SURAT GEMBALA Surat Gembala
Rindu Pulang
30 October 2020

Saudaraku,

Kenyataan hidup yang kita jalani sering kali mengesankan atau menunjukkan bahwa Allah itu tidak ada. Allah tidak campur tangan di dalam hidup kita. Pada waktu ekonomi kita terpuruk, pada waktu kita ditindas, pada waktu kita diperlakukan tidak adil, pada waktu kita melewatkan hari-hari dalam kesendirian dan kesepian, dikesankan atau diisyaratkan bahwa Allah tidak ada; Allah tidak adil. Itu yang membuat kita bisa kehilangan arah, lalu lost contact, seperti seorang yang naik gunung lalu tidak tahu jalan setapak turun.

Tapi sebenarnya, justru dalam keadaan seperti itu kita belajar untuk mengerti jalan Allah yang benar-benar tersembunyi, jalan Allah yang misteri, yang tidak mudah dijajaki dengan pikiran manusia. Tetapi ketika kita sungguh-sungguh memperkarakan hidup kita di hadapan Allah dalam kondisi yang kita alami, yang mengesankan Allah tidak ada, kita akan menemukan rencana Allah, kehendak Allah, didikan Allah, nasihat Allah dalam pengalaman dan perjalanan hidup kita tersebut.

Kalau kita bisa menemukan itu, kita baru bisa seperti orang moving to the next level, bisa naik. Kita bisa memandang pengalaman hidup kita dari sudut yang belum pernah kita mengerti sebelumnya. Jadi seperti ada pintu yang terbuka, yang tadinya seakan-akan tidak ada lubang atau pintu di situ. Dan ternyata, itu pintu yang dibukakan Tuhan dan kita melihat peristiwa, pengalaman, kejadian dalam hidup kita dari sudut yang kita tidak pernah mengerti sebelumnya. Saya percaya Saudara yang sungguh-sungguh mau mencari Tuhan akan dibawa kepada keadaan itu.

Saya mengatakan ini tentu bukan sekadar teori. Saya sudah mengalami berulang-ulang kali. Berkali-kali saya menghadapi keadaan seperti itu. Keadaan dimana saya bisa menyimpulkan dengan pikiran manusia bahwa Allah tidak ada, tidak peduli akan hidup saya. Tidak jelas apa maksud-Nya. Tetapi ketika kita merendahkan hati, ada pintu yang dibuka, dan kita melihat dari sudut itu.

Ketika engkau terpuruk dalam usaha, dalam kesehatan, dalam banyak hal, kita mempertanyakan “mengapa begini” kepada Tuhan. Kalau saya tidak banyak dihajar Tuhan dengan pengalaman yang pahit, saya tidak ingin pulang ke surga. Kalau saya tidak ingin pulang ke surga, saya pasti jadi duniawi. Dan kalau saya duniawi, saya tidak akan menemukan kebenaran-kebenaran dahsyat dari Allah. Allah tahu bagaimana menyentuh kita untuk mengalami perubahan hidup.

Benih kerinduan untuk pulang itu harus ada. Kalau kita tidak lelah, kita tidak merindukan pulang. Kalau kita masih hidup, kita harus berbuah. Kalau boleh kita memiliki umur panjang, kita harus berbuah. Bukan hanya sekadar sehat dan bisa menikmati hari ke hari kehidupan di bumi, melainkan kita mau menyelesaikan pekerjaan yang belum kita selesaikan, yang menjadi bagian kita.

Keadaan Saudara hari ini, keadaan yang paling baik. Jangan Saudara menoleh ke belakang. Temukan maksud Tuhan di balik semua kejadian dan keadaan yang Saudara alami dan jalani hari ini. Keberadaan kita harus kita terima sebagai anugerah. Kalau Saudara seorang konglomerat atau Saudara memiliki rumah mewah, Anda belum tentu mendengar ini. Anda jadi tidak mengerti Firman, tidak memiliki dorongan untuk menjadi Yesus. Tidak akan mengerti sama sekali frekuensi untuk menyenangkan hati Allah. Sebab yang hanya adalah dorongan untuk memuaskan keinginan diri sendiri.

Menurut saya, dari apa yang saya rasakan, Tuhan sengaja menghambat kemajuan-kemajuan yang dulu saya mimpikan. Sebab kalau itu dibiarkan Tuhan, saya bisa terhilang. Ini kondisi yang baik untuk saya. Kenapa bisa begitu? Karena saya habisi untuk pelayanan. Saya tidak bertanggung jawab kepada manusia, saya bertanggung jawab kepada Allah yang hidup. Soal bertanggung jawab pada manusia itu jelas. Kalau saya bertanggung jawab dengan baik kepada Allah, pasti saya bertanggung jawab kepada manusia.

Kita tidak tahu sampai kapan dunia ini eksis seperti hari ini. Jadi, kita harus giat segiat-giatnya untuk merubah diri. Dan ingat rumusnya: Saudara tidak bisa mengubah orang lain sebelum Saudara mati. Kamu harus mati dulu, baru bisa mengubah orang lain. Saya bersyukur saya tidak sendiri, karena ada orang-orang yang bisa bersama berjuang sampai hari ini.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono