SURAT GEMBALA Surat Gembala
Subjektivitas – Bagian 1
05 April 2020

Saudaraku,

Kita harus cerdas dalam memahami Alkitab. Banyak kisah Perjanjian Lama yang
memang memuat hikmah, pelajaran rohani. Tapi kita harus mengerti bahwa kehidupan
bangsa Israel bukan pola hidup orang percaya. Kita tidak lagi mempersoalkan
pemenuhan kebutuhan jasmani, sebab kita berorientasi pada karakter; pemulihan
gambar Allah; dikembalikannya ke rancangan semula. Tentu “karakter” di sini
maksudnya adalah mengenakan pikiran, perasaan Kristus. Jadi, kita harus mengalami
perubahan kodrat dari kodrat dosa ke kodrat ilahi. Yang harus kita perhatikan adalah:

Pertama, agama itu masih bisa dinikmati oleh manusia yang telah kehilangan
kemuliaan Allah. Manusia beragama itu menikmati agamanya. Siapa yang tidak ingin
punya agama, yang memiliki Allah yang hebat, yang mempermudah jalan hidup, yang
bisa menyembuhkan berbagai penyakit, bisa memberikan jalan keluar dari berbagai
masalah?

Yang kedua, berbenturan dengan naluri kemanusiaan. Pola hidup kita itu pola hidup
Tuhan Yesus. Ketika kita memilih untuk mengikut Yesus berarti kita harus
meninggalkan percintaan dunia; rela kehilangan kenikmatan hidup untuk menjadi anak-
anak Allah yang prinsipnya: “makananku melakukan kehendak Bapa dan
menyelesaikan pekerjaan-Nya.”

Agama itu masih bisa dinikmati manusia, karena tidak berbenturan dengan naluri
manusia. Tapi kalau ikut Yesus, kita harus mematikan kedagingan kita. Manusia
lama kita harus dikubur, kita harus mengenakan manusia baru. Baru namanya lahir
baru; mengenakan kodrat ilahi. Mestinya, yang diwariskan gereja itu adalah karakter
Yesus ini, bukan hanya liturgi. Ibadah kita itu dalam roh dan kebenaran. Jadi, jangan
kita mengambil alih cara-cara ibadah orang Yahudi dengan bungkus baru, tapi isinya
sama. Yang diwariskan itu harus kehidupan Yesus, bukan liturginya saja. Liturgi itu
segenap hidup kita. Juga bukan hanya doktrin. Ironis, doktrin sekarang ini jadi komoditi
yang dijual. Saya setuju doktrin itu penting. Tapi, secara implisit, setiap orang harus
menemukan Tuhan. Kalau Saudara yakin Allah itu ada, berarti Ia bisa dijumpai,
alami Tuhan! Memang ini bersifat subjektif. Tapi, perjumpaan pribadi dengan Allah
itu bukanlah sesuatu yang bersifat fantasi.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono