SURAT GEMBALA Surat Gembala
Testimoni Hidup (2)
29 March 2020

Saudaraku,

Seringkali liturgi malah menyesatkan kalau kita tidak sungguh-sungguh di setiap hari berjuang memenuhi apa yang kita nyatakan dalam gereja. Sekalipun Saudara memberi seluruh hartamu, tanpa kasih, semua sia-sia. Artinya, kasih itu tindakan yang sesuai dengan perasaan Allah, karena Allah itu kasih. Kalau Saudara membantu hanya kasihan dan Saudara senang karena itu, berarti Saudara masih punya kepentingan. Ini tidak mudah. Tetapi kalau kita mengerti hal ini dan mengenakannya dalam hidup, kita menjadi karunia, anugerah, gift, pemberian khusus dari Tuhan untuk orang sekitar kita. Siapa pun orang di sekitar kita. Kita adalah gift dari Tuhan untuk mereka.

Kalau kita merasa tidak memiliki kepentingan, semua kita lakukan untuk Tuhan—baik makan, minum, atau melakukan sesuatu yang lain—maka yang terjadi: Pertama, kita merdeka dari percintaan dunia. Kedua, kesucian hidup. Ketiga, damai sejahtera Allah. Keempat, kepastian masuk ke LB3. Kelima, testimoni atau kesaksian bahwa Allah itu hidup dari pengalaman hidup ini.

Tidak bisa tidak, dalam hidup ini kita harus memilih. Dan untuk itu Saudara harus memberi hidup sepenuhnya bagi Allah. Tidak harus menjadi aktivis atau pendeta, tapi dalam segala hal menyenangkan Tuhan. Kalau kita bangun pagi, satu hari harganya tidak ternilai. Kalau seseorang di ujung maut, ia mau—jika bisa—menambah satu hari lagi hidupnya. Tapi dengan uang berapa dia bisa beli? Tidak bisa! Satu hari itu tidak ternilai harganya. Tapi bagaimana hari yang tidak ternilai benar-benar menjadi tidak ternilai? Kalau kita menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.

Tapi kalau Saudara tidak hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, celaka. Jadi, 70-80 tahun umur hidup Saudara, bandingannya adalah kekekalan. Ini menentukan kekekalan kita. Bahkan satu jam hidup kita, itu pun bandingannya adalah kekekalan. Dan ini menentukan kekal di surga atau kekal di neraka. Hidup ini tidak gratis. Kalau kita hidup suka-suka sendiri, bayar di neraka. Kalau kita hidup suka-suka Tuhan, Tuhan bayar di Kerajaan-Nya.

Kalau bagi orang yang tidak mengenal kebenaran, kematian menakutkan seperti masuk ruangan gelap yang menyimpan berjuta misteri. Namun bagi kita yang mengenal kebenaran, kematian tidak menghilangkan kesadaran. Di balik kematian, ada pengadilan. Ini menggetarkan kita. Supaya pengadilan Allah tidak menjadi keadaan dahsyat yang mengerikan—tetapi keadaan dahsyat yang menyukakan—maka kita harus mulai berkemas-kemas dan merajut kehidupan yang benar sejak sekarang. Mari kita memilih mulai sekarang: Setiap kata yang kita ucapkan, kepada siapa pun dan di mana pun, kita menjadi gift dari Tuhan. Pada waktu seperti itu, Saudara baru benar-benar jadi saksi, jadi surat yang terbuka.

Dan kalau Tuhan masih memberi satu hari yang nilainya tidak terbatas, mari kita isi menjadi hari yang indah dengan melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Jangan merasa memiliki kepentingan. Bahkan, berbuat baik pun bukan karena kita memiliki kepentingan, melainkan karena Allah punya kepentingan. Dia mau dipuaskan oleh perbuatan kita. Jadi, kalau kita memberi sesuatu kepada orang, itu bukan urusan kita dengan orang itu, melainkan kita dengan Tuhan. Apakah orang menghargai dan membalas kebaikan kita, tidak kita perhitungkan. Yang kita perhitungkan adalah hati Bapa disenangkan dengan yang kita lakukan. Maka, kita tidak perlu menunjukkan diri atas apa yang kita lakukan untuk sesama kita.

Teriring salam dan doa,

Dr. Erastus Sabdono