SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menjadi Istimewa Di Mata Allah
10 February 2019

Saudaraku,
Seandainya Saudara terbaring di ruang ICU, dimana umur Saudara tinggal beberapa jam atau beberapa menit atau paling lama beberapa hari, kira-kira apa yang Saudara lakukan? Coba kita sungguh-sungguh memikirkan hal ini, sebab hal itu bukan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Bisa saja hal itu terjadi dalam hidup kita setiap saat. Sebagai orang Kristen, pasti yang kita lakukan adalah kita akan minta ampun atas semua kesalahan kepada Tuhan. Kita akan berusaha berdamai dengan Allah. Kita berusaha melunakkan hati Tuhan. Jika ada kesalahan yang kita lakukan, kita akan berusaha membereskannya di hadapan Tuhan. Kemudian kita akan berusaha meyakini diri kita sendiri bahwa kita akan diterima Tuhan. Kita akan sungguh-sungguh memaksimalkan semua kemampuan kita untuk percaya. Memaksimalkan pikiran kita untuk yakin bahwa kita akan diterima Tuhan.

Masalahnya, mengapa baru dalam situasi seperti itu kita berusaha untuk membereskan keadaan kita di hadapan Tuhan? Mengapa dalam keadaan seperti itu baru kita berusaha berdamai dengan Allah? Untuk bisa berkeadaan sesuci-sucinya, sekudus-kudusnya, sebersih-bersihnya di hadapan Allah, mengapa tidak jauh-jauh hari? Pada saat kita masih memiliki -bukan saja hari- tetapi bulan dan tahun-tahun yang panjang. Sebab kalau seseorang bertobat oleh karena situasi yang mendesak, maka pertobatannya bukanlah pertobatan yang natural, tetapi pertobatan yang dipaksakan.

Saudaraku,
Orang yang mau bertobat sungguh-sungguh hanya waktu kepepet, maka ia tidak akan sanggup bertobat dan berdamai dengan Allah secara benar. Ia tidak akan sanggup meyakini keselamatannya. Walaupun mencoba berusaha yakin bahwa ketika ia menutup mata ia akan diterima di Kemah Abadi. Tuhan tidak bisa dipermainkan. Mestinya selagi kita masih memiliki hari, bulan, tahun yang panjang, kita sudah berusaha untuk berdamai dengan Tuhan. Kita berusaha untuk menelanjangi diri dan membuka keadaan kita sejujur-jujurnya.

Dan kalau kita menyadari kesalahan, ada dosa, dan hal-hal yang tidak membuat Tuhan nyaman bahkan terlukai, kita bisa minta ampun. Kita bisa berdamai. Seakan-akan kita tidak memiliki kesempatan lagi untuk itu. Seakan-akan itu kesempatan terakhir. Jangan mempermainkan Tuhan. Kita bersyukur kita mengenal Allah yang benar. Allah yang benar, yang akan mengadili kita. Kita memiliki destinasi benar dan jelas. Allah yang benar yang akan mengadili kita. Tidak usah menunggu pengadilan, tapi mari kita menelanjangi diri sendiri dan menyadari setiap butir salah dan dosa.

Dengan melakukan hal itu, berarti kita memberikan penghormatan yang patut kepada Tuhan. Itu bukti dari sikap yang benar kepada Allah yang Mahakudus, yang patut kita perlakukan sehormat-hormatnya, sebab Ia hidup. Kalau kita percaya Tuhan beserta kita -sesuai apa yang dikatakan Tuhan Yesus: “Aku akan menyertai kamu sampai kesudahan zaman”- kalau kita percaya Allah Mahahadir, Roh Kudus dimateraikan dalam diri kita, maka tidak ada langkah di luar kontrol dan monitor-Nya.

Saudaraku,
Mestinya kita menyadari bahwa kita ada dalam wilayah di mana Tuhan sebagai Tuan Rumah jagad raya dan memenuhi jagad raya; tanpa ada sejengkal pun tanah yang lolos dari kehadiran-Nya. Itulah sebabnya kita harus punya waktu menghadap Tuhan. Sungguh-sungguh belajar untuk berinteraksi dengan Tuhan lewat doa. Bukan hanya waktu mau tidur atau makan, tapi waktu istimewa dimana kita bisa berjumpa dengan Tuhan dan menelanjangi diri.

Roh Kudus akan memimpin dan berbicara kepada kita. Membuka pikiran kita untuk melihat keadaan kita yang sebenarnya. Dan ketika kita memperkarakan hal ini, bagaimana kita bisa berdamai dengan Tuhan, sungguh-sungguh tidak mau melukai hati-Nya, membuat-Nya nyaman dengan pikiran dan ucapan kita, baru kita mengerti menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Dari sekian milyar manusia, Saudara ditandai Tuhan sebagai orang yang menyenangkan hati-Nya dan betapa terhormatnya itu. Dari sekian manusia Tuhan menunjuk kita istimewa. Luar biasa!

Saudaraku,
Sejatinya, apa yang hendak kita capai dalam hidup ini? Segala sesuatu yang kita usahakan -memeras waktu, pikiran dan tenaga- semua akhirnya lenyap. Tapi ketika kita berusaha untuk berkenan kepada Tuhan, itu menjadi harta abadi kita. Tak peduli Saudara miskin atau kaya secara materi, berpenampilan bagus atau tidak, berpendidikan tinggi atau rendah -siapa pun kita- punya kesempatan untuk jadi istimewa di mata Allah. Inilah yang namanya pujian dari Tuhan, bukan dari manusia.
Lihat bagaimana orang dari hari ke hari, membuka mata dari pagi mengusahakan kehidupan normal, wajar, kesenangan yang dimiliki, hormat, pride, martabat. Apakah dia sungguh-sungguh mengusahakan kehidupan yang mendatangkan pujian dari Allah?

Mestinya kita berani berkata: “Hanya satu yang kuminta pada-Mu, Tuhan. Agar Engkau mengenal aku ketika kita bertemu muka dengan muka, membawaku ke Kerajaan Surga”