SURAT GEMBALA Surat Gembala
Mengisi Hari Hidup
18 August 2019

Saudaraku,
Ketika seseorang dalam keadaan kecewa, tertekan oleh masalah hidup, maka bisa muncul pertanyaan di dalam hatinya: “Apakah hidup hanya demikian ini dan apa yang harus kulakukan untuk mengisi hari dan waktu hidupku?” Akan muncul bermacam-macam jawaban pertanyaan ini. Bagi orang yang menyukai makan minum, mereka memikirkan kuliner, bagaimana bisa memuaskan selera lidahnya. Bagi orang yang menyukai wisata, mulai mempersiapkan perjalanan wisata, merencanakan tempat yang bisa dikunjungi. Bagi yang menyukai suatu barang, memikirkan untuk memiliki barang yang baru, apakah itu kendaraan, perhiasan, rumah, apartemen, villa dan lain sebagainya. Bagi yang terikat dengan keinginan daging, yang terbiasa memuaskan libidonya, memikirkan bagaimana mendapatkan partner baru dalam memuaskan seks. Bagi seorang yang sedang mendendam dia memikirkan bagaimana membalas dendam paling tidak berharap orang yang dia benci akan mendapat celaka.

Pada intinya orang akan mengisi hari hidupnya dengan apa yang dipandangnya dapat menyukakan hati. Hampir semua orang memiliki gaya hidup ini. Barangkali ada yang mengatakan bahwa itulah tujuan hidup orang tersebut. Sebenarnya itu bukan tujuan hidup, tidak ada sesuatu yang patut disebut tujuan hidup selain Tuhan. Di luar Tuhan dan Kerajaan-Nya, bukanlah tujuan.

Saudaraku,
Satu-satunya tujuan hidup adalah mengenal dari mana segala sesuatu ini berasal. Mengenal pribadi yang daripada-Nya segala sesuatu ini ada dan pribadi itu sesungguhnya adalah Bapa di surga. Seandainya Adam tidak jatuh dalam dosa, maka sesungguhnya manusia hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa. Dalam melakukan kehendak Bapa itulah manusia dapat menikmati segala sesuatu yang diciptakan atau yang berasal dari Dia secara proporsional, secara maksimal.

Jika manusia atau makhluk-makhluk mana pun bisa menikmati ciptaan Allah tanpa memiliki hubungan yang patut dengan Allah, itu berarti Allah bisa diperdaya dan bukan Allah yang cerdas, bukan Allah yang Agung. Jadi sebenarnya belum ada yang menikmati ciptaan Allah secara proporsional dan benar. Sebab bumi juga memang sudah terkutuk dan manusianya pun rusak.

Jadi, hidup ini adalah untuk persiapan hidup yang sesungguhnya nanti. Tapi kalau Saudara masih mau berkeras tidak mau melepaskan harta di dunia, berarti Saudara tidak akan memperoleh harta di surga. Melepaskan harta di dunia bukan berarti Saudara menjadi miskin, memberikan uang Saudara untuk gereja semua, tapi artinya adalah hati kita tidak boleh terikat dengan dunia ini.

Saudaraku,
Tuhan Yesus datang ke dunia untuk memperkenalkan Pribadi Bapa, supaya orang mengenal Bapa dan melakukan kehendak Bapa. Hal ini tidak dikenal oleh manusia yang hidup zaman sebelum anugerah. Sebelum zaman anugerah, manusia hanya mengenal agama, tapi setelah zaman anugerah manusia dimungkinkan mengenal Allah Bapa, menyembah Dia dalam Roh dan kebenaran.

Sejak zaman anugerah, ritual agama digantikan dengan kehidupan setiap hari, yaitu apa yang kita pikirkan, kita ucapkan dan kita lakukan -seluruh tindakan hidup kita- di sepanjang waktu. Di zaman anugerah ini manusia dapat memiliki hubungan dengan pribadi Agung Bapa secara konsisten. Itulah sebabnya Roh Allah dimateraikan di dalam diri kita, memimpin kita. Dan kalau kita sungguh-sungguh bertumbuh di dalam Tuhan, Saudara bisa menghayati Allah sebagai Bapa dan menghayati diri kita sendiri. Maka sebagai buahnya:
Pertama, kita tidak takut apa pun. Kalau Allah Bapa kita yang menciptakan langit dan bumi, maka apa yang kita takuti? Mari kita lihat bintang-bintang bertebaran, di atas langit ada langit, di atas segala langit ada Bapa di surga yang mengayomi semua orang. Betapa besarnya Allah. Kedua, tidak terikat dunia. Kalau orang Kristen masih terikat dengan dunia masih bisa dibahagiakan oleh materi, fasilitas dunia, berarti dia bermartabat rendah. Ketiga, hidup tidak bercacat, tidak becacat tidak bercela.

Pergumulan untuk mengalami Roh Kudus dalam hidup ini harus merupakan kesukaan yang semakin mengikat yang akhirnya menjadi penjara kehidupan. Kita dipanggil bukan hanya melakukan hukum, tapi melakukan kehendak Bapa. Masing-masing kita mempunyai keadaan kepribadian yang berbeda-beda. Dan Tuhan bisa disukakan oleh masing-masing individu dengan keadaan yang khas dan khusus ini. Tapi masing-masing harus menemukan apa kehendak Allah dalam hidupnya. Tentu saja secara moral umum harus sudah baik dulu. Sebab kalau secara moral umum sudah tidak benar, kita tidak mungkin bisa mengerti kehendak Allah.

Di sini Roh Kudus akan menuntun kita, bagaimana dan apa yang harus kita lakukan untuk mengisi hari hidup kita yang berkenan di hadapan Bapa. Itulah maksud Roh Kudus dimateraikan. Di sini kita baru bisa mengerti, bagaimana kehidupan anak-anak Allah. Jika seseorang melakukan hal ini, maka ia dapat mengerti bagaimana bermartabat anak Allah yang Mahatinggi ini.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono