SURAT GEMBALA Surat Gembala
OPTIMISME 2
09 August 2020

Saudaraku,

Jika orang masih berharap dunia membahagiakan, maka dia tidak bisa memenuhi firman yang mengatakan “baik kau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Pasti akhirnya yang kita lakukan untuk kesenangan kita sendiri. Uang, mobil, rumah, perhiasan bertambah-tambah. Bukan tidak boleh memiliki semua itu, tetapi kalau Saudara merasa berhak memiliki hidupmu dan Saudara merasa bahagia atas fasilitas itu, Saudara berkhianat kepada Tuhan.

Orang seperti ini pasti takut mati. Kalaupun ia berani mati dan berkeyakinan masuk surga, tapi ia tidak memiliki sukacita untuk pulang ke surga. Surga baginya merupakan tempat pembuangan yang nyaman. Tapi bagi orang percaya yang benar, surga adalah tujuan, kerinduan, harapan, obsesi yang mencengkeram hatinya.

Mari kita merubah pola hidup kita. Kita jadi merdeka. Saya mengatakan ini bukan berarti saya sudah sempurna atau sudah lulus. Belum, tapi terus belajar supaya di sisa umur hidup ini kita terus digarap Tuhan, dan kita memberi diri digarap oleh Tuhan, sampai kita menjadi manusia seperti yang Allah kehendaki. Maka kita tidak boleh berharap dunia membahagiakan.

Di dunia ini, kita adalah musafir. Musafir yang sedang dalam perjalanan menuju ke langit baru bumi baru. Banyak orang Kristen tidak siap jadi anak-anak Allah, seperti orang-orang Israel yang tidak mau dengan rela sukacita dan antusias ke Kanaan. Mereka sering bersungut-sungut dan berkata lebih enak di Mesir. Mereka tidak siap ke Kanaan, tidak siap ke tanah perjanjian.

Banyak orang Kristen tidak siap ke tanah perjanjian. Tanah perjanjian kita bukan Kanaan dunia ini, melainkan langit baru bumi baru. Jadi, kita harus menyadari bahwa kita sedang dalam perjalanan ke sana. Jangan bersungut-sungut dalam menghadapi segala keadaan atau kejadian, sebab semua itu menyempurnakan kita.

Memang, semakin kita disempurnakan, prosesnya semakin menyakitkan. COVID-19 ini sebenarnya peringatan dari Tuhan bahwa dunia bukan tempat yang nyaman untuk dihuni. Ini merupakan peringatan bagi orang percaya bahwa dunia bukan rumah kita, supaya kita mempersiapkan diri pulang ke surga.

Kalau kita memiliki optimisme terhadap kehidupan di balik kubur, kematian tidak akan menakutkan. Kita harus menjadi orang Kristen yang siap keluar dari Mesir menunju Kanaan. Dan kalau kita menghadapi banyak kesulitan, seperti kasus wabah COVID-19, ini peringatan untuk kita. Dan hal ini juga peringatan untuk mendewasakan kita. Semua orang mengalami juga, jadi jangan manja. Hadapi dengan teguh. Sejujurnya, ada banyak masalah hidup yang kita alami, yang lebih besar dari masalah COVID-19.

Pergumulan hidup itu berkat abadi. COVID-19 ini dapat menjadi berkat abadi bagi orang yang mengasihi Allah, yaitu jika kita merespons masalah ini dengan sikap hati yang benar. Demikian juga waktu Saudara disakiti orang, difitnah, ini semua adalah berkat abadi. Berapa kita berani bayar orang yang menyakiti dan memfitnah kita? Kita tidak bisa membayarnya. Itu diizinkan Allah. Dan kita bersyukur, menjadi koreksi untuk kita, jangan-jangan keadaan kita memang begitu. Maka penting untuk diperhatikan, kita harus membenahi diri terus, sampai kita suatu hari didapati oleh Allah berkenan.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono