SURAT GEMBALA Surat Gembala
Pertimbangan Manusia
24 February 2019

Saudaraku,
Sangat sedikit orang yang menyadari betapa hebat menjadi makhluk yang disebut manusia, sebab hanya manusia mahluk hidup yang memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan sesuatu dalam keputusan dan tindakan-tindakannya. Itulah sebabnya keberadaan manusia seperti Penciptanya sendiri yang memiliki pikiran, perasaan dan kehendak. Dengan keberadaan yang luar biasa ini manusia diberi tanggung jawab untuk memikul semua perbuatan dari hasil pertimbangannya.

Tidak mungkin dengan keberadaan yang luar biasa ini manusia hidup di bawah hukum takdir, dimana manusia hanya menerima saja apa yang ditentukan baginya. Yang benar adalah manusia menentukan nasib atau keadaannya sendiri berdasarkan pertimbangannya. Jadi apa yang dimiliki dan dialami seseorang adalah buah dari pertimbangan hidup masing-masing individu. Inilah yang disebut dengan hukum tabur tuai. Dalam hal ini betapa dahsyatnya hukum tabur tuai itu, sebab semua yang dilakukan seseorang pasti akan dituainya (Gal. 6:7). Dan semua yang dilakukan seseorang itu hasil dari pertimbangannya. Dalam hal ini pertimbangan seseorang adalah motor dari semua tindakan seseorang.

Saudaraku,
Belajar dari kejatuhan Lusifer kita peroleh pelajaran yang mahal. Keadaan Lucifer yang jatuh adalah hasil dari pertimbangannya, bukan karena faktor di luar dirinya. Kejatuhannya berarti Lusifer memberontak kepada Allah dengan keinginannya untuk mendirikan tahktanya sendiri (Yes. 14:12-14). Demikian pula dengan keadaan Adam dan Hawa yang diusir keluar dari taman Eden, juga buah dari pertimbangannya (Kej. 3:1-7). Tentu saja Tuhan tidak menentukan atau mengupayakan kejatuhan Adam. Tuhan memberi peringatan kepada Adam untuk tidak makan buah yang dilarang untuk dikonsumsi; tetapi Adam sendiri yang harus menentukan apakah ia makan buah itu atau tidak.

Kitab Kejadian mencatat bagaimana Hawa bergumul sebelum memetik dan makan buah yang dilarang Tuhan tersebut. Ketika Hawa melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula menarik hati karena memberi pengertian, pertimbangan Hawa menjadi salah. Ia melupakan Firman Tuhan yang seharusnya dasar pertimbangan yang diajarkan oleh Tuhan bahwa pada hari mereka makan buah itu mereka akan mati.

Dengan demikian sangat jelaslah betapa besar peran pertimbangan seseorang dalam menentukan nasib atau takdirnya sendiri. Masa depan seseorang dan seluruh keberadaannya dalam hidupnya di kemudian hari ditentukan oleh ketepatan atau kecerdasan pertimbangannya. Banyak orang mengalami kesukaran-kesukaran hidup karena pertimbangannya yang salah. Kita harus jujur, bahwa keadaan kita yang buruk dan kegagalan-kegagalannya sering disebabkan oleh karena pertimbangan yang tidak tepat di masa lalu. Oleh sebab itu betapa pentingnya seseorang belajar kebenaran Firman Tuhan yang dapat mencerdaskan pikirannya sehingga dapat terhindarkan dari keputusan yang salah. Kebenaran Firman Tuhan juga memberikan kepekaan seseorang menangkap suara Tuhan melalui Roh-Nya.

Saudaraku,
Kalau akibat pertimbangan yang salah yang dilakukan seseorang hanya dituai dalam hidup selama di bumi ini, maka hal itu bukanlah masalah besar; sebab masa hidup seseorang tidaklah panjang. Tetapi kalau akibat pertimbangan yang salah harus ditanggung dalam kekekalan, maka hal ini menjadi masalah yang benar-benar mengerikan, sebab mereka tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Dalam Wahyu 20:12, tersurat bahwa setiap orang akan dihakimi menurut hukum yang dipahaminya. Kata “semua kitab” menunjukkan ukuran moral yang dipahami masing-masing bangsa atau sebuah masyarakat. Bila nama mereka tidak didapati di dalam Kitab Kehidupan, yang berarti mereka tidak taat kepada hukum, maka mereka akan dibuang ke dalam lautan api. Dengan demikian tidak seorang pun yang luput dari buah pertimbangan yang menghasilkan perbuatan yang telah dilakukannya.

Kalau kematian membuat manusia kehilangan kesadaran, maka manusia tidak perlu menjaga hidupnya atau berhati-hati dalam pertimbangan dan perbuatannya, sebab akhirnya mati dan semua kesadaran hilang. Dengan demikian orang bisa berbuat suka-sukanya sendiri. Tetapi ternyata ada kehidupan di balik kematian. Semua orang akan dibangkitkan, sebagian menerima hidup kekal dan sebagian menerima kehinaan kekal.

Saudaraku,
Oleh karena pertimbangan hidup kita menentukan nasib kekal kita, maka betapa harus benar dan tepat atau akuratnya pertimbangan kita. Pertimbangan hidup manusia sangat dipengaruhi oleh keluarga, pendidikan, pergaulan, gereja dan segala sesuatu yana memengaruhinya. Itulah sebabnya kesempatan yang ada harus digunakan untuk memenuhi pikiran dengan kebenaran agar pertimbangan kita tidak berdasarkan cara berpikir manusia di sekitar kita.

Oleh sebab itu seseorang harus mengerti kebenaran serta melakukannya. Supaya waktu yang ada digunakan untuk membawa diri kita kepada kebenaran Tuhan. Kenyataan yang kita lihat adalah waktu yang ada digunakan untuk membawa manusia kepada berbagai hal yang tidak membawanya kepada kebenaran Allah. Banyak waktu yang digunakan untuk sekadar mengumpulkan harta, meraih cita-cita duniawi; waktu digunakan untuk memuaskan hasrat daging dan berbagai kesenangan, seolah-olah hidup ini adalah kesempatan sekali-kalinya bagi manusia. Ia lupa bahwa hidup ini sekarang barulah permulaan dari sebuah kesadaran abadi. Di balik kehidupan hari ini masih ada kehidupan kekal yang Allah sediakan. Orang yang tidak mengerti kebenaran, pertimbangannya tidak membawa kepada kehidupan kekal bersama Tuhan, tetapi mengarah ke api kekal, terbuang dari hadirat Allah. Orang yang pertimbangannya berdasarkan filosofi manusia, membinasakan dirinya sendiri di kekekalan.