SURAT GEMBALA Surat Gembala
Sikap Dalam Menghadapi Masalah
18 September 2020

Saudaraku,

Manusia pada umumnya tidak mengerti realitas, terutama pada waktu tubuh sehat, segala sesuatu berjalan dengan baik dan nyaman. Namun, ketika keadaan makin sulit, masalah makin berat—apalagi jika menyangkut keselamatan nyawa—seseorang akan semakin menghayati realitas. Bayangkan, jika seseorang dijebloskan ke dalam penjara dengan hukuman 20-30 tahun atau hukuman seumur hidup, apalagi hukuman mati, ia baru bisa menghayati betapa dahsyatnya realitas ini. Sejatinya, waktu menghadap pengadilan Allah, orang akan lebih lagi menghayati realitas hidup.

Bersyukur, jika kita diberi Tuhan kesempatan untuk ada di “lembah kekelaman,” sehingga kita bisa menghayati betapa dahsyatnya realitas itu. Seperti COVID-19 yang sekarang ini sedang mewabah, dimana begitu mudah orang terpapar. Di saat-saat seperti itu, orang baru melihat dan mulai menghayati realitas. Atau pada waktu ada perang, ada bencana alam, tsunami, erupsi.

Padahal, COVID-19 dan segala bencana belum apa-apa dibanding dengan kekekalan. Kalau hanya sakit fisik lalu mati, itu hanya sementara. Tapi kalau sampai jiwanya sakit, karakternya sakit, rusak tidak bisa diperbaiki, lalu sampai menutup mata Tuhan berkata, “Aku tidak kenal kamu, enyah kamu!” baru itu sebuah penderitaan yang luar biasa.

Oleh sebab itu, dengan menghayati realitas ini, kita akan menghubungkan dengan Allah sebagai realitas. Allah itu tidak kelihatan, tetapi Allah itu realitas yang hidup, yang nyata. Senyata seperti dokter yang dapat memberikan kita nasihat medis, senyata orangtua yang dapat memberikan kita petunjuk, senyata seorang sahabat yang bisa mendampingi kita, demikianlah Allah adalah realitas.

Jangan menunggu terjadi kecelakaan, atau sakit yang tidak tersembuhkan, bahkan meninggal dunia, baru menyadari dahsyatnya realitas. Dengan mengatakan ini bukan membuat Saudara menjadi takut menghadapi hidup, melainkan saya mengajak Saudara untuk melekat kepada Tuhan, mencari Tuhan, dan berlindung kepada-Nya.

Semakin kita mau menghayati realitas Allah, semakin Ia menuntun kita ke dalam Kerajaan Surga. Masalahnya, mengalami realitas Allah itu bukan sesuatu yang mudah. Kenapa? Karena Allah tidak kelihatan. Dan Dia tidak murahan. Tuhan seperti tidak ada. Dan sering kita menghadapi keadaan-keadaan sulit yang membuat kita bertanya-tanya “Tuhan itu ada tidak?” Oleh sebab itu, kita harus belajar dari segala hal menghayati kehadiran Allah. Tidak ada acara lain kecuali selalu melibatkan Tuhan dalam segala hal yang kita putuskan, kita pikirkan, kita lakukan.

Jangan sombong! Jangan merasa sudah menjadi Kristen, mengaku sebagai anak Allah, lalu merasa sudah terjamin. Allah tidak akan menjamin orang yang hanya “merasa” sebagai anak-anak Allah tetapi tidak “hidup” sebagai anak-anak Allah. Merasa anak Allah tetapi hidup seperti anak dunia, bahkan berkelakuan seperti anak dunia. Kita harus merasa tidak berdaya dalam segala hal. Namun kita tidak takut menghadapi masalah. Sebab yang kita takuti hanyalah ketika kita bersikap tidak patut di hadapan Allah.

Sejatinya, tidak ada masalah besar yang membuat kita takut, sebaliknya, tidak ada masalah yang kecil yang boleh kita anggap remeh. Masalah besar atau kecil itu tergantung keterkaitannya dengan perasaan Allah. Artinya, masalah menjadi besar atau kecil tergantung respons kita terhadap masalah itu, yang ukurannya apakah respons kita menyakiti hati Allah atau tidak. Masalah sebesar apa pun, kalau kita hadapi dengan tidak melukai hati Allah, bukan menjadi masalah besar. Masalah sekecil apa pun tetapi kalau kita salah memperlakukannya, bisa menjadi masalah besar. Kalau kita membiasakan diri menghayati realitas Allah, akhirnya, kematian pun tidak akan menakutkan kita.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono