang yang belum bersih benar hidupnya, tidak mungkin tidak takut mati. Jika hidup kita bersih, kita akan menjadi orang yang menarik perhatian Allah. Dari sekian milyar manusia, Allah menandai bahwa kita itu berbeda.

Kedua, jangan mencintai dunia. Sebab tidak mungkin orang menghadapi kematian dengan sukacita kalau masih memiliki percintaan dunia. Kita harus rela untuk kehilangan apa pun, mengosongkan bejana jiwa. Jadi kita makin tua itu, bejana jiwa makin kita kosongkan. Apalagi dalam suasana wabah COVID-19 ini, dimana setiap saat orang bisa meninggal. Kalau kita masih merasa memiliki sesuatu yang berharga, pasti kita tidak berani mati. Namun jika tidak ada ikatan apa pun dalam hidup, kapan saja meninggal dunia, kita siap.

Ketiga, kita harus menyelesaikan tugas kita. Setiap kita pasti punya tugas. Jangan sibuk dengan dunia; jangan tenggelam dengan masalah, tenggelamlah dalam rencana Tuhan. Temukan tempat kita untuk melayani Tuhan. Melayani Tuhan tidak harus di gereja. Di masyarakat, ada banyak lahan di mana kita harus berkarya. Bahkan, di rumah tangga, di keluarga besar, di kampus, di tempat kerja, ada proyek-proyek besar Allah di situ.

Kita memang belum sempurna, tetapi kita harus sempurna. Dan kita tidak bisa sempurna dalam satu hari. Kita harus berjuang. Setiap kata yang kita ucapkan, setiap tulisan di media sosial, bahkan setiap gerak hati kita, semua harus benar di hadapan Allah. Dan cirinya, tidak melukai siapa pun.

Mari kita menghidupkan kembali karakter Kristus. Kehidupan Yesus 2000 tahun yang lalu, ketika Ia mengenakan tubuh daging, kita hidupkan kembali di abad 21 ini, di dalam dan melalui hidup kita. Di tengah suasana krisis ini, kita tidak menunjukkan takut, tetapi kita menyongsong kedatangan Tuhan. Dan kalau kita meninggal dunia, kita benar-benar siap. Benar-benar tidak takut menghadapi kematian. Tentu kita tidak ingin mati buru-buru karena tugas kita belum selesai. Masih banyak orang yang bergantung pada kita, tetapi kematian itu sendiri tidak kita takuti. Tetapi kalau kita hidup, hidup kita memberi buah.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono