SURAT GEMBALA Surat Gembala
Spirit Penuai
27 January 2019

Saudaraku,
Penyesatan yang paling meluas atau masif dan sangat tersistimatis -karena sudah terformat dalam doktrin yang sudah disahkan banyak gereja- adalah memandang keselamatan dapat berlangsung dengan mudah dalam kehidupan manusia. Banyak orang berpikir bila setuju bahwa kematian Yesus di kayu salib adalah jalan keselamatan satu-satunya dan mengakui status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka ia sudah diselamatkan. Hal tersebut dipandang sebagai percaya kepada Yesus. Dan itulah yang dipandang sebagai iman. Padahal mengakui sejarah penyaliban dan mengakui status Yesus bukan berarti sudah percaya kepada-Nya.

Percaya berarti menyerahkan diri kepada obyek yang dipercayai. Hal ini sesuai dengan pengertian kata percaya dalam teks aslinya dalam bahasa Ibrani adalah aman, dalam bahasa Yunani pisteuo. Dua kata tersebut mengandung pengertian “penyerahan diri kepada obyek yang dipercaya”. Dalam hal ini percaya atau beriman bukan hanya menyangkut aspek pikiran dari pihak yang menyatakan diri percaya, tetapi relasi antara dua pihak; di mana pihak yang percaya memahami apa yang diinginkan pihak yang dipercaya untuk dilakukan.

Membangun relasi ini tidak mudah, sebab di dalam relasi ini terdapat tanggung jawab pihak yang orang percaya, yaitu mengerti kehendak dan rencana-Nya untuk dilakukan. Di sinilah terdapat tugas gereja sebagai penuai yang harus mengajarkan apa yang dikehendaki oleh Tuhan dan rencana yang harus digenapi dalam kehidupan setiap orang percaya. Kehendak dan rencana tersebut meliputi kehendak dan rencana Tuhan atas setiap individu serta kehendak dan rencana Allah atas Kerajaan-Nya secara universal. Kehendak dan rencana Allah atas individu adalah kesempurnaan karakter seperti yang diperagakan oleh Yesus, dan keterlibatan setiap orang percaya untuk menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan orang lain. Hal ini berarti membawa seseorang menjadi anggota gereja belumlah tuntas dalam proses penuaian.

Saudaraku,
Proses penuaian dikatakan tuntas kalau orang yang dituai menjadi manusia seperti yang diinginkan oleh Tuhan, yaitu sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus serta terlibat dalam kegiatan mengubah sesamanya menjadi seperti dirinya. Kalau digambarkan ikan, ikan yang dijala harus sampai di meja makan untuk dinikmati. Ibarat padi atau gandum, harus sampai di gudang dan selanjutnya menjadi roti di atas meja makan. Kalau hanya menjadikan seseorang sebagai anggota gereja, maka hal itu merupakan penyesatan dan pembodohan. Jemaat masih diparkir di dunia. Oleh sebab itu kita tidak boleh bangga hanya dengan jumlah anggota jemaat yang besar. Tetapi harus membawa mereka menjadi orang percaya yang dimateraikan dengan Roh Kudus (Ef. 1:13-14).

Bagaimana menjadikan orang percaya yang dimateraikan dengan Roh Kudus? Yaitu kalau mereka mendengar Firman kebenaran, yaitu Injil keselamatan. Kalau seseorang tidak mendengar Firman kebenaran dan Injil keselamatan, maka ia tidak pernah memiliki percaya yang benar. Injil yang benar diberitakan dengan mengandung konsekuensi, yaitu mengerti kehendak Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Ini bukan sekadar aktivitas pikiran. Banyak orang menyederhanakan Roma 10:10 Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.

Saudaraku,
Hati percaya bukan hanya sebuah aktivitas pikiran atau perasaan, tetapi sikap hati yang melahirkan tindakan, seperti iman yang diteladankan oleh Abraham. Itulah sebabnya dikatakan, dengan mengaku membuat seseorang selamat. Pengakuan mulut atau percaya di sini harus dihubungkan dengan konteks zaman, di mana kalau seseorang berani mengaku Yesus adalah Tuhan, maka penjara dan sengsara menanti mereka.
Injil yang benar adalah Injil yang diberitakan dengan konsekuensi. Kalau Injil diberitakan hanya menawarkan mukjizat, kesembuhan, berkat jasmani, kelimpahan duniawi, sukses karir di bumi, penyelesaian masalah, dan segala sesuatu yang tidak terkait dengan kesempurnaan karakter seperti Kristus, maka itu bukan Injil yang benar. Ditawarkan hanya membuat orang memiliki percaya yang murahan yang hanya membuat seseorang beragama Kristen. Tetapi Injil yang benar akan menuntut seseorang “melepaskan segala sesuatu” seperti yang dialami oleh Paulus agar memperoleh Kristus (Flp. 3:7-9).

Saudaraku,
Ini adalah pekerjaan berat. Kalau hanya membuat orang menjadi anggota gereja masih bukan pekerjaan yang berat, tetapi kalau sampai menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, maka ini adalah pekerjaan yang sangat berat. Mengubah manusia bukan hanya menjadikan mereka manusia yang baik, santun dan bermoral, tetapi mengubah manusia dari kodrat manusia atau kodrat dosa menjadi seorang yang berkodrat Ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Dari anak gampang yang sama dengan anak yang tidak sah menjadi anak yang sah atau menjadi pangeran.

Dari target yang harus dicapai dalam penuaian ini, maka kita dapat mempertimbangkan semangat atau gairah atau spirit yang bagaimana yang patut dimiliki penuai-penuai di akhir zaman ini. Terkait dengan hal ini Tuhan Yesus berkata bahwa seperti Bapa mengutus Tuhan Yesus, Tuhan Yesus mengutus orang percaya. Siapakah yang pantas menjadi utusan ini? Mereka yang mengenakan gaya hidup-Nya, yaitu mereka yang rela kehilangan segala hal. Semangat atau gairah atau spirit yang juga dimiliki oleh Tuhan Yesus. Dalam hal ini, tidak bisa tidak, gereja harus memiliki profil atau model manusia yang dapat dijadikan contoh sebagai manusia Allah (man of God), yang dijadikan teladan atau model dengan mana jemaat membangun dirinya.