SURAT GEMBALA Surat Gembala
NATAL
23 December 2018

Saudaraku,
Selama ini telah terjadi kesalahan fatal dalam merayakan hari Natal, sebab ternyata lebih banyak orang Kristen yang merayakan Natal sama seperti orang beragama lainnya merayakan hari raya atau hari “suci” mereka. Sebagai akibatnya telah jatuh banyak korban, artinya dampak negatif dari cara kebanyakan orang Kristen merayakan hari Natal ini. Dalam Natal terjadi begitu banyak penyimpangan dan manipulasi. Dalam hal ini kita bisa mengerti mengapa ada pihak-pihak tertentu yang mengecam perayaan Natal. Mereka berpendapat bahwa Natal adalah produk setan atau budaya kafir yang bisa mencemari kemurnian iman Kristen. Sesungguhnya sikap mereka ini adalah kritikan dan kecaman yang berguna bagi orang Kristen. Oleh sebab itu kita harus mulai merevisi cara kita merayakan Natal. Agar kita merayakan Natal dengan bijaksana dan benar. Sehingga kita tetap berkenan di hadapan Tuhan dan menyenangkan hati-Nya.

Memasuki bulan Desember, orang Kristen dibawa kepada suasana yang sangat istimewa dan khusus. Suasana itu adalah suasana Natal.  Suasana tersebut melanda gereja-gereja di dunia ini. Atmosfir Natal menghanyutkan orang-orang Kristen dalam kesibukan Natal yang luar biasa. Terdapat semacam spirit hari raya -yang boleh dikatakan sebagai “spirit Natal”- yang mencengkeram kehidupan hampir semua orang Kristen. Maksud spirit di sini dalam arti semangat atau gairah. Gairah Natal telah menguasai kehidupan hampir setiap orang. Hampir semua orang Kristen dibawa ke suasana ekstrem hari raya Natal. Dalam lingkungan orang Kristen tertentu, mereka bahkan berpikir bahwa merayakan Natal dan hanyut dalam suasana Natal adalah suatu kewajiban. Hal ini dianggap sebagai partisipasi kudus yang harus atau wajib ditunaikan oleh orang percaya.
 
Saudaraku,
Dengan tidak terpengaruhi suasana Natal atau tidak di dalam spirit Natal, apakah mereka dianggap kurang setia sebagai orang Kristen? Dengan tidak tercengkeram spirit Natal, apakah berarti mereka tidak menghormati Tuhan? Dengan tidak turut hanyut dalam arus hiruk pikuk merayakan Natal, apakah iman mereka menjadi lemah? Tentu tidak. Mari kita melihat dengan cerdas kenyataan kehidupan iman orang-orang Kristen pada bulan Desember ini. Demi sebuah hari raya -yang kita sebut Natal- kita telah mengarahkan seluruh kegiatan kita untuknya, sehingga yang terjadi adalah kita tidak memperhatikan pemeliharaan rohani dan pertumbuhan iman. 

Dengan mengemukakan hal ini bukan berarti kita tidak setuju merayakan Natal. Tetapi kita harus tetap pada spirit hidup yang benar dalam tuntunan Roh Kudus agar selalu dalam proses pertumbuhan kedewasaan rohani. Kita harus tetap dalam proses pertumbuhan kesempurnaan seperti Kristus. Proses pendewasaan rohani kita tidak boleh terhambat atau terkendala oleh suasana apa pun, termasuk suasana spirit Natal. Seharusnya yang tetap mencengkeram kita adalah Roh Kudus, bukan “roh Natal”. Gairah yang melanda kita tetap gairah untuk berusaha menjadi anak-anak Bapa surgawi yang menyukakan hati-Nya, bukan gairah merayakan hari raya untuk menyenangkan lingkungan dan manusia serta diri sendiri.

Saudaraku,
Tidak sedikit gereja dan orang Kristen merayakan Natal disertai dengan gairah atau hasrat yang picik. Hasrat untuk dinilai sebagai gereja yang paling besar, gereja yang paling megah atau sebuah perayaan di mana seorang tokoh dapat tampil sebagai pemimpinnya yang dihormati dan dikultuskan.  
Mari kita merayakan Natal dengan mengumandangkan kasih Allah dan visi-Nya, yaitu keselamatan jiwa manusia, yaitu dikembalikannya manusia kepada rancangan semula. Kegiatan Natal yang sungguh-sungguh dapat berguna bagi pendewasaan orang percaya guna mempersiapkan mereka masuk Kerajaan Bapa. Dengan demikian kita merayakan Natal secara bijaksana dan sungguh-sungguh memuliakan Tuhan, sehingga banyak orang yang diberkati.  Dengan pesan ini diharapkan kita tetap ada pada koridor atau jalur yang benar dalam mengiring Tuhan dan Juruselamat kita. Dengan pesan ini juga diharapkan roh kita tetap menyala-nyala dengan kobaran api dari perbaraan atau sumber api yang benar, bukan api asing atau semangat asing yang bukan dari Roh Kudus.

Saudaraku,
Hiruk pikuk merayakan Natal jangan sampai mengurangi porsi kita dalam mencari Tuhan melalui belajar kebenaran Alkitab, berdoa dan membangun persekutuan satu dengan yang lain dalam kasih Allah. Oleh sebab itu, dalam merayakan Natal jangan kita tenggelam dengan berbagai kesibukan yang sejatinya membuat iman kita tidak bertumbuh dalam pertumbuhan yang benar.  Di satu pihak kelihatannya orang Kristen bergerak dalam suatu gerakan yang lebih cepat. Orang Kristen memobilisasi diri masuk atmosfir Natal yang kecepatannya tinggi, tetapi di pihak lain ternyata malahan justru pertumbuhan rohaninya lambat.  Jadi di tengah suasana Natal yang semarak, kita harus tetap ada di dalam hadirat Tuhan. Dalam persekutuan yang benar dengan Tuhan. Tidak terganggu oleh suasana Natal yang heboh bagaimanapun. Dengan demikian kita tidak membuka peluang atau celah untuk Iblis membelokkan arah perjalanan rohani kita. Ingat Firman Tuhan yang mengatakan: Jangan memberi kesempatan kepada Iblis!