SURAT GEMBALA Surat Gembala
PELUANG UNTUK BERBUAT DOSA
18 November 2018

Saudaraku,
Istilah baptis pertama kali muncul ketika Naaman menyelam di sungai Yordan, dengan menggunakan kata taval, dari bahasa Ibrani yang memiliki arti diselam atau dicelup (2Raj. 5:14). Bagi bangsa Yahudi, baptis adalah upacara untuk menandai masuknya bangsa non Yahudi ke dalam bagian agama Yahudi, yang dikenal dengan istilah proselit. Mereka harus disunat, dan menjalankan Taurat dan berkorban untuk Yahweh. Pada prinsipnya, baptisan adalah sebuah komitmen untuk memasuki gaya hidup yang baru. Baptisan ini dilakukan sampai pada zaman Yohanes Pembaptis, tetapi sangat disayangkan jika ternyata bangsa Yahudi sendiri telah bergeser dari makna baptis itu sendiri, dimana mereka terjebak kepada seremonial ibadah saja. Oleh karena itu sangatlah beralasan jika Yohanes pembaptis berkata, “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan” (Mat. 3:6).

Tuhan Yesus tidak pernah membaptis, hanya murid-murid-Nya saja yang melakukan, dan itu pun masih sama dengan baptisan Yohanes, yaitu baptisan pertobatan (Yoh. 4:2). Setelah kebangkitan-Nya barulah Ia memberikan penegasan bahwa baptis harus dilakukan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Baptisan dalam Kekristenan melambangkan kematian. Seorang yang memberi diri dibaptis sama artinya bahwa dirinya telah mati dari gaya hidup anak dunia dan hidup baru dengan mengenakan gaya hidup Kristus. Kepercayaan terhadap baptisan dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, harus disertai dengan kesediaan untuk hidup sebagai warga Kerajaan Surga di mana kehendak Allah sebagai hukumnya.

Saudaraku,
Kerelaan Tuhan Yesus untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis merupakan wujud bahwa Diri-Nya taat terhadap hukum agama, dan hal itu juga harus dilewati oleh setiap orang percaya. Tetapi harus dipahami bahwa standar hidup orang percaya adalah sempurna, artinya mampu hidup sesuai dengan kehendak Bapa seperti yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Peluang dosa adalah sarana bagi kita untuk menunjukkan bahwa kita adalah orang yang sudah mati dari dosa. Tuhan Yesus telah menunjukkan kemenangan-Nya dalam melawan kehendak dosa (1Ptr. 2:22). Kemenangan Tuhan Yesus bukanlah sebuah sandiwara yang diatur oleh sebuah skenario yang diakhiri dengan happy ending, tetapi benar-benar sebuah usaha dan kerja keras yang Ia lakukan. Kematian-Nya terhadap dosa dan kebangkitan dari maut telah mengantarkan Ia untuk kembali menduduki takhta-Nya dan memerintah jagad raya yang telah Ia ciptakan (Rm.6:10, Flp. 2:11). Oleh karena itu, sangat berdasar jika Dia berkata, “Barangsiapa menang ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersamasama dengan Bapa-Ku di atas takhta- Nya.” (Why. 3:21).

Setiap kita, pasti memiliki peluang untuk berdosa, yaitu tidak melakukan kehendak Bapa. Tuhan Yesus pun memiliki peluang yang sama dengan kita, tetapi Ia memilih untuk tidak berdosa. Ia telah membuktikannya dalam kematian- Nya. Inilah titik di mana Ia tidak bisa balik sebagai manusia lagi (point of no return). Dari apa yang Tuhan Yesus telah lakukan, dapat kita ambil pelajaran yang sangat berharga, yaitu bahwa hanya satu target hidup yaitu melakukan kehendak Bapa, bukan sekadar melakukan hukum dan perintah Tuhan saja. Melihat betapa agungnya kemuliaan yang hendak Tuhan berikan di balik kematian terhadap dosa, maka setiap peluang dosa yang datang hendaknya kita jadikan kesempatan emas untuk meraih janji-janji Tuhan, yaitu memerintah bersama Dia di kekekalan.

Salam dan doa,
Erastus Sabdono