SURAT GEMBALA Surat Gembala
Takut Secara Patut
16 October 2020

Saudaraku,

Tuhan sering digambarkan sebagai Tuhan yang lemah lembut, seperti seorang gembala yang menggendong anak domba di pelukan. Itu tidak salah, tapi sekarang zamannya sudah berubah. Mungkin ada “kecemasan” di Kerajaan Allah, di antara para orang kudus dan malaikat kudus, ketika membacakan tanda zaman dan mereka mengerti keadaan ini sudah krisis. Sementara orang Kristen masih banyak yang bercinta dengan dunia, masih berpesta pora dengan segala kesenangan. Mestinya, kita sudah tidak lagi melihat Yesus seperti gembala yang menggendong anak domba itu. Dia sudah pegang tongkat Kerajaan, perang!

Penggambaran yang salah itu berbahaya. Tentu Yesus masih sebagai gembala yang menggendong anak domba, terutama kepada orang tertentu yang baru menjadi Kristen. Tapi hari ini dunia yang teknologi komunikasi dan transportasinya begitu maju, Injil sudah sampai ke ujung bumi; sudah bukan lagi masa penuaian melainkan masa penampian.

Jadi, kita mestinya mengenal Allah kita dengan benar, dengan hormat. Kalau orang Kristen yang dewasa, sudah tidak minta apa-apa lagi kepada Tuhan. Yang dia minta hanya bagaimana menghormati Tuhan secara patut, takut secara patut kepada Bapa. Bagaimana kita memiliki perasaan takut akan Dia secara patut. Sadar, kita belum takut secara patut kepada Dia. Makanya kita minta, bagaimana kita memiliki perasaan takut yang sepantasnya kepada Tuhan. Kita mau takut kepada Tuhan atau tidak, tergantung kehendak bebas kita.

Saudaraku,

Kita bisa menguji, memeriksa diri, dan menilai apakah sikap kita terhadap pasangan hidup kita telah benar, dan itu harus serius kita lakukan. Kita bisa merasakan. Kecuali nurani seseorang telah menjadi gelap, karena terlalu lama hidup dalam egoisme, selalu melihat kepentingan diri sendiri, memanjakan perasaan sendiri, maunya dilayani, tidak mau mengalah. Ini yang membuat seseorang tidak memiliki kepekaan. Kalau kepada manusia yang kelihatan saja kita tidak benar, apalagi kepada yang tidak kelihatan.

Kalau kita percaya ada Allah yang hidup, yang berperasaan, juga Allah yang memiliki rencana, mestinya kita bersikap benar terhadap Dia. Selama ini, mungkin kita paling tidak memedulikan hal ini. Banyak orang dalam berurusan dengan Allah hanya memiliki modal percaya saja Allah itu ada, lalu Allah bisa ‘dibungkam’ atau ‘disuap’ dengan datang ke rumah ibadah atau gereja, kalau dalam konteks Kristen. Berdoa sebelum makan, sebelum tidur, atau memberikan persembahan uang ke gereja. Dan merasa sudah memenuhi tanggung jawabnya sebagai umat di hadapan Allah. Sejatinya, kita memperlakukan Allah itu tidak pantas, tidak patut. Karena kita mendesain Allah dalam pikiran kita, sesuka kita.

Allah ingin Saudara memperlakukan Dia dengan benar, sesuai dengan usia rohani kita masing-masing dan sesuai usia dunia. Dunia ini bertambah jahat. Akan berakhir. Tuhan berkata, “Aku berdiri di depan pintu sambil mengetuk.” Ini bukan pintu hati, melainkan pintu kehidupan dimana Tuhan akan mengakhiri sejarah kehidupan. Sekarang, Yesus sedang mengetuk dunia ini, yang dikatakan dalam Alkitab, seruan “Mempelai datang!” Itu pintu diketuk. COVID-19, tsunami, perang, bencana, wabah, krisis, merupakan “tanda” bahwa Tuhan sedang mengetuk. Sadarkah kita? Ironis, jika kita masih seperti kanak-kanak; masih sibuk urusan jodoh, rumah, sakit-penyakit. Bukan tidak boleh, tapi itu bukan yang utama.

Apakah Saudara yakin bahwa Allah itu hidup dan berperasaan? Jika yakin, maka hiduplah dengan benar, jaga perasaan Allah. Nanti kalau kita bertemu Yang Mulia, Tuhan kita, tapi hidup kita berantakan, bagaimana? Kalau yakin Allah itu hidup, bukan hanya yakin Dia ada, tetapi kita juga mau menjaga perasaan-Nya dengan hidup suci. Kalau kita yakin ada surga, tinggalkan dunia. Kalau Saudara tidak mau meninggalkan dunia, berarti Saudara tidak yakin bahwa Saudara akan mati dan pulang ke surga. Saya menantang Saudara untuk bertobat. Jangan menunda besok, tapi saat ini. Ini bukan urusan Saudara dengan saya, tetapi urusan Saudara dengan Tuhan. Jantung kita pasti berhenti berdetak, nadi kita pasti berhenti berdenyut. Tetapi kalau kita mempersiapkan diri bersikap benar di hadapan Tuhan, berbahagia kita.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono