SURAT GEMBALA Surat Gembala
Penuai
13 January 2019

Saudaraku,
Catatan penting yang harus diperhatikan terkait dengan penuai adalah bahwa setiap orang percaya harus menjadi pelayan Tuhan. Itu berarti semua orang percaya harus menjadi penuai. Itulah sebabnya Tuhan memberikan kepada gereja-Nya orang-orang yang memegang jawatan tertentu di dalam jemaat untuk melengkapi setiap anggota menjadi pelayan Tuhan. Dalam Efesus 4:11-13 tertulis: Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Dari ayat-ayat ini, sangatlah jelas bahwa setiap orang percaya adalah hamba Tuhan yang harus menjadi penuai.

Banyak orang berpikir bahwa kegiatan yang tidak bersangkut paut dengan program kegiatan gereja bukanlah pelayanan. Sebagai akibatnya terdapat beberapa sikap yang salah dalam lingkungan gereja, sikap itu antara lain:
• Pendirian bahwa hanya orang yang disahkan oleh sinode sebagai pejabat gereja yang dipandang dapat menjadi pelayan Tuhan dan melayani pekerjaan-Nya.
Dengan konsep ini banyak orang Kristen yang tidak mengenal identitas dan statusnya di hadapan Tuhan yang menebusnya, yaitu identitas dan statusnya sebagai “hamba Tuhan”. Seharusnya setiap orang yang telah ditebus oleh darah Yesus, harus menyadari bahwa mereka bukan lagi milik mereka sendiri (1Kor. 6:19-20), bahwa mereka telah dimerdekakan dari perbudakan dosa sebagai hamba dosa dan sekarang menjadi hamba Tuhan.
• Bahwa mereka telah dientaskan dari perbudakan dosa sebagai hamba dosa dan sekarang menjadi hamba Tuhan.
• Lalu terdapat pemikiran bahwa anggota jemaat biasa yang tidak memiliki jabatan gerejani tidak merasa perlu melayani atau terlibat dalam aktivitas Kerajaan Surga di atas muka bumi.

Saudaraku,
Alkitab mengatakan bahwa semua orang yang yang ditebus oleh darah Tuhan Yesus bukan milik mereka sendiri tetapi telah menjadi milik Tuhan. Mereka harus hidup untuk kemuliaan Tuhan. Mereka yang telah menerima korban Tuhan Yesus telah mati bagi dirinya sendiri, tetapi hidup bagi kepentingan Tuhan (2Kor. 5:14-15). Ini berarti setiap anak Tuhan adalah hamba Tuhan, setiap orang yang telah ditebus oleh darah Yesus adalah pelayan-pelayan-Nya. Panggilan menjadi pelayan Tuhan datang dari Tuhan, bukan gereja atau manusia (Yoh. 15:16-17).

Tapi mengapa banyak orang Kristen tidak berani berkata bahwa dirinya adalah hamba Tuhan yang statusnya full timer bagi Tuhan? Ada beberapa penyebabnya, yaitu:
Pertama, konsep yang salah mengenai pelayanan. Pelayanan selalu dikaitkan dengan kegiatan di lingkungan gereja. Padahal tanpa dukungan kaum di luar gereja, gereja lumpuh tidak dapat berbuat apa-apa. Harus diingat bahwa banyak anggota, tetapi satu tubuh (1Kor. 12:12-31). Masing-masing anggota memiliki panggilan khusus. Profesi yang disandang seseorang juga adalah jabatan rohani untuk mendukung rencana penyelamatan dunia.

Kedua, ketidaksediaan mempersembahkan segenap hidup bagi Tuhan. Hal ini terjadi sebab berkeberatan menjadi seperti anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Pribadinya masih egois. Ia hanya melihat kepentingan dirinya, keluarga dan orang-orang yang dianggap sebagai sesamanya. Orang-orang seperti akan merasa tidak aman kalau masuk dalam pelayanan. Ia merasa hidupnya akan terganggu. Ia merasa perjuangannya mencapai semua keberhasilan itu hanya pantas untuk dirinya sendiri.

Ketiga, ketidaksediaan meninggalkan kesenangan dunia termasuk praktik dosa dalam kehidupannya setiap hari. Menunggu hidup suci atau tidak melakukan praktik dosa kemudian baru mau melayani Tuhan, hampir pasti tidak pernah terjadi. Mestinya saat ini kita bertobat dan mengambil keputusan untuk sepenuh hati melayani Dia. Kalau tidak, maka kesempatan akan hilang sama sekali. Biasanya seseorang yang menolak mempersembahkan hidup bagi Tuhan bukan menolak mengabdikan hidupnya bagi Tuhan sama sekali, tetapi hanya menundanya. Berhubung ia merasa bahwa hidupnya belum bersih, banyak dosa dan kelemahan. Ia merasa tidak layak mengambil bagian dalam pelayanan, kemudian menunda apa yang seharusnya tidak ditunda.