SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menjadi Subjek Natal, Bukan Hanya Objek
22 December 2019

Saudaraku,

Dua ribu tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama hampir dua ribu tahun ini gereja telah melewati tahun-tahun sejarah yang panjang. Gereja sudah belajar banyak bagaimana mengiring Tuhan, majikan dan Juruselamat, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Sekarang seharusnya gereja sudah dewasa. Gereja harus sudah mulai memahami pikiran dan perasaan Allah dan berjalan sevisi dengan Tuhan. Apalagi menjelang kedatangan Tuhan kedua kali, yang tentu makin dekat, gereja harus sudah menjadi gereja yang matang. Kedewasaan dan kematangan gereja Tuhan dapat diukur dari sikapnya terhadap beban Tuhan. Apakah gereja Tuhan mau mengerti dan peduli terhadap beban Tuhan? Apakah gereja Tuhan dapat memahami keprihatinan, dukacita dalam hati Tuhan melihat keadaan dunia yang sedang bergulir menuju kegelapan?

Ketika murid-murid Tuhan Yesus dan orang percaya yang belum dewasa, turut hanyut dalam gelombang orang-orang Yahudi yang tidak memahami kehendak Allah, mereka tidak mengerti maksud Tuhan Yesus datang ke Yerusalem. Beberapa hari sebelum penyaliban-Nya mereka mengelu-elukan-Nya dengan berharap Tuhan Yesus mau membebaskan mereka dari penjajahan kerajaan asing, yaitu kekaisaran Romawi. Padahal kedatangan Tuhan Yesus ke Yerusalem adalah untuk memikul salib. Mereka mengharapkan berkat duniawi menurut kehendak mereka, tetapi Tuhan memiliki pandangan dan rancangan lain. Tuhan menyediakan berkat yang lebih bernilai, lebih baik.

Hendaknya kita juga tidak salah mengerti dalam merayakan Natal. Tuhan Yesus datang bukan untuk pelesiran, Ia datang bukan untuk memuaskan ambisi dan ego-Nya. Ia datang bukan untuk menciptakan pesta duniawi kepada manusia atau sukacita duniawi menurut anggapan, pandangan dan cita rasa manusia. Ia datang untuk menjalankan tugas penyelamatan. Demi tugas penyelamatan ini, Tuhan Yesus mempertaruhkan seluruh hidup-Nya bagi kepentingan Bapa surgawi. Dalam kitab Filipi dikatakan bahwa Ia menghampakan diri-Nya dan menjadi sama seperti manusia. Kedatangan-Nya di kandang domba sudah merupakan isyarat yang jelas bahwa Ia datang untuk suatu tugas besar yang menuntut pengorbanan. Ia datang bukan untuk dilayani, tetapi menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Mrk. 10:45).

Saudaraku,

Banyak orang merayakan Natal tanpa mempertimbangkan perasaan si Pemberi Hidup. Betapa tidak tahu dirinya orang yang diberi donor tetapi tidak memperhatikan perasaan si pemberi Donor. Mereka merasa sudah cukup berterima kasih, bahkan sudah merasa berhak menerima donor tersebut karena sudah membayar “uang ganti rugi.” Inilah kenyataan banyak orang Kristen. Merasa sudah cukup berterima kasih kepada Tuhan Yesus yang telah memberikan nyawa-Nya hanya dengan rajin ke geraja, aktif dalam pelayanan bahkan jadi pendeta, dan yang terpenting sudah memberikan perpuluhan. Seharusnya kita bertanya sebagaimana Pemazmur menuliskannya dalam Mazmur 116:12, “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?”

Melalui renungan ini, saya mengajak kita semua merayakan Natal bukan saja sebagai objek yang menerima berkat, tetapi sebagai subjek yang sepenanggungan dengan bayi Yesus. Dengan demikian kita memiliki langkah maju dalam kedewasaan dan kematangan rohani. Sebab selama ini banyak orang dalam merayakan Natal hanya terpaku sebagai objek yang menerima berkat Natal, tetapi sekarang kita mau berdiri sebagai subjek yang sepenanggungan dengan Tuhan. Kita bukan hanya bisa menghisap, tetapi juga membagi. Adalah sangat naif kalau kita menyenandungkan lagu Natal, tetapi tidak menyenandungkan lagu pengorbanan seirama dengan Tuhan. Natal adalah bahasa pengorbanan Anak Allah. Di dalam Natal kita bukan saja diajar mengerti kasih-Nya yang menyelamatkan kita, tetapi kita juga diajar hidup dalam dunia yang singkat ini sepenanggungan dengan Tuhan.

Menatap Tuhan Yesus di palungan kita sudah mulai mengerti bahwa Ia datang untuk memikul salib. Saliblah klimaks atau puncak pelayanan. Di sanalah terdapat maksud utama kedatangan Tuhan. Palungan hina merupakan bahasa pengorbanan yang mengawali debut pelayanan-Nya yang menakjubkan. Kandang domba adalah garis start perjuangan pengorbanan-Nya merebut manusia dari tangan Iblis. Lebih dari segala semarak Natal yang kita rayakan, kita belajar memahami beban Tuhan, pikiran dan perasaan-Nya terhadap dunia di mana terdapat kekasih-kekasih hati-Nya yang ada di ambang kebinasaan. Kita juga hendaknya mau berperan serta dalam menyelesaikan misi Bapa yang diemban oleh Tuhan Yesus Kristus. Sekarang kita belajar menatap bayi Yesus bukan sekadar sebagai bayi lemah tak berdaya. Bukan pula sekadar kado istimewa Allah Bapa kepada manusia demi kasih-Nya supaya manusia memperoleh berkat keselamatan. Tetapi kita juga memandang bayi Yesus sebagai sosok pahlawan yang menjadi teladan kita.

Tuhan Yesus adalah Pribadi lemah lembut yang berkenan mengajarkan kepada kita apa yang dilakukan-Nya. Ia bukan saja memberi berkat keselamatan, berkat jasmani dari makan minum sampai kesehatan, tetapi Ia juga mengajarkan kita tentang cara hidup-Nya dan sikap-Nya terhadap Bapa. Bagaimana Ia setia dan mengasihi Bapa. Tuhan mau mengubah kita dari manusia yang tidak bermutu menjadi seorang yang bermutu di dalam pemandangan mata Tuhan. Ia berkenan terus menyertai kita dengan sabarnya agar kita mencapai tingkat-tingkat kedewasaan yang menggembirakan hati Bapa. Bahkan ketika kita tidak setia, Dia tetap setia. Sampai masa tua kita, Ia tetapi beserta kita. Kasih Tuhan belum lengkap kita terima kalau kita belum terbentuk berkepribadian yang sama dengan Tuhan.

Jangan Natal hanya membuat suasana jiwa berubah sesaat. Mereka begitu perhatian kepada Tuhan Yesus, setelah itu meninggalkan-Nya. Dengan menerima Natal, ada tanggung jawab yang harus dipenuhi. Tanggung jawab itu adalah meneruskan misi-Nya. Hal inilah yang menyenangkan hati-Nya. Waktu kita bertanya, “Dengan apa aku dapat membalas kebaikan Tuhan?” ayat selanjutnya merupakan jawabannya. Mazmur 116:13, “Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN.” Jangan setelah Natal usai, maka semua usai.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono