SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menjaga Hati
12 March 2021

Saudaraku,

Pada umumnya orang berusaha menjaga apa yang menjadi miliknya; misalnya: menjaga keluarga, menjaga harta, menjaga nama baik, menjaga usaha, karir, kesehatan dan lain sebagainya. Untuk menjaga hak miliknya, orang rela berkorban apa pun juga. Bila perlu, nyawa pun juga dipertaruhkan. Apalagi kalau yang dipertahankan adalah miliknya yang paling berharga, maka seseorang bisa mengorbankan apa pun juga yang ada padanya. Sayang sekali, ternyata banyak orang tidak menjaga miliknya yang paling berharga. Patut direnungkan, apakah miliki kita yang paling berharga? Milik kita yang paling berharga adalah “hati.” Mengapa hati kita adalah milik yang paling berharga? Sesuai dengan firman Tuhan yang mengatakan bahwa hati manusia adalah sumber segala perbuatan. Bagaimana keadaan hatinya, itulah keadaan moral dan kepribadian orang tersebut.

Banyak orang tidak menjaga hatinya, sehingga Iblis menguasai hati orang tersebut dan membinasakannya. Tuhan menghendaki agar kita menjaga hati kita supaya Iblis tidak bisa menguasainya. Menguasai di sini maksudnya adalah Iblis mengisi dengan hal-hal yang merusak hidup kita. Untuk ini jelas sekali Firman Tuhan mengingatkan kepada kita: “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Ams. 4:23). Hati dalam dalam ayat ini adalah hati dalam arti rohani, berbicara mengenai manusia rohaniah yang tidak kelihatan. Kalau berbicara mengenai hati, maka itulah diri orang itu, wataknya, sifat dan karakternya. Itulah sebabnya bila seseorang hendak membicarakan keadaan watak atau kepribadian seseorang, maka yang mewakili adalah hatinya. Dengan demikian hati adalah gambaran dari diri seseorang.

Mengapa kita harus menjaga hati kita? Jawabannya adalah karena hati memancarkan kehidupan, artinya bahwa hati manusia akan menentukan keadaan seluruh diri orang itu dan orang-orang di sekitarnya dan hati manusialah yang menggerakkan seseorang melakukan segala sesuatu dalam hidup sehingga berakibat kepada diri sediri dan lingkungannya. Oleh karena hati sangat memengaruhi kehidupan seseorang, maka Iblis berusaha untuk memasuki hati dan memenuhinya dengan segala sesuatu yang merusak hidup orang tersebut, yang akhirnya juga berakibat bagi kerusakan orang lain. Misalnya kalau dalam hati terdapat kebencian, maka kebencian itu akan merusak hidup orang tersebut dan pasti juga merusak orang lain. Tuhan memberi kebebasan kepada setiap orang untuk dapat mengatur hatinya. Hendak diarahkan ke mana hatinya, tergantung dari diri kita masing-masing. Oleh sebab itu masing-masing kita harus bertanggung jawab mengelola hati kita dengan bijaksana. Kalau Tuhan berfirman agar kita menjaga hati kita, maka itu berarti “menjaga hati” adalah sebuah perintah yang penting.

Cara yang terbaik menjaga hati adalah dengan menyerahkan hati kepada Tuhan. Apa yang dimaksud menyerahkan hati kepada Tuhan? Seorang yang hatinya diserahkan kepada Tuhan berarti ia bersedia dengan komitmen yang bulat dan utuh untuk:

1. mengasihi Tuhan lebih dari siapa pun dan apa pun.
2. menjadikan Tuhan tujuan/fokus kehidupan ini
3. membuang karakter buruk di dalam dirinya.

Saudaraku,

Pernahkah Saudara berpikir mengapa Sang Bapak yang kehilangan si Bungsu (Luk. 15:11-32), tidak berusaha pergi mencari anaknya? Apakah ia tidak mengasihi anaknya, apakah ia rela anaknya terhilang? Apakah Sang Bapak tersebut tidak berdaya menemukan anaknya? Tentu ia memiliki kekayaan dan kekuasaan serta banyak hamba-hamba untuk segera dapat menemukan anak bungsunya, tetapi ia tidak melakukannya. Mengapa? Sebab Sang Bapak ingin menemukan bukan saja tubuh dan kehadiran anaknya, tetapi ia mau menemukan hatinya.

Kalau kita berbicara mengenai orang yang terhilang, tekanannya sebenarnya bukan hanya orang tersebut tidak ke gereja atau tidak berdekat dengan Tuhan dalam liturgi kebaktian. Tetapi orang yang hatinya telah diserahkan kepada dunia ini. Seperti si Sulung yang tidak seperasaan dan tidak sepikiran dengan ayahnya adalah anak terhilang. Hati si Sulung tidak diserahkan kepada ayahnya (Luk. 15:28-31). Si sulung tidak mengerti pikiran dan perasaan ayahnya. Hal ini berarti bahwa orang yang terhilang bukan saja mereka yang ada di luar gereja, tetapi mereka yang ada di dalam gereja. Apakah itu kita?

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono