SURAT GEMBALA Surat Gembala
Subjektivitas (Bag.2)
12 April 2020

Saudaraku,

Kalau Saudara percaya bahwa ada Allah, Saudara harus bergaul dengan Dia. Memang ini subjektif, tetapi hidupmu akan menunjukkan apakah kamu bertemu dengan Pribadi ini atau tidak. Mengenakan hidup Yesus itu berat, sebab bertentangan dengan naluriah manusia. Tapi itu yang Yesus ajarkan. Ironis, jika kita hanya beragama Kristen, tapi tidak mengikut Yesus, sebab mengikut Yesus itu mengikuti jejak-Nya. Percaya kepada Yesus itu berarti menyerahkan diri kepada objek yang dipercayai dan makin seperti Dia.

Menjadi perenungan kita, apakah hidup kita sudah seperti Yesus? Pasangan hidup, pegawai, keluarga, tetangga, semua harus merasakan perubahan hidup kita yang semakin seperti Yesus. Kalau kita mengikut Yesus, kita akan menghidupi hidup-Nya dalam hidup kita. Kalau tidak demikian, berarti kita hanya beragama Kristen. Jangan sampai Saudara meninggal dunia, belum dikategorikan mengikut Yesus.

Yang menggetarkan adalah ketika kita mengenakan pribadi Yesus dan menyenangkan hati Bapa di surga. Namun kita harus rendah hati mengakui, ternyata kita masih jauh dari apa yang Allah kehendaki. Maka ketika kita menyadari keadaan kita belum seperti Yesus, lalu kita berusaha mengenakan hidup-Nya, pasti terjadi benturan antara daging dengan naluri kemanusiaan kita. Dan itu sangat sulit.

Kalau orang beragama, cukup melakukan hukum, tidak usah bersentuhan langsung dengan Allah; dengan pikiran dan perasaan-Nya. Tapi kalau orang Kristen, harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Berkenan kepada-Nya merupakan standar seperti yang Tuhan Yesus lakukan dalam memenuhi kehendak Bapa. Kalau beragama, masih bisa dikenakan manusia siapa pun dan di mana pun. Tapi kalau ikut Yesus, itu hanya untuk orang-orang nekat dan dipimpin Roh Kudus.

Saya mengajak Saudara untuk kembali ke Injil yang murni. Coba temui Tuhan, miliki pengalaman dengan Allah. Jangan takut dianggap subjektif. Buah hidupmu akan menunjukkan kamu bertemu dengan siapa. Kalau hanya bertemu dengan doktrin, orang belum tentu berubah baik. Bisa ya, bisa tidak. Kalau hanya beragama, semua orang bisa. Tapi kalau kekristenan, harus nekat tapi Roh Kudus pasti pimpin. Sebab yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono