SURAT GEMBALA Surat Gembala
Pemberesan Karakter Dosa
22 January 2021

Saudaraku,

Ketika kita bertekad mau hidup kudus, sebenarnya kita memisahkan antara tekad dan keadaan kita yang sebenarnya yang tidak sesuai dengan tekad kita itu. Tetapi itulah yang juga ternyata dialami oleh Paulus, “Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku” (Rm. 7:21). Di tengah-tengah keadaan yang terpuruk atau masalah yang tak kunjung selesai, saya mengajak Saudara-Saudara untuk hidup kudus, hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Roh Kudus pasti akan menolong untuk menuntun kita bagaimana hidup yang sesuai kehendak-Nya. Yang penting, miliki komitmen dan tekad dulu untuk hidup kudus guna bisa menyenangkan hati Allah. Jangan lagi menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai segalanya dalam hidup. Sebaik apa pun pasangan hidupmu, sesempurna apa pun keluargamu, jangan jadikan itu segalanya. Sebab, bagaimana pun manusia suatu hari akan meninggalkan kita; kematian akan memisahkan. Sejatinya, yang menjadi segalanya bagi kita adalah Tuhan, Dialah hidup kita.

Maka, jangan sampai kerinduanmu untuk memiliki keadaan nyaman melebihi kerinduanmu hidup kudus guna menyenangkan hati Allah. Kalau Saudara merindukan sesuatu lebih dari menyenangkan hati Allah, itu sudah berhala. Bagaimana dalam segala hal yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Menjadi anak Allah yang menyukakan hati-Nya, itu nilai lebih dari segala nilai. Saya sendiri merindukan hal ini. Begitu banyak beban, tanggung jawab, persoalan yang saya pikul. Tetapi semua itu tidak boleh melampaui kerinduan kita untuk hidup kudus dan menyenangkan hati Bapa. Kalau tidak ada kerinduan seperti itu, celaka. Itu kecelakaan. Berarti Saudara tidak mengasihi Tuhan, dan Firman Tuhan mengatakan “terkutuklah orang yang tidak mencintai Tuhan; terkutuklah orang yang tidak mengasihi Allah” (1Kor. 16:22).

Ketika kita menjadi orang yang merindukan hidup kudus guna menyenangkan hati Allah, kita menjadi kekasih Allah. Saudara tidak perlu minta pertolongan dan pembelaan dari Allah, sebab Tuhan sendiri akan menolong dan membela Saudara. Tapi kalau Saudara tidak hidup menyenangkan hati Bapa, biarpun didoakan pendeta sehebat apa pun, tidak akan berdampak secara signifikan, secara berarti dalam hidup Saudara. Bangkitkan hati yang mengasihi Allah, bangkitkan kerinduan untuk hidup kudus di tengah-tengah dunia kita hari ini yang tidak peduli dengan kekudusan Allah. Bahkan tidak sedikit orang yang mendengar kata “kekudusan Allah” sudah resisten atau menolak, dan berpikir hal itu tidak mungkin bisa dijangkau atau dicapai. Padahal, Allah sendiri yang berbicara dalam 1 Petrus 1:16, “kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Jadi, jangan menganggap Allah sebagai pembohong atau penipu dengan memberikan perintah yang kita tidak bisa lakukan. Itu pikiran yang jahat dan salah. Menuduh Allah sebagai kejam dan bengis, memberi perintah yang tidak bisa dilakukan.

Jadi, kita harus melihat masalah dosa dari perspektif yang benar. Dosa yang sudah kita lakukan telah selesai oleh salib, tetapi yang tidak atau belum selesai di hati kita adalah karakter dosa—apakah itu kebengisan, dendam, kebencian, suatu niat yang tidak tepat, tidak bisa mengampuni, masih mau mencari pujian dan sanjungan. Itu karakter dosa. Tentu saja sikap hati atau kodrat dosa yang tidak dibereskan akan melahirkan dosa-dosa. Orang bisa tidak membunuh, tidak berzina secara pandang mata manusia, tapi hatinya bisa benci, dendam, materialistis, zina, dll. Kalau kita berkata “kurindu hidup kudus,” artinya kita tidak membuka peluang dan tidak memiliki niat sekecil apa pun yang tidak sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Itu maksudnya. Allah Bapa melihat ini. Jadi apa yang kita lakukan, telah selesai di kayu salib. Jangan lalu berkata: “kalau begitu kita berbuat dosa saja.” Paulus mengatakan kita telah dibebaskan dari dosa supaya kita tidak berbuat dosa lagi. Tapi ada karakter dosa yang harus kita selesaikan. Maka, kita harus memiliki kerinduan untuk benar-benar hidup kudus.

Hidup kudus itu bukan hanya berarti tidak melakukan kesalahan, melainkan memiliki sikap hati yang lurus dan benar. Misalnya, kalau Saudara tinggal dengan orang yang menyakitkan hati dan merendahkan, kita tergoda untuk menyimpan dendam dan menikmati dendam atau kebencian itu. Kalau kita mau hidup kudus, kita harus menyelesaikan dalam hati kita. Yang diselesaikan bukan acting-nya atau bagaimana kita bersikap yang seakan-akan kita sopan, sabar, baik. Bukan! Ingat, dosa itu bukan hanya sesuatu yang sudah diwujudkan; bukan hanya sesuatu yang sudah dinyatakan dalam tindakan konkret yang bisa dilihat, didengar, dan tentu dirasa orang, tetapi niat kita yang tidak benar itu pun sudah memenuhi kriteria atau bentuk dosa di hadapan Allah. Makanya kita harus berjuang membereskan hati kita.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono