SURAT GEMBALA Surat Gembala
Tekad Mengasihi Tuhan
23 June 2019

Saudaraku,
Di dalam kehidupan umat Perjanjian Lama ternyata sudah ditemukan orang-orang yang menjadikan Tuhan sebagai kebahagiannya. Padahal kita tahu bahwa orientasi hidup mereka adalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Dan tentu kalau Tuhan menjadi kebahagiaannya, mereka akan berusaha untuk membela-Nya, mengasihi dan memiliki-Nya. Namun sebenarnya hal seperti ini juga bisa kita temukan dalam hidup orang-orang beragama lain. Orang-orang yang fanatik yang ekstrem terhadap Tuhan atau Allah yang diyakini dan ajaran yang dipercayainya. Sebagai buktinya, sekarang ini ada orang-orang yang rela meninggalkan rumah, rela menjadi buron, tidak malu berstatus teroris, meninggalkan keluarga, meninggalkan kenyamaan bahkan rela mengorbankan nyawanya demi kepentingan atau keyakinan Tuhan atau Allah yang diyakininya.

Kalau ada orang-orang yang bisa menjadikan agama dan allahnya sebagai kebahagiaan hidup satu-satunya dan mereka bisa begitu fanatik terhadapnya, bagaimana kita terhadap Tuhan Yesus? Seberapa kita sungguh-sungguh sudah fanatik terhadap Tuhan? Sejujurnya, dibandingkan dengan orang-orang ini seharusnya kita malu. Sebab betapa tidak berartinya dan betapa miskinnya sikap kita selama ini terhadap Tuhan. Tuhan Yesus yang telah memberikan nyawa-Nya, rela meninggalkan kemuliaan, mengosongkan diri dan dalam segala hal disamakan dengan manusia, menderita taat sampai mati bahkan mati di kayu salib, demi kita. Demi menjadi tebusan bagi kita. Apakah sikap kita terhadap Tuhan sepadan dengan sikap dan pengorbanan-Nya terhadap kita? Kalau umat Perjanjian Lama belum mengenal Injil, belum mengenal Allah secara lengkap, namun kita memiliki Injil yang membuka wawasan kita dan kita mengenal kehidupan mengenal Allah, mengenal kebenaran lebih lengkap; maka seharusnya kita memiliki kedalaman menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan kita lebih dari mereka.

Saudaraku,
Jadi kalau kita belum memiliki fanatisme yang benar terhadap Tuhan Yesus, itu menunjukkan bahwa hubungan kita atau relasi kita dengan Tuhan belumlah proporsional, belum benar. Kita pasti belum menjadikan Tuhan sebagai kekasih jiwa kita. Mudah untuk mengatakan bahwa Tuhan adalah kebahagiaan kita, tetapi apakah ada tindakan konkret? Sebab banyak orang tidak membuka ruang hidupnya secara memadai, sehingga imannya kepada Tuhan Yesus belum tepat. Tuhan hanya menjadi Tuhan secara imajiner. Apa yang dikatakan mengenai Tuhan bukanlah Tuhan yang nyata atau rill. Seakan-akan Tuhan seperti mati. Tuhan hanya fantasi.

Orang yang ekstrem dengan Tuhan itu -tidak bisa tidak- pasti nampak. Orang tidak mungkin bisa menyembunyikan keadaan yang sebenarnya apakah dia fanatik terhadap Tuhan atau tidak. Fanatisme orang terhadap Tuhan itu kelihatan. Kalau fanatismenya orang-orang beragama ditunjukkan dengan membela keyakinan agamanya atau membela allahnya dengan menjadi teroris misalnya, kalau kita tidak usah begitu dan tidak boleh begitu. Namun apa yang kamu ucapkan, apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu lakukan harus tidak meleset.

Maka kita harus belajar untuk sungguh-sungguh bergumul memiliki setiap kata yang benar, sikap hati yang benar, gerak hati pikiran perasaan yang benar. Tapi kalau kita benar-benar bergumul untuk menjadi seorang yang tidak bercacat tidak bercela, cirinya kita bisa tahu, yaitu kita semakin optimis bisa sempurna. Walau dalam praktik kita masih jatuh. Namun kita bangun dan bertobat lagi. Hal ini tidak bisa Saudara mengerti kecuali Saudara mengalaminya. Memang kita harus melewati tahapan-tahapan yang sulit. Jadi keadaan sulit bagaimanapun dalam hidup kita, harus dijadikan sarana untuk melatih kesempurnaan.

Saudaraku,
Anak Allah itu anak-anak yang agung. Tidak mungkin Allah Bapa punya anak yang hanya berstatus anak tapi martabatnya bukan martabat Bapa. Renungkan betapa hebat kita menjadi sahabat Tuhan Yesus, menjadi anak-anak Allah yang Mahaagung. Jadikan Tuhan kebahagiaanmu. Jangan cari kesenangan sendiri. Fanatik kita hanya satu, yaitu menyenangkan Tuhan. Kalau ada satu barang atau seseorang yang Saudara cintai, pasti Saudara bela dengan cara apa pun dan berapa pun. Seberapa kita fanatik dengan Tuhan? Mari kita buat hidup Tuhan dan kita buat Tuhan itu hidup, bukan dalam alam imajiner. Oleh sebab itu kita harus membuka seluas-luasnya ruang kehidupan untuk Tuhan. Selalu cari hadirat-Nya, sebab hadirat Tuhan itu pasti mempengaruhi.

Mati bagi Tuhan itu bisa lebih mudah daripada hidup bagi Tuhan. Dari hari ke hari, minggu ke minggu, kita harus membuktikan bahwa kita adalah anak-anak Allah. Makanya harus dengan sadar kita mempersiapkan hidup kita untuk itu. Oleh sebab itu hati kita harus kita gelorakan untuk mencintai Tuhan. Fanatisme kita kepada Tuhan cukup ditandai dengan sikap hidup yang berkenan. Oleh sebab itu satu hal yang sangat penting untuk kita lakukan hari ini: bertekad mengasihi Tuhan. Maka Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Saat ini kita memang belum sempurna, tapi kita bisa memiliki tekad mengasihi Tuhan. Kalau kita menjadi kekasih Tuhan, maka kita pantas untuk diberkati, dilindungi, dijaga dan diperlakukan istimewa. Kita menjadi orang-orang istimewa bagi Tuhan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono