SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menjadi Anak Penghiburan
31 May 2020

Saudaraku,

Makin hari, kita makin mengenal kebenaran yang akhirnya kita diarahkan hanya untuk mencari perkenanan Tuhan saja. Menjadi beban kita bersama—lebih dari segala beban yang bisa kita rasakan—yaitu bagaimana gereja ini menjadi keharuman di mata Allah. Tidak harum di mata manusia, tidak apa-apa; tidak istimewa di mata manusia, tidak apa-apa. Tetapi istimewa di mata-Nya.

Di tengah-tengah dukacita, Bapa melihat kejahatan dunia ini—seperti yang ditulis dalam Kejadian 6 ketika kejahatan manusia bertambah-tambah, kecenderungan hati manusia kepada kejahatan semata-mata—Bapa masih menemukan orang-orang yang masih berusaha untuk berkenan kepada-Nya.

Arti nama Nuh adalah “anak penghiburan.” Siapa yang dihibur? Apakah Nuh menghibur dirinya sendiri, keluarga, dunia waktu itu? Dunia waktu itu menolak. Dalam kepedihan hati Allah, ketika kejahatan manusia bertambah-tambah, hati Allah berduka—bahkan Ia menggunakan kata “menyesal” telah menciptakan manusia—Nuh menjadi “anak penghiburan.” Bukan tidak mungkin Nuh menghibur hati Allah. Begitu juga kita.

Sebenarnya, ini yang mencengkeram jiwa saya. Bagaimana kita bisa memikat hati-Nya, mempesona di tengah-tengah kejahatan manusia, kita menjadi “anak penghiburan” bagi Allah. Allah masih bisa dihiburkan oleh seorang “anak penghiburan,” yaitu kita.

Ini menjadi beban. Saya mengajak semua untuk mulai memikirkan beban ini: bagaimana kita menjadi “anak penghiburan” bagi Allah yang bisa menyenangkan Dia, menyukakan hati-Nya. Dan ini doa bersama kita. Ini pekerjaan berat. Kita tidak bicara mengenai harta atau uang, tetapi kita bicara mengenai batin kita masing-masing yang harus memberi diri digarap oleh Allah.

Dan rasanya, seumur hidup kita menjadi orang Kristen (yang dari kecil Kristen), baru kali ini kita mendengar gereja yang bebannya adalah bagaimana gereja menjadi tempat di mana Allah dimuliakan dan hati-Nya dihiburkan. Jangan bicara mengenai proyek yang lain. Itu nomor ke sekian. Kiranya Allah masih melihat ada orang-orang yang mengasihi Allah dan bersedia berbuat apa pun demi kesukaan hati-Nya. Yang menyukakan hati Allah bukan gedung, bukan liturgi, bukan persembahan, melainkan masing-masing individu yang dalam seluruh gerak hidupnya setiap hari berkenan kepada-Nya.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono