SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menghargai Jiwa Manusia
19 February 2019

Saudaraku,
Kisah yang ditulis dalam Yohanes 4 mengenai perjumpaan Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria merupakan peta dari hati Tuhan dalam menghargai jiwa manusia. Walaupun Tuhan Yesus sudah sangat lelah dan lapar setelah sepanjang hari dalam perjalanan, tetapi Tuhan Yesus bisa mengabaikan keletihan-Nya demi untuk menjumpai perempuan Samaria di perigi Yakub, dekat kota Sikhar. Itulah yang disebut oleh Tuhan Yesus sebagai rezeki-Nya. Selama ini tidak ada orang yang memedulikan keselamatan dan kehidupan wanita berdosa ini, tetapi Tuhan Yesus memperhatikan dan memedulikannya.

Ketika Tuhan Yesus di kota Yerikho, Ia berjalan terus sampai Ia bertemu dengan Zakheus dan menginap di rumahnya (Luk. 19). Walaupun untuk itu Ia harus mendapatkan kritik dan kecaman pedas dari orang-orang yang menganggap-Nya kompromi dengan orang berdosa. Penjelasan Alkitab yang paling tegas mengenai penghargaan Tuhan terhadap jiwa manusia tertuang dalam pernyataan-Nya sendiri ketika Ia berkata: “…sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28). Hal ini sinkron dengan Lukas 19:10, bahwa Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Di bagian lain Tuhan Yesus mengatakan: untuk apa seseorang memperoleh segenap dunia kalau jiwanya binasa atau kehilangan nyawanya?

Saudaraku,
Sebagai seorang anak Tuhan yang mau menjadi alat peraga Tuhan, kita harus memiliki sikap seperti Tuhan dalam menilai jiwa manusia. Demi keselamatan jiwa manusia, Tuhan Yesus rela mengorbankan apa pun yang ada pada-Nya. Kalau seseorang masih memberi nilai tinggi kepada hal lain lebih dari jiwa manusia, maka ia tidak akan dapat berjalan seiring dengan Tuhan. Orang seperti ini tidak mungkin dapat menjadi kawan sekerja Allah. Kehidupannya tidak mungkin memancarkan keagungan pribadi Tuhan. Bisa dibuktikan, orang yang menghargai nilai jiwa manusia pasti memiliki pribadi yang agung.

Orang yang memiliki sikap hati seperti Tuhan Yesus, pasti memiliki kepedulian terhadap orang lain. Ia merasa bahwa bertanggung jawab atau terbeban atas keselamatan orang lain. Jika demikian, maka apa pun rela ia korbankan demi keselamatan orang lain; harta, perasaan, waktu dan lain sebagainya. Ia memiliki kegigihan yang tinggi dalam ladang pekerjaan Tuhan. Demi kepentingan pelayanan pekerjaan Tuhan, misi dan berbagai pelayanan yang bertendensi menyelamatkan jiwa didukungnya tanpa batas. Orang-orang seperti ini memperagakan kehidupan Tuhan Yesus yang pernah hadir di tengah-tengah dunia dua ribu tahun yang lalu. Untuk hal ini seseorang tidak harus menjadi pendeta atau aktivis gereja. Yang penting melalui segala hal yang dilakukan, ikut mengambil bagian dalam keselamatan jiwa orang lain. Untuk ini jiwanya sendiri harus sudah selamat.

Saudaraku,
Seorang pelayan Tuhan yang melayani karena penghargaannya terhadap nilai jiwa manusia, pasti melayani dengan motivasi yang murni. Ia tidak akan bersikap diskriminatif. Ia tidak membedakan yang kaya dan yang miskin, latar belakang suku, bangsa dan lain sebagainya. Dalam pelayanan, baginya yang penting jiwa-jiwa diselamatkan, bukan pada kebesaran gedung gereja dan jumlah anggota gereja. Tentu keselamatan jiwa di sini bukan sekadar membawa orang menjadi anggota gereja, tetapi mendewasakan semua orang yang sudah mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, sehingga mereka semakin berkarakter Kristus; hidup dalam kesucian Tuhan yang sempurna. Selama seseorang masih hidup dalam dosa dan mencintai dunia, berarti belum diselamatkan, ia tidak mungkin bisa menyelamatkan orang lain.

Karakter Tuhan Yesus ini sangat luar biasa. Tuhan menyambut orang berdosa dan yang sudah jatuh dan terbuang dari masyarakat. Lebih menakjubkan lagi, Ia juga menyambut kembali Petrus yang telah mengkhianati Diri-Nya dengan menyangkal Diri-Nya, justru pada saat di mana Tuhan Yesus membutuhkan pendampingan dari murid-murid-Nya. Dalam pejumpaan dengan Petrus setelah kebangkitan-Nya, Tuhan Yesus tidak mempersoalkan kembali masalah tersebut. Tuhan bersikap seakan-akan peristiwa itu tidak pernah terjadi. Tuhan Yesus mengampuni dan melupakan.

Saudaraku,
Dalam kehidupan masyarakat gereja, sering kita jumpai percakapan-percakapan mengenai orang-orang yang telah bersalah atau jatuh dalam dosa. Lebih asyik lagi kalau yang dibicarakan adalah seorang rohaniwan yang jatuh dalam dosa. Dengan tindakan tersebut secara tidak langsung kita telah menghakimi mereka.

Sejatinya, kalau kita melihat orang berdosa seharusnya kita mendoakan orang tersebut. Jika itu bagian kita dan sesuai dengan komando Tuhan, kita harus menegur dan mengingatkannya. Tindakan tersebut sebagai usaha untuk menghentikan keadaan yang semakin terpuruk dalam kehidupan seseorang. Kalau seseorang tidak mau ditegur, malah melawan dan memusuhi kita, maka kita harus berdiam diri. Kita tidak bersalah terhadapnya dan terhadap Tuhan. Seperti Tuhan Yesus menyambut orang berdosa, kita juga harus memedulikan mereka yang dipandang sebagai manusia rusak. Kita harus membenci dosa, tetapi kita tidak membenci orang berdosa. Hendaknya kita tidak terjebak dalam sikap moralis yang merasa diri benar dan memojokkan serta membuang mereka yang berdosa. Kasih kita yang tulus terhadap mereka yang berdosa merupakan ekspresi dari sikap Tuhan Yesus sendiri.