SURAT GEMBALA Surat Gembala
Subjektivitas (Bag.3)
19 April 2020

Saudaraku,

Penganiayaan yang orang percaya alami di abad mula-mula itu sangat hebat. Mereka kehilangan kewarganegaraan, keluarga, dan harta. Mereka bisa menjadi pelarian, menjadi manusia yang ditolak masyarakat. Tetapi, coba kita renungkan, mengapa kualitas hidup kekristenan mereka lebih baik dibanding dengan orang percaya hari ini? Ini yang harus menjadi bahan perenungan dan pertimbangan kita. Ternyata, keadaan aman dan nyaman yang dimiliki orang percaya hari ini bisa lebih rawan dibanding orang Kristen pada zaman gereja mula-mula itu.

Lalu apa yang membuat mereka bisa begitu tekun, giat, setia, berintegritas tinggi dalam mempertahankan iman Kristen mereka? Sebab buktinya, mereka rela kehilangan segala sesuatu demi iman mereka kepada Tuhan Yesus Kristus. Pegangan mereka adalah:

Yang pertama, keteladanan hidup. Dan memang ada satu prinsip pada zaman itu, “berpeganglah pada uskupmu (pemimpinmu).” Karena tidak ada pegangan lain, kecuali para pemimpin. Mereka pasti memiliki kehidupan yang bisa diteladani. Yustinus Martis, Polycarpus adalah tokoh-tokoh hebat yang mempertaruhkan hidupnya untuk Tuhan tanpa takut. Mereka melihat pemimpin-pemimpin mereka yang melanjutkan perjuangan Paulus. Paulus memberikan teladan hidup.

Jangan gantikan keteladanan hidup dengan kemampuan berapologetika. Saya tidak mengatakan berapologetika itu salah. Jangan gantikan keteladanan hidup dengan kecakapan berkhotbah atau menulis buku. Jangan gantikan dengan gelar atau prestasi. Tapi pertanyakan: apakah hidup saya sudah memancarkan kehidupan Tuhan Yesus?

Yang kedua, Roh Kudus. Mereka pasti bergaul dengan Tuhan di tengah keadaan itu. Sebab, jika mereka tidak bergaul dengan Roh Kudus, tidak mungkin mereka sanggup. Mereka diseret di hadapan pengadilan, dimasukkan ke kandang binatang buas, dibakar hidup-hidup. Mereka mandiri. Jadi, tidak mungkin mereka tidak memiliki hubungan yang eksklusif dengan Allah. Di situ, setiap orang akan belajar langsung dari Roh Kudus.

Maka kalau Saudara percaya Allah itu hidup, perlakukan dengan tulus. Kita bisa gemetar di hadapan-Nya. Saudara harus mengalami. Jangan takut dituduh subjektif. Masalahnya sekarang, subjektivitasmu berisi tidak? Kalau Saudara mau menjadi seperti Yesus, Saudara akan diizinkan Tuhan mengalami pergumulan seperti yang Tuhan alami.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono