SURAT GEMBALA Surat Gembala
ORKESTRA HIDUP (2)
10 May 2020

Saudaraku,

Menyembah Allah bukan melalui syair lagu, melainkan tindakan. Jika tidak, Saudara malah menipu diri sendiri. Menyembah itu sikap hidup di sepanjang hari. Lebih baik satu orang yang sikap hidupnya seperti orkestra yang indah, daripada 1000 orang dalam liturgi.

Sejatinya, gereja itu bukan rumah ibadah, melainkan rumah pertemuan. Dan ibadah kita yang sesungguhnya itu waktu kita berada di rumah, kantor, di pekerjaan, dalam pergaulan; di sepanjang hari. Setiap kita bangun tidur di pagi hari, berarti kita punya kesempatan di hari itu untuk menjadi orkestra yang indah bagi Tuhan. Dan itu menjadi kesukaan kita satu-satunya, menyenangkan hati Bapa.

Yang bisa menyenangkan hati Bapa itu kualitas hidup seperti Tuhan Yesus. Kita tidak mencuri bukan karena tidak memiliki kesempatan untuk mencuri, kita tidak membalas dendam bukan karena kita tidak sanggup, kita tidak berzina bukan karena tidak ada kesempatan berzina atau takut malu. Memang, kita masih memiliki niat-niat itu. Itu tidak bisa dibunuh dengan mudah.

Maka, Tuhan masih beri kesempatan kita untuk mencuri, membalas dendam, membenci, membicarakan orang, berzina, dsb. Mengapa? Pertama, supaya kita kenal bahwa dalam diri kita masih ada kodrat dosa. Kedua, supaya kita membunuh kodrat itu. Kesempatan ada, namun kita berkata “tidak.” Kesempatan ada lagi, kita tetap berkata “tidak.” Di situ kita membunuh kodrat dosa, baru kita bisa mengalami kelahiran baru, menjadi ciptaan baru.

Anugerah harus kita terima dengan tanggung jawab. Ibarat stem gitar, bagaimana kita secara permanen tidak perlu distem lagi, tapi tetap stabil. Itu yang benar. Sebab, suci itu bukan tidak berbuat dosa, melainkan tidak bisa berbuat dosa. Permanen. Jadi, ibadah kita makin berkualitas, seiring dengan manusia batiniah kita yang diubah, di mana kodrat dosa dimatikan dan kodrat ilahi kita kenakan. Makin tua, makin tidak bisa dididik karena makin liat dan makin tidak lentur. Kalau kita masih punya kelenturan, mari kita berubah. Sehingga ibadah kita berkualitas. Ibadah bertalian dengan karakter, tidak hanya bertalian dengan nyanyian.

 

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono