SURAT GEMBALA Surat Gembala
Sikap Menghadapi Dunia Yang Sukar
06 January 2019

Saudaraku,
Ada pertanyaan yang harus kita jawab yaitu, mengapa kehadiran Tuhan Yesus di dunia ini tidak membenahi dunia supaya lebih baik? Mengapa justru menubuatkan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan manusia pada umumnya? Padahal manusia menghendaki agar hidupnya bahagia, memiliki damai sejahtera dan hidup dalam kemapanan.

Harus kita pahami bahwa Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa. Rasul Yohanes juga menegaskan bahwa janganlah kita mengasihi dunia dan isinya, karena jika demikian seseorang tidak akan mengasihi Bapa (1Yoh. 2:15). Percintaan dengan dunia berujung pada kebinasaan. Mencintai Tuhan tidak bisa secara instan, tetapi harus dilatih melalui segala peristiwa hidup. Oleh karena itu, Tuhan tidak tertarik membenahi dunia yang sudah rusak, tetapi Dia lebih tertarik membenahi karakter manusia yang sudah rusak. Mengapa demikian? Karena Ia sudah menyiapkan langit baru dan bumi yang baru, di mana orang percaya dipersiapkan untuk mengelolanya sebagaimana Allah memberi mandat kepada Adam ketika ia belum jatuh dalam dosa.

Saudaraku,
Sejak kecil cara berpikir kita telah dibentuk oleh lingkungan, bagaimana memiliki sebuah kehidupan yang mapan. Mapan artinya kokoh, tidak goyah, stabil dan selalu berkeadaan baik. Biasanya kemapanan diukur dari keahlian seseorang yang bisa menjadi modal untuk jabatan atau pekerjaan yang dimiliki untuk dapat memperoleh uang; atau bagi orang tua, untuk mempersiapkan warisan. Kemapanan lebih diteguhkan oleh prestasi mengumpulkan uang dan memiliki berbagai fasilitas. Lebih lengkap lagi kalau memiliki kekuasaan atau memiliki relasi dengan pejabat tinggi, untuk membuat hidup lebih aman, lebih terjamin.

Filosofi hidup seperti ini sudah mengakar di dalam diri semua kita. Filosofi seperti ini sebenarnya sudah menjadi belenggu dalam pikiran semua manusia; termasuk di dalamnya orang2 Kristen. Sehingga dalam stadium atau level tertentu -karena kurangnya pengajaran yang kita serap, kurangnya pergumulan dan pergaulan kita dengan Tuhan- kita tidak pernah memperkarakan bagaimana menyelenggarakan hidup seperti kehidupan Yesus.

Sejujurnya, seberapa banyakkah orang yang hidup dalam kemapanan? Atau bahagia? Kalau pun ada, seberapa mapan? Seberapa dalam dan lama kebahagian tersebut bisa ia nikmati? Sementara pada kenyataannya, dunia semakin rusak dan sukar; dan manusianya pun semakin jahat.

Saudaraku,
Memahami hal tersebut, bagaimana sikap kita seharusnya dalam menghadapi dunia yang sukar seperti sekarang ini? Ada dua hal penting yang harus kita pahami. Pertama, setiap orang harus berdamai dengan Tuhan. Jika seseorang sudah berdamai dengan Tuhan, sebesar apa pun kesukaran hidup yang dialami, maka tidak akan menggoyahkan cintanya kepada Tuhan. Oleh karena itu berdamai dengan Tuhan menjadi sangat penting. Orang percaya harus memiliki prinsip: “Tuhan, Engkaulah perhentianku, Engkaulah pelabuhan terakhirku”. Untuk memiliki prinsip seperti ini, orang percaya harus berlatih terus-menerus sampai benar-benar pada titik tidak bisa berpaling.

Kedua, Tuhan adalah Pribadi yang bertanggung jawab, dengan demikian hal itu yang Dia ajarkan kepada orang percaya. Setiap permasalahan hidup yang terjadi dalam diri seseorang maka harus dihadapi dengan tanggung jawab, bukan hanya dengan doa. Banyak orang salah memahami doa, doa dianggap sebagai cara mudah untuk memperoleh jaminan penyelesaian masalah hidup. Sejatinya, doa adalah dialog dengan Tuhan agar seseorang mampu memahami pikiran dan perasaan-Nya. Tuhan tidak berjanji menghindarkan manusia dari kesukaran, tetapi Ia berjanji memberi kekuatan untuk menghadapi segala kesukaran. Oleh karena itu temukan Tuhan dalam kesukaran hidup kita karena Dia-lah Pribadi yang akan kita temui di kekekalan kelak.