SURAT GEMBALA Surat Gembala
OPTIMISME 1
02 August 2020

Saudaraku,

Jangan berharap dunia akan menjadi lebih baik. Memang mendengar hal ini, banyak orang tidak suka, seakan-akan kita mengajak orang berpikir pesimis dan apatis dalam memandang masa depan. Nah, ini bedanya orang percaya. Kita memiliki optimisme yang lebih dari siapa pun, karena optimisme kita terletak pada kehidupan di balik kematian; optimisme kita adalah menyambut kedatangan Tuhan yang kedua kali. Tuhan Yesus berjanji Dia pergi menyediakan tempat bagi kita, dan Dia akan kembali menjemput kita, supaya di mana Dia ada, kita ada. Itu optimisme kita.

Jadi, kalau kita sekarang menjalani hidup, kita harus memaksimalkan semua potensi—karena itu adalah tanggung jawab kita—dan menggunakan semua kemampuan untuk mengabdi kepada Tuhan. Seseorang yang mengabdi kepada Tuhan tentunya mendatangkan kesejahteraan bagi orang di sekitarnya, yang di dalamnya kita menjadi saksi. Menjadi saksi bagi Tuhan berarti kita harus dapat membuktikan ada Allah yang hidup, dan yang karakter-Nya seperti kita. Di sini kita menjadi surat yang terbuka.

Jadi, selama kita di dunia, memang kita ini harus menjadi saksi, artinya kita menampilkan kehidupan sebagai anak-anak Allah, seperti kehidupan yang pernah ditampilkan oleh Tuhan Yesus. Memaksimalkan potensi supaya kita tidak menjadi beban bagi orang lain, kita bisa membalas kebaikan orangtua, menolong keluarga besar kita, menolong masyarakat di sekitar kita, lalu ikut mengambil bagian dalam menopang pekerjaan Tuhan.

Itulah isi hidup kita, agenda kita satu-satunya, bagaimana bertumbuh dewasa, menjadi seperti Kristus, menampilkan kehidupan anak-anak Allah—yang bukan saja tidak melanggar hukum—melainkan kehidupan yang benar-benar tidak bercacat dan tidak bercela. Setiap kata yang kita ucapkan, kalimat yang kita ucapkan, tulis di media sosial, di message kita, tidak ada yang melukai orang, namun menjadi berkat. Jadi, jangan banyak berteori, yang penting sikap hidup kita bisa dibaca orang dan menjadi berkat. Kalau perkataan bisa ditarik ke sana ke mari seperti karet, tetapi sikap hati yang benar, kehidupan yang benar akan pasti dirasakan oleh orang; nurani orang pasti akan bisa membaca.

Jadi, kita optimis menghadapi hidup. Tetapi optimisme kita, kita taruh pada kehidupan yang akan datang; bukan di bumi ini. Ini optimisme yang luar biasa. Jadi, ketika kita menghadapi bencana seperti COVID-19 ini, kita bisa tetap teduh. Sebab optimisme kita bukan di bumi. Kita harus turut serta mendatangkan kesejahteraan bagi orang lain, kita ikut meneduhkan suasana, ikut memerangi COVID-19 bersama dengan bangsa ini. Tetapi pengharapan kesejahteraan kita bukan di bumi, melainkan di langit baru bumi baru.

Kalau kita masih memiliki harapan di bumi—dimana kita bisa mendulang kebahagiaan, ketenangan, kenyamanan—itu adalah bentuk pengkhianatan kepada Bapa di surga. Kita akan mendulang kebahagiaan, sukacita, kenyamanan hidup nanti di belakang langit biru. Sulit diterima, bukan? Tidak, kalau kita membiasakan diri untuk itu. Tapi karena orang sudah terlalu lama hidup dengan pikiran duniawi, sulit menerima hal ini. Sebab sudah menaruh harapannya di dunia ini. Mari, berubah! Miliki optimisme yang benar di dalam Tuhan.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono