SURAT GEMBALA Surat Gembala
Nekat Hidup Suci
23 August 2020

Saudaraku,

Masalah terbesar hidup manusia adalah ketika ia ditolak dari hadirat Allah. Itu sangat mengerikan. Virus penyakit, kemiskinan, bencana alam, perang, wabah apa pun bukanlah masalah besar, itu masalah fana dunia. Tujuh puluh tahun hidup kita di dunia dengan tubuh fisik ini membuat apa pun akan berakhir. Termasuk juga kebahagiaan, semua akan berakhir. Tetapi setelah kita memasuki kekekalan, kita masuk dalam dimensi waktu yang tidak ada ujungnya. Ironis, banyak orang yang tidak memikirkan kekekalan.

Saya mengajak kita semua untuk memiliki perasaan krisis. Perasaan krisis kita bukan berangkat karena ada COVID-19, perang, bencana alam, kemiskinan, sakit-penyakit atau apa pun. Perasaan krisis kita haruslah berangkat dari fakta betapa mengerikannya perpisahan dari Allah itu. Tuhan Yesus berkata: “jangan takut terhadap apa yang dapat membunuh tubuh, tapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa dan membuangnya ke dalam api kekal.” Namun, orang lebih takut miskin, takut sakit, takut mati di bumi ini secara fisik, tapi tidak takut menghadapi kematian kedua ketika dibuang dari hadirat Allah selamanya.

Kalau kita memiliki perasaan krisis terhadap fakta kekekalan, kita pasti juga takut akan Allah. Namun daging kita ini jahat, kecenderungan berbuat salah itu besar; jiwa kita juga telah dicemari oleh cara berpikir dunia. Susah untuk berubah. Tapi kalau kita sungguh-sungguh berjuang untuk berubah—karena kita mau berkenan kepada Allah, dan mempertimbangkan betapa dahsyatnya kekekalan itu—maka kita akan belajar bagaimana menghormati Tuhan secara patut.

Bagaimana kita bersikap benar terhadap Allah yang hidup, yang menyertai kita? Jangan hanya berkata: “saya percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, saya sudah selamat dan mati masuk surga.” Tahukah Saudara bahwa ini yang membuat mati iman banyak orang. Kita dibenarkan bukan karena berbuat baik. Kita ini diampuni bukan karena kita berbuat baik. Kasih karunia yang kita terima karena kebaikan Tuhan semata-mata, bukan karena perbuatan baik atau jasa kita. Tetapi setelah kita menerima kasih karunia, percaya kepada kurban Yesus di kayu salib dan mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita dipanggil untuk menjadi sempurna.

Dalam kehidupan nyata, kita melihat begitu berani mereka yang memberi diri untuk menjadi teroris. Dia telah mati terhadap kesenangan dunia, mati terhadap cita-cita, mati terhadap berbagai hiburan dunia ini. Lalu mengapa kita tidak berani untuk berusaha hidup berkenan kepada Allah, Allah yang menyertai kita, Allah yang memiliki perasaan, Allah yang hadir di dalam hidup kita? Kenapa kita tidak nekat? Tidak banyak orang nekat seperti ini. Tapi kalau kita nekat hidup suci, tidak bercacat tidak bercela, nekat jadi manusia yang mulia, agung, yang menyenangkan hati Allah, maka kita akan mengalami perubahan-perubahan yang nyata dalam hidup ini.

Kalau Saudara berani melangkah hidup tidak bercacat, tidak bercela, Saudara baru mengerti kehadiran Allah dalam hidup kita. Membuktikan kehadiran Allah, membuktikan realitas Allah tidak harus melalui mukjizat, tidak harus melalui kejadian-kejadian yang spektakuler. Namun melalui kejadian-kejadian hidup setiap hari; bagaimana Alah memroses kita menjadi orang-orang yang tidak bercacat tidak bercela. Dari pengalaman hidup, kita merasakan realitas Allah yang hidup. Kalau sudah kita bergaul dengan Allah, kita tidak usah berkata “Tuhan, lindungi aku.” Jadi, kalaupun kita berkata “Tuhan, lindungi aku,” itu alasannya karena kita mau nekat hidup suci, bukan karena masalah-masalah fana dunia. Adapun masalah pekerjaan, kesehatan, ekonomi, kita harus berjuang. Yang kita tabur, kita tuai.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono