SURAT GEMBALA Surat Gembala
Mengkhianati Diri Sendiri
05 February 2021

Saudaraku,

Semakin seseorang menyadari dan menghayati tragisnya hidup ini, maka ia akan semakin kuat mempersiapkan diri untuk kekekalan. Masalahnya, mengapa orang menghayati tragisnya hidup? Hal ini biasanya terjadi karena selalu memiliki pengharapan bahwa dunia ini bisa membahagiakan, nasibnya itu bisa berubah menjadi baik. Kalau sekarang ia punya masalah, makai a berharap masalahnya selesai lalu ia bisa bahagia. Orang seperti ini selalu punya satu kebutuhan yang harus dipenuhi sehingga tanpa hal itu membuat dirinya merasa kurang lengkap, kurang utuh. Sehingga ia berharap kebutuhan itu terpenuhi, maka ia akan bahagia.

Sebagai orang percaya yang benar, mestinya prinsip hidup kita tidak begitu. Jadi, jangan berpikir dengan suatu masalah selesai, Saudara akan lebih bahagia. Jangan berpikir, suatu kebutuhan yang Saudara ingin miliki dapat terpenuhi, lalu Saudara akan merasa merdeka. Sebaliknya, kita harus mengingat kembali kebenaran dan menghayatinya, bahwa kalau kita bisa menderita bersama dengan Tuhan, itu adalah suatu kehormatan.

Dari hal ini, Saudaraku, selain kita mendapat kesempatan untuk memikul beban sesama, kita juga bisa merasakan tragisnya hidup. Kita bisa menghayati penderitaan yang orang lain alami. Dari mempersoalkan kekekalan dengan serius, kita rela kehilangan kesenangan daging. Kita lebih rela meninggalkan dosa, dan rela kehilangan kesenangan-kesenangannya karena hati kita seperti “disedot” untuk menghadap Tuhan, seakan-akan kita sudah mau mati saja. Sementara di bumi ini tidak ada yang kita harapkan lagi, tidak ada kebahagiaan lagi di bumi ini. Dan itu adalah berkat.

Jadi, kita bersyukur memiliki kesempatan melayani Tuhan dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki banyak penderitaan, karena dengan demikian kita memikirkan kekekalan dengan lebih sungguh-sungguh. Yang dulu waktu kita masih muda, tidak pernah terpikir. Kalau Saudara serius mau bertumbuh, maka Tuhan akan membukakan pengertian dan mata Saudara untuk melihat tragisnya hidup. Tuhan akan izinkan Saudara melihat, mendengar tragisnya hidup.

Itulah sebabnya, dalam 1 Petrus 1:13-14 ada dua pokok pikiran yang hendak dikemukakan oleh Rasul Petrus: Yang pertama, agar kita meletakkan pengharapan kita seluruhnya atas penyataan Yesus Kristus, yaitu kedatangan Tuhan. Lalu yang kedua, agar kita hidup taat dalam kekudusan. Nanti Saudara akan makin naik terus, naik terus. Sampai pada satu titik Saudara akan ditantang oleh Tuhan, “Kamu mau serius, sungguh-sungguh?” Kita katakan, “Ya, Tuhan, aku serius.” Di sini kita akan didesak untuk berjalan dengan Tuhan atau tidak.

Tuhan itu nyata, Tuhan itu riil, Tuhan itu hidup, Saudara. Kita harus punya pengalaman riil berjalan dengan Tuhan. Dari berjalan dengan Tuhan tersebut, kita bisa mencapai tingkatan kehidupan rohani yang luar biasa. Tetapi untuk mencapai posisi itu, dibutuhkan komitmen yang sungguh-sungguh, tekad yang sungguh-sungguh. Dan, jangan coba-coba berbuat dosa. Wilayah itu adalah wilayah di mana kita memang tidak bisa lagi menyentuh dosa atau ada percintaan terhadap dunia. Banyak orang belum sampai pada tingkat ini. Ironisnya, mengerti pun tidak.

Memperkarakan kekekalan membuat kita menanggalkan dosa, ikatan dosa dalam daging kita ini. Jadi bukan hanya tidak berbuat dosa, tapi potensi dosa juga dimatikan. Tapi di situasi tertentu, kita masih bisa bikin salah. Di situasi tertentu, masih bisa menoleh ke belakang. Namun kita tidak boleh kalah dengan kedagingan ini. Maka ada kalimat yang saya temukan: “Saya khianati daging saya. Saya khianati ambisi saya. Saya khianati diri saya sendiri. Saya memilih Tuhan.”

Hidup ini tragis. Lalu apa yang harus kita lakukan? Perkarakan kekekalan. Hidup suci, tinggalkan percintaan dunia, lalu berkomitmen berjalan dengan Tuhan. Letakkan pengharapan kita sepenuhnya pada Kerajaan Surga dan hidup tidak bercacat tidak bercela. Banyak kejadian bisa terjadi di luar kendali kontrol dan prediksi kita, tetapi kita tidak takut menghadapi apa pun karena dalam kamus hidup orang Kristen tidak ada kata “sial” selama kita mengasihi Tuhan.

Saudaraku, jangan terikat lagi dengan dunia, jangan memberhalakan apa pun dan siapa pun. Perkarakan kekekalan! Beranilah mengkhianati diri sendiri demi kesetiaan kita kepada Tuhan Yesus Kristus, Juruselamat.


 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono