SURAT GEMBALA Surat Gembala
Mengukir Sejarah (2)
10 March 2019

Saudaraku,
Jangan pernah berpikir Tuhan bahwa Tuhan itu tidak hidup; Tuhan itu hidup. Tetapi apakah Tuhan nyata dalam hidup seseorang, itu masalahnya. Kalau kita melihat alam semesta yang sangat dahsyat, jagad raya yang tanpa batas dengan keteraturan yang sempurna, kita pasti menemukan jejak Tuhan di situ. Jejak Tuhan nampak dari karya-karya-Nya yang luar biasa, karya-karya-Nya yang besar, yang hebat tanpa batas ini.

Tapi jejak Tuhan kiranya juga ditemukan oleh orang lain dalam hidup kita, sehingga orang akan mengakui bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang benar. Tentu kebaikan yang memancar dalam hidup kita bukanlah kebaikan umum atau kebaikan yang dikenal orang pada umumnya, tapi kebaikan yang istimewa, kebaikan yang khusus, yang hampir tidak ditemukan pada manusia lain. Dan Tuhan menghendaki begitu, karena Tuhan berkata: “hidup keagamaanmu harus melebihi ahli Taurat dan orang Farisi”; artinya kesalehan, kesucian kita harus lebih dari tokoh-tokoh agama manapun. Walaupun Saudara bukan seorang tokoh agama, bukan seorang yang dipanggil rohaniwan, dan hanya jemaat biasa, tapi Saudara memiliki kesalehan yang luar biasa.

Saudaraku,
Kehidupan yang luar biasa seperti itu akan tercium keharumannya. Maka kalau orang bergaul dengan Tuhan, dia pasti membawa keharuman Tuhan. Karena orang yang bergaul dengan Tuhan karakternya pasti berubah. Karakternya semakin seperti Tuhan, sehingga keharuman Tuhan pasti akan memancar dari hidupnya.

Sekarang apa yang kita ukir dalam hidup kita? Ada banyak orang yang mengukir sejarah Tuhan dalam hidupnya, sejarah Tuhan yang baik; tetapi di sisi lain ada orang mengukir sejarah setan dalam hidupnya. Orang yang mengukir sejarah setan dalam hidupnya itu menunjukkan setan hidup, hadir, nyata dalam kehidupan tersebut. Orang bisa bertindak begitu kejamnya, begitu sadisnya. Dalam kehidupan kita setiap hari, kita juga mendengar, melihat berita atau melalui internet, orang-orang yang begitu kejam; orang tuanya dibunuh, ada orang tua yang membunuh anaknya, ada pegawai yang membunuh pimpinannya, dan lain sebagainya.

Saudaraku,
Sebagai anak-anak Allah, kita harus mengukir sejarah Tuhan melalui perbuatan-perbuatan kita yang agung, yang baik -perhatian kita kepada orang yang lemah, pembelaan kita bagi orang miskin, uluran tangan kita pada yang perlu keselamatan- di situlah kita mengukir sejarah Tuhan dalam hidup kita. Dan Tuhan mau hadir di tengah-tengah dunia ini, di tengah-tengah masyarakat melalui kehadiran kita, melalui hidup kita. Kita yang harus mau menjadi alat Tuhan untuk mengukir sejarah-Nya. Dan orang-orang yang mengukir sejarah Tuhan dalam hidupnya, pada suatu hari kelak akan bersama-sama dengan Tuhan dalam kekekalan.

Kalau kita mau jadi anak-anak Allah yang mengukir sejarah Tuhan dalam hidup kita, maka kita harus bertobat, selagi kita masih punya kesempatan untuk berubah. Jangan menunda, jangan membela diri, jangan beralasan macam-macam untuk membela keadaan kita. Tetapi bertekatlah untuk berubah. Kalau kita mau berubah, kita bisa berubah; tapi kalau kita tidak mau berubah, atau menunda perubahan, kita mungkin tidak pernah berubah sampai selamanya. Itu adalah bencana!

Saudaraku,
Mari kita buat Tuhan hidup dalam hidup kita. Sebab melalui perbuatan baik, kelakuan yang agung dan mulia, kita membuat Tuhan hidup dalam hidup kita. Kita menjadi tangan Tuhan, kaki Tuhan, mata Tuhan, telinga Tuhan untuk menolong sesama, membebat orang yang terluka, menghibur yang berduka. Kita menjadi alat-Nya. Masa hidup kita yang hanya 70-80 tahun bukanlah waktu yang lama, sangat singkat. Di waktu yang singkat ini kita harus hidup hanya untuk Tuhan, bukan untuk diri kita sendiri. Banyak orang egois hidup untuk dirinya sendiri. Orang seperti ini tidak pernah mengukir sejarah Tuhan dalam hidupnya.

Orang yang mengukir sejarah hidupnya bersama Tuhan, pasti rela kehilangan segenap hidupnya demi kepentingan Tuhan. Hanya orang yang menyalibkan daging dengan segala keinginannya yang bisa berkata: “bukan keinginanku, Bapa, tapi keinginan-Mu; bukan kehendakku, Bapa, tapi kehendak-Mu yang jadi” seperti yang diteladankan Tuhan kita Yesus Kristus ketika di Taman Getsemani. Ia mengukir sejarah Bapa-Nya dalam hidup-Nya. Sekarang mari kita mengukir sejarah Tuhan Yesus dalam hidup kita, sebagai utusan-utusan Tuhan Yesus Kristus. Kesempatan ini besar, terbuka untuk semua orang, tanpa diskriminatif. Manfaatkan kesempatan ini sebelum berlalu. Atau kita akan kehilangan ini selamanya.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono