SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menjadi Orang Terhormat
26 March 2021

Saudaraku,

Khususnya bagi kita yang sudah keturunan Kristen, status sebagai “orang percaya” atau “anak-anak Allah” sudah menjadi sesuatu yang tidak menggetarkan lagi. Malahan kalau kita jujur, kita sudah tidak memperkarakannya lagi. Tapi dalam perenungan saya, apalagi melewati masa-masa sulit dan ketidakpastian masa depan, saya makin mengerti betapa beruntungnya menjadi anak-anak Allah. Kalimat ini kedengarannya sederhana, tetapi sebenarnya tidak sederhana. Sebab yang saya bicarakan bukan hanya pengertian secara nalar, tetapi penghayatan di dalam kehidupan, sampai kita benar-benar merasa begitu bahagia, begitu beruntung menjadi anak-anak Allah.

Namun kemudian setelah saya mengerti atau paling tidak menghayati sebagian dari fenomena ini, saya jadi mengerti ketika kita takut menghadapi sesuatu, itu berarti kita melecehkan Allah Bapa kita yang besar. Ketika kita menghargai sesuatu dan sesuatu itu kita pandang membahagiakan kita, kita merendahkan Dia. Dan ketika kita menyentuh apa yang najis (dosa), berarti kita menghina kekudusan-Nya, dan mendukakan Dia. Juga ketika kita melakukan sesuatu yang mendukakan hati Allah, kita tidak menghormati Dia.

Di sini kita baru bisa mengerti maksud perkataan Tuhan di 1 Petrus 1:17, “kalau kamu memanggil Allah itu Bapa, hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Jadi memang menjadi tidak sederhana. Kita bisa merasakan betapa berbahagia dan beruntungnya menjadi anak-anak Allah. Lewat perjalanan hidup, kita sampai pada penghayatan mengenai keberadaan Bapa yang besar, yang dahsyat dan hati kita merasa begitu bergirang, sukacita menjadi anak-anak Allah. Tetapi konsekuensinya kemudian kita menjadi mengerti bahwa kalau kita menjadi takut, gentar terhadap sesuatu berarti kita tidak menghormati Dia. Kalau kita memandang ada sesuatu yang bernilai dan bisa membahagiakan, kita tidak menghargai Dia. Dialah kebahagiaan kita. Kalau kita melakukan apa yang meleset—ini bukan hanya perbuatan dosa secara moral umum—tidak melakukan apa yang Dia perintahkan pun mendukakan Dia.

Jadi kalau Saudara masih merasa belum beruntung menjadi anak-anak Allah, pasti ada yang salah dalam hidup Saudara. Yang kita sembah itu Bapa yang mempunyai segala kuasa, kemuliaan, Kerajaan, yang menciptakan jagat raya ini. Yang sudah ada dari ada, sebelum dari segala sesuatu ada, dari kekal sampai kekal. Kira-kira apa yang kita takuti? Kalau kita mengatakan “Ajaib, Tuhan. Jiwaku memuji Engkau,” apa dasarnya? Kita harus bertumbuh terus. Kita menjadi orang-orang yang benar-benar merdeka. Merdeka dari perasaan negatif, dari ikatan dunia, dan merdeka dari segala hal yang Tuhan tidak kehendaki. Sehingga kita baru bisa mengerti apa artinya takut, gentar kepada Bapa di surga. Kita baru mengerti apa artinya menghormati Dia, waktu kita menyembah kita sujud.

Makanya kalau sampai orang takut mati, itu adalah salah satu ciri orang yang terhilang. Dia tidak tahu di mana rumahnya, dia juga tidak rindu bertemu dengan Tuhan, dia tidak tahu siapa Majikannya. Pasti dia tidak mengabdi kepada Majikan secara benar. Orang seperti ini biasanya masih hitungan dengan Tuhan. Memang kenyataannya kita masih bisa meleset—bahkan sering—tapi jangan putus asa lalu tidak berjuang untuk menjadi seorang yang saleh. Kalau di sini kita selalu bicara mengenai “sempurna”, saya tahu kita ditertawakan orang dan mungkin orang mulai mencari salahnya atau dipandang munafik. Kita memang belum sempurna sekarang, namun saya mau nekat, bukan karena saya hebat. Dan saya mengajak saudara semua untuk nekat. Karena kita mau jadi orang terhormat di Kerajaan Surga, bukan di sini.

Saudaraku,

Kita adalah anak-anak Allah, oleh sebab itu satu hal yang harus kita perjuangkan: jadilah anak Allah yang berkenan. Itu yang harus kita usahakan lebih dari segala sesuatu. Kita harus menjadi anak-anak Allah yang bukan sekadar status, tapi keberadaan kita. Kita juga berusaha untuk mengoreksi diri. Walaupun kita juga belum sempurna dalam pengertian, tapi kita benar-benar memperkarakan. Yang begini ini patut tidak jadi anak Allah? Saya menyampaikan ini bukan mengecilkan arti karya salib atau pengurbanan Yesus dan darah-Nya yang menghapus dosa kita. Dosa-dosa kita telah dipikul di atas kayu salib dan sudah selesai. Tidak perlu ada penyaliban kedua. Tetapi sekarang giliran kita yang menyalibkan diri kita. Kalau kita tidak menyalibkan diri kita, apakah kita mau menyalibkan Tuhan untuk kedua kali? Jadi dengan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dosa-dosa kita dipikul-Nya dan kita menerima karya penebusan itu, jadi berat. Karena kita harus memberi diri ditebus, dimiliki oleh Tuhan, di mana tubuh kita menjadi bait Roh Kudus dan tidak boleh menyentuh apa yang najis.

Kalau kita mengerti bahwa menjadi anak Bapa itu segala-galanya, maka interest kita ini betul-betul harus menyita seluruh hidup kita. Sekarang kita bisa mengerti mengapa Tuhan Yesus bangun pagi lalu berdoa. Tidak ada capeknya atau beratnya berdoa itu, karena kita berdialog. Rasanya kalau kita mau berdoa itu, kita mau ketemu dengan satu Pribadi yang besar. Ketika kita bertemu Tuhan Yesus, bertemu Bapa, maka hidup kita sudah selesai di situ, sebab di situlah perhentian kita, pelabuhan kita. Mau apa lagi, Saudara? Kecuali melakukan kehendak Bapa di sisa umur hidup kita ini. Makanya kalaupun kita punya proyek-proyek pelayanan dan lain-lain, harus dibicarakan dengan Tuhan dengan benar. Jangan sampai kita memiliki agenda pribadi di balik proyek-proyek pelayanan tersebut. Barulah orang bisa menghayati bahwa toko kita, kantor kita, pabrik kita, keluarga kita, itu milik Dia. Jadi kalau kita menghadapi begitu banyak masalah, tekanan, persekusi, di-bully, kita katakan: “Aku menyerahkan hidupku dalam tangan-Mu. Kalau aku harus hancur, biar aku hancur di tangan-Mu, Tuhan.”

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono