SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menghentikan Perjalanan Waktu Hidup Kita
03 February 2019

Saudaraku,
Banyak orang tidak menyadari bahwa kita ada dalam perjalanan waktu. Ketika Tuhan berkata: “Pada hari engkau makan buah itu, engkau akan mati.” Maka sejak itu, tidak bisa tidak, manusia harus tunduk pada perjalanan waktu. Seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa, tidak ada kematian. Seharusnya, waktu tunduk kepada kehidupan. Tapi karena manusia jatuh, maka tidak bisa tidak, kehidupan yang harus tunduk pada perjalanan waktu.

Segala sesuatu ada masanya. Manusia tidak bisa membusungkan dada dan sombong. Sebab siapa pun harus tunduk pada perjalanan waktu. Bahkan tragisnya, ketika anak manusia baru lahir, ia sudah dimasukkan dalam perjalanan waktu. Ia harus tunduk pada perjalanan waktu. Di dalam perjalanan waktu itu, setiap orang pasti akan nenemui ujungnya. Dan Tuhan tidak memberi tahu kepada masing-masing kita, di mana dan kapan ujung dari perjalanan waktu kita itu. Ujungnya bisa 2 hari, beberapa bulan, beberapa tahun.

Tuhan menghendaki demikian -kita tidak perlu tahu ujung perjalanan hidup kita- sebab dengan kita tidak tahu, maka teruji apakah kita memperlakukan Tuhan dengan benar atau tidak. Apakah kita menyelenggarakan hidup ini dengan benar atau tidak. Sebab kalau orang tahu kapan dia akan meninggal, maka sikap berjaga-jaganya tidak natural, tidak proporsional.

Saudaraku,
Matius 25:1-13 adalah perikop tentang 5 gadis bijaksana dan 5 gadis bodoh. Perikop ini berbicara tentang sikap berjaga-jaga. Kedua kelompok gadis sedang menantikan mempelai. Mereka tidak diberi tahu kapan mempelai pria datang, maka tidak heran jika mereka tertidur selama dalam penantian. Mereka sama-sama tertidur. Ini berbicara tentang keadaan manusia yang memiliki kekurangan dan kelemahan. Tapi 5 gadis yang bijaksana, punya minyak cadangan. Di akhir perikop tersebut Tuhan Yesus berkata: “karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu kapan hari dan waktunya.”

Penantian yang ditulis dalam perikop ini belum tentu ini peringatan tentang akhir zaman yang bertalian dengan kedatangan Tuhan. Tapi bisa berbicara tentang ujung kehidupan kita masing2. Tuhan mempersiapkan orang percaya untuk menghadapi keadaan yang tidak pernah mereka duga. Apakah akhir hidup kita ada pembaringan rumah sakit, bangku pesawat terbang yang meledak di udara, atau ada di aspal jalan raya, atau ketika sedang duduk nonyon TV di ruang keluarga? Masing2 kita pasti punya momentum itu. Dan kita tidak tahu kapan.

Itulah sebabnya kita harus berjaga2.
Oleh sebab itu sikap berjaga2 harus kita miliki setiap saat. Ini bicara soal kekekalan. Kalau soal makan-minum-rumah-kendaraan-rumah, itu hal-hal fana yang tidak boleh merenggut waktu kita dengan sia-sia. Kita harus memikirkan kekekakan. Maka, jangan menaruh pengharapan pada apa pun dan siapa pun, pengharapan kita hanya pada kehidupan di balik kubur, yang untuk itu kita berjaga2. Menyadari hal ini, maka setiap orang harus memiliki kedekatan dan perdamaian dgn Tuhan. Tidak boleh ada saat pun kita ada dalam keadaan tidak harmoni dgn Tuhan.

Saudaraku,
Saya mengajak semua kita membayangkan, ketika kita menatap kekekalan yang tidak berujung dan tidak bisa balik lagi -tidak punya kesempatan memperbaiki kesalahan- betapa mengerikan keadaan itu. Tetapi ini yang jarang orang renungkan. Orang berpikir seakan-akan ada di jalan yang tidak berujung dan mereka berpikir keadaan akan selalu dalam keadaan aman. Padahal setiap detik hidup kita bisa berubah. Saya tidak menakut-nakuti Saudara, tapi saya mengajak Saudara berpikir realistis. Bahwa perjalanan hidup kita pasti ada ujungnya. Di ujung itu ada momentum-momentum yang tidak pernah kita duga, yang dahsyat. Maka, setiap saat kita harus bersiap menghadapi keadaan yang tidak pernah kita duga, menghadapi segala situasi.

Saudaraku,
Kalau segenap hidup kita milik Tuhan, kita hanya boleh punya satu agenda, maka waktu kita harus menjadi waktu Tuhan. Ini bagian yg paling sulit. Tapi tidak ada sikap berjaga-jaga yang tepat selain ini. Kita harus menghentikan waktu hidup kita. Sejujurnya, sudah banyak waktu yang kita gunakan untuk kesenangan, kepuasan diri sendiri.

Waktu kita sudah habis; berhenti sampai di sini. Waktu ke depan adalah waktu Tuhan; milik Tuhan. Tidak ada lagi bagian kita untuk mencari kesenangan sendiri, sekarang waktu kita hanya untuk mencari, mengerti dan melakukan kehendak Tuhan. Untuk ini dibutuhkan keberanian, sebab kalau tidak demikian, kita tidak akan memiliki sikap berjaga-jaga yang benar. Mungkin ini kedengarannya ekstrem, tapi ini standar. Alkitab mengatakan bahwa kita telah dibeli dan harganya lunas dibayar; lunas artinya sudah selesai, kita tidak punya keberhakan atas diri kita, tidak ada cita-cita untuk kesenangan diri sendiri lagi.

Semua milik Tuhan dan akhirnya kita cuma punya satu agenda, yaitu kemuliaan Tuhan. Cara kita memuliakan Allah harus seperti Yesus, yang prinsip-Nya melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Ini memang sulit, tapi jika kita punya komitmen yang sungguh-sungguh dan tekad yang kuat, kita akan bisa melakukannya. Kita akan terbiasa melakukannya, sehingga menjadi irama yang menyatu dengan hidup kita.