SURAT GEMBALA Surat Gembala
The Power Of Will
21 July 2019

Saudaraku,

Tuhan memberi pikiran dan perasaan yang berkualitas sangat tinggi, yang oleh pikiran dan perasaan ini kita dimampukan untuk membuat, menciptakan, memproduksi keinginan-keinginan dengan jumlah yang tidak terbatas, dengan jelajah yang juga tidak terbatas. Dengan keinginan yang dimiliki manusia dari pikiran dan perasaan tersebut, manusia dapat menentukan destiny-nya, keadaan dirinya, nasibnya. Inilah kelebihan yang dimiliki manusia dibanding semua makhluk yang lain. Dan ini sebenarnya sesuatu yang sangat hebat, sangat luar biasa.

Tanpa disadari, kehancuran hidup seseorang dimulai dari ketika ia tidak menyadari bahwa dirinyalah yang menentukan destiny-nya, keadaannya. Dan bagi Saudara yang rindu untuk mencapai prestasi-prestasi rohani yang tinggi, prestasi hidup yang tinggi, yaitu berkenan kepada Tuhan, menyukakan hati-Nya, ini kabar baik. Bukan sesuatu yang tidak mungkin. The power of will, kuasa dalam keinginan dapat membawa Saudara kepada kehinaan kekal (api neraka) atau kemuliaan kekal di Kerajaan Yesus Kristus, dimana kita juga diperkenan masuk ke dalam anggota keluarga Kerajaan. Ini bukan sesuatu yang sederhana.

Saudaraku,
Kejadian 2:16-17 menunjukkan betapa hebat the power of will ini, kuasa keinginan ini. Dari pernyataan Alkitab ini, kita menemukan sebuah realitas atau fakta hidup, dimana manusia harus menentukan destiny-nya. Antara kehidupan dan kematian, antara hidup dalam persekutuan dengan Allah di Eden yang indah, yang memang diciptakan untuk manusia, atau keluar dari Eden, tergantung dari manusia itu.

Lalu kalau Saudara memperhatikan Kejadian 3, ketika terjadi dialog antara wanita yang mewakili Adam dengan ular, maka dibangkitkan sesuatu dalam hati perempuan ini. Sebenarnya ini bisa menjadi gambaran dari percakapan hidup, komunikasi kita dengan dunia yang bisa melahirkan keinginan-keinginan. Apakah kita tergiur oleh keindahan dunia dan kita mengikuti keinginan atau suatu keinginan, atau kita tetap di dalam kehendak Bapa.

Tentu kuasa kegelapan memiliki kecerdikan, sebab ia memiliki pengalaman bukan saja jutaan, tapi bisa milyaran tahun. Dia punya pengalaman banyak, luar biasa. Pasti luar biasa. Tetapi Roh Kudus pasti lebih luar biasa. Hanya kalau kita dipimpin Roh Kudus, kita mampu untuk bisa melihat keinginan-keinginan di dalam diri kita, yang jika kita tumbuhkan, kita hidupi lalu kita kenakan, itu membawa kita kepada kebinasaan. Hanya Roh Kudus, tidak ada yang bisa mengalahkan kuasa kegelapan ini, kecuali Roh Kudus.
Iblis tidak kelihatan, tetapi keinginan-keinginannya itu, atau keinginan yang bisa dilahirkan dalam hidup kita itu nampak jelas. Jadi ketika kita melakukan bukan kehendak Bapa, kita membangun satu kerajaan yang bukan Kerajaan Allah. Kalau Kerajaan Allah, Tuhan Yesus yang menjadi Tuhannya atau Rajanya. Dan kalau Yesus menjadi Rajanya, kita harus tunduk kepada-Nya.

Saudaraku,
Kita harus bisa membayangkan, merenungkan seandainya kita hidup pada zaman Yesus, kita ikut Tuhan Yesus, kita kehilangan segala sesuatu. Sekarang mungkin secara fisik, secara legalitas kita tidak kehilangan rumah, mobil, dan lain sebagainya. Tapi hati kita mesti direnggut oleh Tuhan.

Saya sering mengatakan adanya residu. Residu itu artinya sampah. Sampah-sampah sisa dalam hidup kita, yang itu seringkali kita sembunyikan. The secret of dirty, ada kotoran-kotoran tersembunyi di dalam hidup kita yang kita hidupi, dan kita merasa ini bukan dosa besar, bahwa ini tidak mengganggu hubungan kita dengan Tuhan. Tapi itu mengganggu. Mestinya kita makin tua itu makin bisa merajut senyum Tuhan. Makin banyak senyum Tuhan yang bisa kita buat.

Kalau kita datang ke gunung kudus Bapa, harus hidup tidak bercacat, tidak bercela. Mengapa kita malas berdoa, atau kita tidak sanggup lama berdoa? Karena kita memang tidak memiliki hidup yang bersih, sehingga kita tidak betah di hadirat Allah. Jangankan 30 menit, 10 menit saja lama sekali. Tapi kalau kita berjuang dari waktu ke waktu untuk melakukan kehendak Bapa, berarti hidup dalam pemerintahan Tuhan. Tidak usah didorong-dorong juga kita akan berdoa, karena bukan lagi menjadi kewajiban, tapi menjadi kebutuhan.

Saudaraku,
Jangan sibuk dengan hal-hal yang tidak perlu membuat Saudara sibuk. Kerja, cari nafkah sebanyak-banyaknya cari uang, baiklah. Tapi itu pun kita lakukan bukan karena kita ingin beli barang ini, beli barang itu, mau jalan-jalan ke mana. Bukan tidak boleh jalan-jalan, bukan tidak boleh beli barang. Kita tidak mencari uang demi kebahagiaan hal-hal tersebut. Kalau kita beli barang untuk kebutuhan, ya harus. Jalan-jalan untuk keluarga dan orang dekat kita, ya tidak masalah. Tapi jangan menjadikan itu kebahagiaan hidup kita.

Mari kita berubah. Beranilah untuk tidak punya keinginan dunia. Kalau Saudara tidak memancarkan terang yang kuat di tengah-tengah dunia ini, Saudara tidak akan bisa menjadi terang dunia, di mana kota di atas bukit itu kelihatan. Kalau Saudara menjadi terang yang kuat, mustahil kota yang terletak di atas bukit tidak kelihatan. Pasti kelihatan, pasti nampak. Surga kita akan nampak dari kematian keinginan-keinginan yang ada di dalam hidup kita. Sebaliknya, kalau Saudara sudah mulai punya keinginan, mulai sibuk dengan beberapa hal lain, ketakjuban Saudara terhadap Firman pasti kurang. Jangan Saudara sudah mulai hidup menurut roh, Saudara akhiri hidup dalam daging.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono