SURAT GEMBALA Surat Gembala
MENGGENAPI RENCANA ALLAH
24 November 2019

Saudaraku,

Berbicara mengenai rencana Allah yang digenapi dalam hidup kita, kira-kira apa rencana Allah yang digenapi dalam hidup kita? Tidak jarang kita mendengar dan mungkin kita juga mengucapkannya, “Menggenapi rencana-Mu ya Allah.” Pernahkah Saudara benar-benar mempersoalkan hal ini? Apa yang dimaksud dengan rencana Allah dalam hidup kita? Apa kita benar-benar memahami hal ini dan sungguh-sungguh kita mengalami pemenuhan atau penggenapan rencana Allah itu?

Kita adalah anak-anak Allah. Mungkin sebutan itu bagi kita orang Kristen sudah merupakan sebutan yang biasa kita dengar bahkan juga kita ucapkan, sehingga tidak menjadi sesuatu yang agung; tidak lagi kita pandang sebagai sesuatu yang luar biasa. Padahal Saudaraku, sebutan ini sangat luar biasa. Tidak ada agama di dunia ini yang memiliki pengajaran hubungan antara Allah yang disembah dengan umat sebagai hubungan Bapa dan anak. Ini hanya ada di dalam kekristenan.

Tetapi sebutan itu memiliki konsekuensi, memiliki resiko, memiliki implikasi yang berat. Sebab kalau kita mengaku sebagai anak-anak Allah, kita harus benar-benar berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Itu berarti pasti berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah sebagai Bapanya. Itulah sebabnya dalam 1 Petrus 1:17 Firman Tuhan mengatakan “Jika engkau memanggil Allah Bapa, hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia.” Suatu ketakutan yang luar biasa.

Saudaraku,

Ketika kita menjadi anak-anak Allah, maka Bapa di surga merancang setiap individu bagaimana menjadi mulia di mata Allah. Ini berarti kita tidak boleh merancang diri kita sendiri. Kita harus melihat, memahami benar rancangan Allah atas hidup kita. Dan ketika Saudara dan saya menjadi anak tebusan Allah oleh darah Tuhan Yesus, kita menjadi lebih miskin dari orang miskin. Sebab semiskin-miskinnya seseorang, ia masih memiliki hak. Tetapi ketika Tuhan menebus kita, semua yang kita miliki adalah milik Tuhan. Jadi, kalau Saudara merasa memiliki diri sendiri, berarti Saudara menolak penebusan itu, Saudara tidak bisa dimiliki Tuhan karena memiliki diri sendiri.

Saya belajar hal ini Saudaraku, bertahun-tahun, dan betapa sulitnya itu. Untuk mencapai gelar doktor teologi, memang tidak mudah di sekolah yang baik, tapi bisa dicapai. Tetapi Saudaraku sekalian, untuk hidup sebagai anak tebusan yang semua dimiliki Tuhan, itu sangat berat. Ini bukan bicara soal uang yang kita bisa berikan ke gereja. Ini bukan soal status sebagai pendeta atau jemaat awam, pekerja gereja, aktivis gereja atau bukan. Ini bicara apakah kita benar-benar bersedia dimiliki oleh Tuhan dan memenuhi apa yang Bapa rancang bagi kita masing-masing atau tidak.

Semua yang bersifat fana, tidak bernilai di hadapan Allah. Kalau kita punya Allah yang melintasi segala langit, yang memiliki bertrilyun-trilyun planet dan bintang, apalah artinya semua materi di bumi ini? Dan apalah artinya dengan durasi waktu hidup kita yang hanya 70-80 tahun? Tidak ada artinya sama sekali. Jadi, kalau kita sebagai orang Kristen masih berpikir betapa hebatnya Allah menuntun bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, dan itu dianggap sebagai nilai tertinggi yang dimiliki Allah dengan berkat mukjizat-mukjizat yang bisa kita alami, maka betapa “miskinnya” kita.

Saudaraku,

Saya tidak menyangkal kehebatan Allah yang Allah tunjukkan dalam perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan; laut kosong terbelah, tembok Yerikho dirobohkan, roti manna diberikan limpah setiap hari, dan segala berkat-berkat yang lain. Tetapi tahukah Saudara bahwa itu belumlah berarti jika dibanding dengan Allah yang akan membawa kita melintasi segala langit dan kita akan tinggal di langit baru bumi baru? Berpikirlah dengan pikiran yang jauh lebih besar. Apa pun kebahagiaan yang bisa kita nikmati di bumi, apa pun barang-barang dunia yang bisa kita miliki, tidak ada artinya sama sekali.

Tapi banyak pikiran orang Kristen tidak mengerti hal ini. Pikirannya terbelenggu dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, terikat dengan selera dunia. Padahal kita punya Allah Bapa yang memiliki segala kuasa, kemuliaan dan Kerajaan yang kekal. Kita harus bersyukur menjadi orang Kristen yang mengenal Yesus sebagai Juruselamat yang akan membawa kita melintasi langit untuk memiliki Kerajaan yang tidak tergoyahkan; sungguh itu anugerah yang luar biasa.

Oleh sebab itu, Saudaraku, rancangan Allah bukan sekadar siapa jodohku, tinggal di mana, pekerjaan apa. Itu hal-hal yang tidak bernilai besar. Tapi rancangan Allah adalah bagaimana kita menjadi pribadi yang berkenan di hadapan Tuhan. Ini yang Tuhan kehendaki, rancangan-Nya. Dan untuk rancangan ini, kita harus kerja keras. Kita harus mengiring Tuhan Yesus dengan benar. Dan ini bukan hal yang sederhana dan mudah.

Oleh sebab itu bicara mengenai rencana Allah, kita juga harus aktif meresponi rancangan itu agar tergenapi, yaitu bagaimana kita menjadi satu pribadi yang unik, yang tidak sama dengan siapa pun, sesuai dengan rancangan-Nya. Dengan karakter dasar Tuhan kita Yesus Kristus. Jangan sampai di ujung maut nanti Saudara berkata, “Akhirnya yang paling kusesali setelah aku menjalani hidup ini adalah aku tidak menjalani hidupku sendiri.” Hidupku sendiri sebagai anak-anak Allah dengan pola yang Alkitab ajarkan, dengan pola yang Alkitab telah tunjukkan dengan jelas.

Jadi, sebagai umat pilihan Allah kita mengerti bahwa setiap kita memiliki rancangan dari Allah. Maka, mari kita menjadi orang-orang yang terbentuk, dibentuk oleh Tuhan menjadi pribadi agung sesuai rancangan Allah. Itu baru namanya menggenapi rencana-Nya.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono