SURAT GEMBALA Surat Gembala
Pengkhianat
14 April 2019

Saudaraku,
Memang tidak akan ada orang yang mau berkhianat kepada Tuhan Yesus seperti Yudas. Tapi Yudas pun tidak pernah merancang suatu hari ia akan terbuang dan dicap sebagai pengkhianat, tapi keputusan dan pilihan-pilihan hidupnya telah menggiringnya menjadi seorang pengkhianat (Mat. 26:14; Mar. 14:10; Luk. 22:4). Yudas tidak mengasihi Tuhan Yesus dengan pantas. Yudas berada di dekat Tuhan Yesus untuk kepentingannya sendiri.  Yudas cinta uang dan Yudas mencuri uang dari kas yang dipegangnya. Uang menjadi berhala bagi Yudas.

Jangan Saudara merasa bahwa karena Saudara sudah ke gereja, maka Saudara bukan pengkhianat kepada Tuhan. Ibarat suami dikatakan berkhianat kepada istri bukan karena tidak pulang ke rumah; meskipun dia pulang ke rumah, tetapi bila hatinya melekat kepada wanita lain, itu namanya berkhianat. Begitu pula ketika istri dikatakan tidak berkhianat bukan karena dia tidak pulang ke rumah; sekalipun dia pulang ke rumah, tapi ketika ia tidak mencintai suaminya sebagaimana mestinya, maka dia berkhianat.

Saudaraku,
Pada perjamuan terakhir, ketika Yesus mengatakan bahwa pengkhianat-Nya duduk semeja dengan Dia, kita tidak mendapati para rasul langsung berbalik memandang Yudas sebagai orang yang jelas berwatak pengkhianat. Kita tidak tahu dengan pasti gambaran tentang Yudas, baik fisik maupun kepribadiannya. Tetapi di samping semua yang tidak kita tahu tentang Yudas, ada satu hal yang kita tahu pasti: ia tidak ada hubungan dengan sang Guru. Ia sudah melihat Yesus, tetapi ia tidak mengenal Dia. Ia sudah mendengar Yesus, tetapi ia tidak mengerti Dia. Ia punya agama, tetapi tidak punya hubungan. Maka ketika Iblis mencari seseorang untuk mengkhianati Yesus, Yudaslah orangnya. Yudas memakai mantel agama, tetapi tidak pernah mengenal hati Kristus.

Dari pelajaran penting ini, kita mendapat pelajaran bahwa sarana penghancuran Iblis yang terbaik tidak terdapat di luar gereja, tetapi di dalam gereja. Sebuah gereja mati karena kerusakan internal dari mereka yang memakai nama Yesus, tetapi tidak pernah bertemu dengan Dia dan dari mereka yang mempunyai agama, tetapi tidak punya hubungan dengan Yesus.

Saudaraku,
Untuk itu mari kita pelajari kehidupan Yudas agar kita dapat memetik pelajaran mahal dari perjalanan hidupnya. Yudas adalah salah satu dari ke-12 murid Tuhan Yesus yang ditunjuk langsung oleh Tuhan Yesus (Mat. 10:4; Mar. 3:19; Luk. 16:16) dan Tuhan Yesus pasti tidak merancang Yudas untuk menjadi pengkhianat pada akhir pengiringannya. Bahkan bukan tidak mungkin kalau Yudas termasuk di antara ke70 orang murid yang diutus ke kota-kota untuk melakukan perkara-perkara ajaib dan mukjizat. Pengkhianatan Yudas sebenarnya dimulai dari kebiasaannya mengambil uang kas yang dipercayakan kepadanya (Yoh. 12:6).
Sudah menjadi hukum kehidupan bahwa seseorang tidak bisa menjadi baik mendadak atau pun menjadi jahat mendadak. Semua perlu proses. “Kebiasaan-kebiasaan kecil” ini membuka peluang bagi Iblis untuk masuk dalam kehidupannya, sehingga ia menjadi pengkhianat yang permanen. Iblis tidak akan masuk dalam kehidupan seseorang kalau tidak diberi peluang atau kesempatan (Ef. 4:27). Alkitab menulis dalam Lukas 22:3 dan Yohanes 13:27 bahwa Yudas dimasuki oleh Iblis. Perjalanan hidup Yudas dengan pilihan-pilihannya membawa Yudas kepada pengkhianatan.

Saudaraku,
Lalu apa kriteria orang yang pantas dicap sebagai seorang pengkhianat? Kalau kita berpendapat bahwa orang yang tidak berkhianat adalah orang yang setia ke gereja, setia melayani, setia kepada pasangan, setia kepada pekerjaan, maka hal-hal itu tidak menjamin. Jadi, jangan kita cepat berpuas diri dan menganggap diri bukan seorang pengkhianat. Menjawab pertanyaan di atas, maka yang dimaksud dengan pengkhianat bagi Tuhan adalah orang yang tidak mencintai Tuhan sebagaimana seharusnya ia mencintai Tuhan.

Jadi, berkhianat kepada Tuhan adalah tidak mengasihi Tuhan sebagaimana mestinya. Dan ukurannya ditentukan oleh sikap hati kita dalam mengasihi Tuhan. Memang berat, tetapi tidak ada pilihan lain di dalam kehidupan orang percaya. Tuhan mengajarkan kepada kita bahwa hubungan antara umat dengan Tuhan Yesus Kristus itu adalah hubungan mempelai, yaitu suatu hubungan yang sungguh-sungguh intim, istimewa, eksklusif, dan merupakan kehormatan yang luar biasa jika kita boleh memiliki hubungan seperti itu.

Saudaraku,
Kurang mencintai Tuhan berarti berkhianat. Oleh sebab itu, hal itu harus dimulai dari sikap hati kita yang tulus. Kita harus berani menggores hati kita untuk mencintai Tuhan. Hal ini harus kita lakukan dengan penuh kesadaran, sengaja, perencanaan, ketekunan dan berkesinambungan; yang artinya kita harus memperbaharui cinta kita kepada Tuhan setiap saat, agar cinta kita tetap membara dan terus membara sampai pada titik tidak balik -point of no return. Tuhan dalam kesabaran-NYA memberikan kesempatan bagi para pengkhianat untuk merubah diri guna menyadari pengkhianatannya dan meminta pengampunan. Jangan main-main dengan hal ini. Renungkan kembali berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia yang kita gunakan yang tidak membangun iman yang murni dan kecintaan kita kepada Tuhan Yesus!

Memang kita pasti tidak dengan sengaja mau berkhianat kepada Tuhan Yesus, tetapi keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan hidup kita mungkin telah terkondisi menjadikan kita sebagai seorang pengkhianat. Maka kita harus memperkarakan hal ini di hadapan Tuhan. Jangan sampai kita menukar Tuhan dengan 30 keping perak atau dengan kesenangan-kesenangan sementara yang tidak membawa kita kepada keselamatan abadi.

Kita bernilai dan berharga, bukan karena pada dasarnya kita berharga, tapi karena Yesus yang memiliki dan memakai hidup kita, maka kita menjadi berharga. Kehidupan Yudas menjadi tidak berharga karena dia memberikan dirinya dipakai oleh Iblis, sedangkan kehidupan Petrus, Yohanes, Yakobus dan murid-murid yang lain berharga karena mereka dipakai oleh Tuhan. Maukah kita memiliki sebuah kehidupan yang berharga? Serahkanlah dirimu untuk dipakai oleh Tuhan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono