SURAT GEMBALA Surat Gembala
Prestasi Kekal
26 April 2020

Saudaraku,

Tentu sebagai orangtua, kita ingin melihat anak-anak sukses atau mengukir keberhasilan. Itulah sebabnya, orangtua akan berusaha dengan segala kekuatan dan daya untuk mengantar anak kepada keberhasilan atau kesuksesan. Demikian pula dengan Allah Bapa di surga; Ia ingin kita menjadi orang yang benar-benar berprestasi dengan prestasi yang bernilai kekal.

Kalau dikatakan “Yesus menjadi yang sulung,” jelas sekali maksudnya bahwa kita dimampukan untuk juga bisa berprestasi seperti Dia berprestasi. Itulah sebabnya kita memercayai bahwa Yesus memang dalam segala hal disamakan dengan kita. Dalam perjuangan yang berat untuk mencapai kesempurnaan, sehingga Ia menjadi Pokok Keselamatan. Ini yang memberikan kita motivasi kuat, agar kita optimis, kita bisa mencapai apa yang Yesus juga capai. Walaupun tentu dalam kadar yang tidak mungkin menyamai persis Tuhan kita, Yesus Kristus. Allah Bapa ingin kita mencapai prestasi, seperti prestasi yang dicapai oleh Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus.

Karenanya, Ia menyediakan alat-alat anugerah: Injil, kuasa Allah yang menyelamatkan; Roh Kudus yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran; dan Allah mendesain segala keadaan, supaya melalui semua kejadian yang kita alami kita bisa diubah. Di sini, kita melihat bahwa Allah tidak bertindak secara sepihak, tanpa peran dan respons manusia dalam membentuk manusia. Allah menyediakan “alat anugerah,” dan pasti konsekuen memenuhi bagian-Nya. Tetapi, manusia juga harus konsekuen memenuhi bagiannya.

Ketika kita ikut Tuhan Yesus, Bapa mau bawa kita ke standar Yesus. Itulah sebabnya orang percaya mengerti apa arti pembenaran. Karena orang percaya akan dibawa kepada ketepatan. Apakah berarti orang yang dosa-dosanya telah diangkat bisa dikatakan “dibenarkan?” Tidak. Karena pembenaran itu terkait dengan perubahan status yang harus disadari. Jadi, Allah Bapa menerima kita walaupun kondisi kita compang-camping/carut-marut. Oleh salib, kita dipertemukan. Kita dianggap benar walaupun belum benar. Kita menjadi anak, walaupun masih nothos, supaya kita didewasakan menjadi huios. Jadi, pembenaran itu bertalian dengan perubahan status. Pembenaran hanya berlaku bagi orang percaya, karena mengalami proses untuk bukan saja dianggap benar, melainkan menjadi benar-benar benar.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono