SURAT GEMBALA Surat Gembala
Penyerahan Diri yang Benar
04 December 2020

Saudaraku,

 

Ada satu rahasia kehidupan yang harus Saudara pahami. Keberanian kita menyongsong keadaan hari esok yang tidak menentu sangat dipengaruhi atau terkait dengan penyerahan hidup kita kepada Tuhan. Kita tidak bisa mengatakan kepada seseorang, “jangan takut menghadapi hari esok,” kalau orang tersebut tidak memiliki penyerahan yang benar kepada Tuhan, sebab ia tidak mungkin memiliki keberanian yang utuh.

Kalaupun memiliki semacam keberanian, biasanya palsu. Maksudnya, ketika belum menghadapi pergumulan, persoalan, bahaya ancaman di depan mata, dia berkata “aku percaya, aku tidak takut.” Tetapi ketika dia ada di dalam situasi bahaya, situasi yang mengancam hidupnya baru dia tahu bahwa keyakinan dirinya bahwa ia tidak takut akan bahaya dan ancaman ternyata tidak cukup menopang hidupnya.

Ini sebenarnya paralel dengan keadaan ketika seseorang ada di hadapan pengadilan Tuhan. Orang bisa berkata, “Aku percaya Tuhan selamatkan aku; aku percaya nanti masuk surga; aku percaya nanti Tuhan menjemput saya di ujung maut,” tapi ketika dia ada di ujung maut, apalagi di hadapan pengadilan Tuhan, kepercayaan atau keyakinan itu tidak cukup bisa menopang dirinya; kecuali kita memiliki penyerahan yang benar kepada Tuhan.

Bicara soal penyerahan, kita harus mengerti dengan tepat. Penyerahan bukan hanya kesediaan kita menyerahkan persoalan hidup kita kepada Tuhan dan memercayai pertolongan-Nya. Kalau itu, mudah. Dan itu sangat mungkin dilakukan oleh orang-orang yang oportunis; dimana mereka memercayai Tuhan akan menyertai dan menolong. Penyerahan yang saya maksud adalah ketika kita memilih Kerajaan-Nya; kita tidak memilih dunia sama sekali. Dan ini akan membuat Saudara menjadi orang yang sangat kokoh dan teguh.

Saya merenungkan bagaimana orang-orang Kristen yang begitu berani menghadapi penganiayaan pada abad mula-mula. Dia tidak takut menghadapi apa pun. Dunia kita ini dunia yang tidak menjanjikan. Banyak orang jahat, banyak orang mengupayakan ketidakstabilan. Mengupayakan keadaan yang tidak terang-terangan teror, tapi secara batin membuat orang merasa terancam. Dunia kita ini dunia yang mengancam. Apalagi ada kekuatan orang yang memiliki uang yang bisa membuat ketidakstabilan dalam masyarakat karena ada maksud-maksud tertentu, sementara ada orang yang bisa dipakai menjadi alat.

Penyerahan hidup yang benar adalah ketika kita memilih Kerajaan Surga. Seluruh interest kita harus kita serahkan ke Kerajaan Surga. Saya tahu hal ini dan saya mengerti, betapa sulitnya menyeberangkan ini. Tapi kalau Saudara tidak mulai berlatih dari sekarang, tidak bisa. Bagaimana hati kita diseberangkan, perlu perjuangan. Jadi, saya minta kepada semua kita, ayo kita memindahkan hati. Nanti getar suara kita waktu berdoa dan menyembah Tuhan pasti beda. Itu penyerahan yang benar. Kalau sudah begitu, Saudara tidak perlu menguat-nguatkan diri, karena Saudara akan berani dengan sendirinya dalam menghadapi segala keadaan.

Saya mengajak Saudara untuk meminta Tuhan memberi petunjuk bagaimana ikut Tuhan Yesus, dan bagaimana supaya bisa memiliki gairah seperti gairah yang dimiliki oleh murid-murid Yesus mula-mula, yang kemudian mereka lulus. Matinya disalib dengan kepala di bawah, digoreng di belanga panas, dipancung, dimakan binatang buas, itu kelulusan mereka. Kita tidak mengalami penderitaan fisik tapi pasti ada penderitaan, paling tidak penderitaan batin. Tapi itu pun menjadi kenikmatan atau keindahan.

Saudara yang belum sungguh-sungguh, ayo kita mulai sungguh-sungguh ikut Tuhan. Kalau tidak, rugi jadi orang Kristen yang punya anugerah. Anugerah itu paket. Satu, pendewasaan atau penyempurnaan untuk serupa dengan Yesus. Kedua, salib. “Pikul kuk yang Kupasang,” kuk itu pembentukan supaya tidak liar; yang kedua, kuk itu perhambaan atau salib. Kalau sudah sampai tingkat salib seperti ini, Saudara tidak perlu mengatakan “jangan takut menghadapi ini dan itu,” sebab Anda sudah berani dengan sendirinya.

Makanya lebih baik kita marah kepada diri kita sendiri sekarang, daripada nanti. Kita takut akan Allah sekarang ini, supaya nanti di hadapan Dia kita tidak takut lagi. Orang yang selama menumpang di dunia merasakan “ketakutan dan kegentaran” akan Allah, maka ketika bertemu dengan Tuhan Yesus sudah tidak takut, bahkan merindukan. Coba Saudara tanyakan kepada dirimu sendiri apakah Saudara merindukan Tuhan? Makin hari, kita makin tidak terdistorsi. Memang pencobaannya juga makin banyak, tapi kita akan makin kokoh untuk tidak terdistorsi.

Jadi, persiapan yang harus kita miliki untuk menyogsong kematian kita dan pengadilan Tuhan adalah memilih Kerajaan-Nya. Dan kalau kita memilih Kerajaan-Nya, itu berarti penyerahan dan ditandai tidak memiliki kepentingan apa pun untuk diri sendiri selain kepentingan Kerajaan Surga, yaitu bagaimana menyenangkan hati Bapa. Orang-orang seperti ini baru bisa tahan berdiri di hadapan Anak Manusia. Itulah sebabnya, orang-orang seperti ini tidak takut menghadapi kematian.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono