SURAT GEMBALA Surat Gembala
Merepotkan Tuhan
24 March 2019

Saudaraku,
Dalam berurusan dengan Tuhan sudah saatnya kita tidak mempersoalkan lagi masalah-masalah yang tidak prinsip. Masalah-masalah yang tidak prinsip adalah masalah-masalah yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Mengapa? Sebab masalah-masalah tersebut ternyata juga dialami setiap manusia dan mereka yang tidak memiliki anugerah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Dan mereka dapat menyelesaikan dengan usaha sendiri tanpa meminta pertolongan dari Tuhan Yesus. Mereka pun juga diberkati oleh Tuhan sesuai dengan hukum kehidupan yang Tuhan gariskan, selama mereka bertanggung jawab; sebab berkat jasmani yang memang disediakan Allah Bapa bagi semua orang (Mat. 5:45). Kalau Tuhan menyediakan berkat bagi mereka (bahkan burung dan bunga di padang), maka orang percaya tidak perlu khawatir sama sekali. Tidak khawatir bukan berarti lalu santai, tetapi harus memaksimalkan potensi dan bekerja keras dengan sikap bertanggung jawab.

Orang percaya harus dapat membedakan masalah-masalah yang dapat diselesaikan oleh semua orang dan masalah-masalah yang hanya bisa diselesaikan dengan pertolongan Tuhan Yesus secara khusus. Masalah yang perlu pertolongan Tuhan adalah masalah yang menyangkut kesempurnaan atau kesucian hidup untuk dilayakkan menjadi putra-putri Allah Bapa. Hal ini hanya bisa dialami dan diterima oleh orang-orang yang mengasihi Tuhan (Rm. 8:28). Oleh sebab itu langkah penting yang harus dilakukan setiap orang adalah berkomitmen untuk mengasihi Tuhan. Untuk mengasihi Tuhan seseorang tidak menunggu digerakkan oleh Tuhan, ia harus menggerakkan dirinya sendiri. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Kasihilah Tuhan Allah-Mu”. Orang yang mengasihi Tuhan, hidupnya tidak akan terfokus kepada hal-hal duniawi.

Saudaraku,
Banyak orang Kristen yang disesatkan perhatiannya ke arah yang salah. Mereka disibukkan dengan urusan yang seharusnya tidak “merepotkan” Tuhan. Tuhan tidak direpotkan tenaga-Nya, tetapi perasaan atau hatinya-Nya. Seperti yang terjadi pada perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, Tuhan dilelahkan oleh keras kepala mereka. Mereka tidak mau mengerti rencana Allah yang membawa mereka ke Kanaan permai. Mereka mau sampai tanah Kanaan, tetapi dengan cara mudah tanpa kesulitan. Padahal justru padang gurun adalah sekolah kehidupan yang mempersiapkan mereka untuk dapat menduduki dan menguasai negeri Perjanjian. Berkali-kali bangsa itu mempersoalkan hal-hal sepele; seperti mau makan daging, bersungut-sungut pada waktu menghadapi masalah dan lain sebagainya. Seharusnya mereka percaya saja bahwa Allah tidak akan meninggalkan mereka, sebab proyek penyelamatan itu dari Allah. Kebodohan tersebut membuat rencana penyelamatan itu gagal atas mereka.

Salah satu pelajaran yang dapat diperoleh melalui kehidupan bangsa Israel adalah bahwa perasaan Tuhan direpotkan atau disusahkan oleh umat yang tidak mengerti rencana-Nya. Mereka adalah umat yang tidak mau dibawa ke tempat yang lebih baik, berarti mereka tidak mau diajak berjalan bersama dengan Tuhan. Hal ini bisa menjadi gambaran orang Kristen yang tidak mau mengerti rencana Tuhan yang hendak membawanya ke rumah Bapa di mana Tuhan berada. Orang-orang Kristen yang repot dengan masalah-masalah yang tidak prinsip, merepotkan Tuhan dengan hal-hal sepele yang seharusnya mereka bisa usahakan dan kerjakan dengan tanggung jawab. Harus percaya bahwa kalau seorang anak Tuhan mengikuti rencana Tuhan, maka Ia akan membela dalam segala masalah hidup. Allah dilelahkan oleh hasrat, cita-cita dan keinginan orang Kristen yang tidak mau diarahkan ke Kerajaan-Nya.

Saudaraku,
Masalah pemenuhan kebutuhan jasmani -baik makan minum dan kesehatan- harus diperjuangkan dengan tanggung jawab. Harusnya kita tidak lagi mempersoalkannya dengan Tuhan, sebab Tuhan sudah menetapkan hukum-Nya. Hukumnya adalah bahwa apa yang ditabur itu juga dituainya. Di lain pihak, Tuhan pasti menyertai dan membela anak-anak-Nya. Satu hal yang harus selalu diingat bahwa penyertaan Tuhan bukan berarti membuat kemudahan-kemudahan menghadapi berbagai masalah hidup. Orang yang bersaksi bahwa Tuhan selalu membantunya sehingga ia memperoleh kemudahan dalam menghadapi segala masalah, biasanya adalah orang-orang yang belum dewasa. Kalau seseorang mengenal kebenaran dan bertumbuh dewasa dalam berurusan dengan Tuhan, maka ia tidak akan mencari kemudahan-kemudahan dalam menjalani hidup.

Perjuangan hidup yang berat menghasilkan dua hal, pertama kedewasaan mental. Seseorang tidak akan dewasa rohani kalau mentalnya tidak dewasa. Kedewasaan mental adalah landasan awal kematangan berpikir rohani. Kalau cara-cara berpikir mental secara umum sudah minus, maka sulitlah diajak berpikir dengan kualitas berpikir yang lebih tinggi. Melalui keadaan sulit mental diasah untuk menjadi dewasa. Kedua, harus menghayati kutukan atas bumi ini, yaitu bahwa manusia akan bersusah payah memperjuangkan kehidupan di bumi sebab bumi akan menumbuhkan onak dan duri. Hal ini akan membuat seseorang memandang dan merindukan bumi lain yang tidak terkutuk. Kalau bumi nyaman, indah sempurna laksana Firdaus, maka manusia tidak mengingini Kerajaan-Nya. Itulah sebabnya kutukan atas bumi harus dimengerti sebagai berkat untuk kehidupan kekal manusia. Justru kalau Tuhan tidak mengutuk bumi berarti Tuhan mencelakai manusia. Inilah kutukan yang membawa berkat kekal.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono