SURAT GEMBALA Surat Gembala
Mengamati Diri
31 March 2019

Saudaraku,
Diri kita ini seperti sebuah taman. Masalahnya adalah apakah taman hati kita adalah taman yang nyaman untuk dinikmati atau sebaliknya. Diri kita juga seperti masakan. Masalahnya adalah apakah masakan yang lezat dan sehat dinikmati atau sebaliknya. Menjadi hal yang mutlak harus dilakukan untuk mengamati diri dengan seksama guna mengenali keadaan diri dengan benar. Benar tidaknya keadaan diri kita diukur dari penilaian Tuhan atau apa yang dirasakan Tuhan atas diri kita. Untuk ini tidak bisa tidak kita harus mengerti pikiran dan perasaan Tuhan. Dengan demikian kita dapat juga memahami selera Tuhan.

Sebab kalau seseorang tidak memiliki pikiran dan perasaan Tuhan -sehingga tidak memiliki selera Tuhan- maka ia akan salah mengamati diri. Taman hidup seseorang bisa dirasakan nyaman oleh kuasa kegelapan, tetapi tidak nyaman bagi Tuhan. Hal ini sama dengan diri seseorang akan dirasakan lezat bagi kuasa kegelapan, tetapi tidak dirasakan lezat oleh Tuhan. Diri seseorang akan dipandang indah oleh kuasa kegelapan, tetapi tidak dipandang indah oleh Tuhan. Ibarat rumah, diri seseorang dapat menjadi tempat yang nyaman dihuni oleh kuasa kegelapan, tetapi tidak akan pernah dihuni oleh Roh Tuhan. Semua hal ini berbicara mengenai kemampuan mengamati diri.

Saudaraku,
Oleh sebab itu seseorang harus terus menerus melakukan pembaharuan pikiran sehingga sampai titik memiliki pikiran perasaan Tuhan dan mengembangkan selera Tuhan di dalam dirinya. Dengan demikian barulah seseorang dapat mengamati diri dengan benar. Kemampuan mengamati diri dengan benar ini sama dengan “mata” yang dimaksud Tuhan dalam Matius 6:22-23. Mata ini adalah satu-satunya “penglihatan” jiwa seseorang untuk mengamati diri dengan benar. Kalau “mata” seseorang sudah gelap, maka betapa gelapnya kegelapan dalam diri orang itu, sebab tidak ada cara lain untuk dapat mengamati diri. Jadi, Tuhan tidak bisa disalahkan ketika berkata: “Aku tidak mengenal kamu” kepada orang-orang Kristen, bahkan “hamba-hamba Tuhan” yang mengaku sudah melakukan pekerjaan Tuhan (Mat. 7:21-23). Tidak mengenal di sini artinya sama dengan tidak menikmati (Yun. ginosko; γινώσκω).

Dalam hal ini Tuhan tidak menjebak, seakan-akan pada saat dimana seseorang tidak ada kesempatan lagi memperbaiki diri lagi, Tuhan mendadak menyatakan hal itu. Seharusnya, jauh-jauh hari seseorang sudah mulai mengamati diri dan mengenalinya dengan baik, apakah dirinya bisa dinikmati oleh Tuhan atau tidak. Kalau seseorang “tahu diri”, maka dalam hidup ini lebih dari segala yang diusahakan adalah usaha untuk menjadi seseorang yang dapat dinikmati oleh Tuhan. Dinikmati oleh Tuhan maksudnya bahwa segala sesuatu yang dilakukan menyukakan hati Tuhan; hidup tidak bercatat dan tidak bercela. Kudus seperti Allah Bapa sendiri.

Saudaraku,
Masalahnya, sangat jarang manusia -termasuk orang-orang Kristen- yang berusaha mengamati diri dengan seksama supaya dapat dinikmati oleh Tuhan. Biasanya orang berusaha menikmati dirinya sendiri. Menikmati “dagingnya dan jiwanya”. Dagingnya menyangkut makan minum, pesta pora dan kemewahan serta seks. Sedangkan menikmati kepuasan jiwa menyangkut kepahitan, kebencian, kemarahan, harga diri, kehormatan, kecemburuan dan lain sebagainya. Mereka melakukan semua itu tanpa sadar sepenuhnya bahwa hal itu mendukakan hati Tuhan. Mereka menganggap bahwa hal itu adalah fenomena wajar dalam kehidupan, sampai hari tuanya mereka tetap terbelenggu dengan selera yang sesat tersebut, sampai akhirnya kebinasaan menjemput mereka.

Karena hampir semua orang melakukan hal itu, maka mereka memandang bahwa tindakan tersebut tidak melanggar etika kehidupan. Hidup standar tersebut mendarah daging menyatu dalam diri, sehingga mereka tidak lagi memiliki “mata” yang terang untuk dapat mengamati diri dengan benar. Inilah orang-orang yang sejatinya hidup di dalam kegelapan. Tidak sedikit orang Kristen yang berkeadaan seperti ini. Oleh sebab itu sebelum keadaan memburuk, yaitu tidak lagi mampu berbalik dari jalan yang salah, maka kita harus segera berbalik kepada Tuhan. Usaha untuk berbalik ini pun juga membutuhkan waktu panjang, sebab setelah sekian tahun hidup dalam kesalahan atau kerusakan, tidak mungkin dalam sekejap dapat memperbaiki diri.

Saudaraku,
Dalam usaha pemulihan, kadang seseorang merasa jenuh sebab merasa bahwa pertumbuhan kedewasaan rohaninya bergerak lambat atau terasa tidak bergerak sama sekali. Sementara itu, ia juga menyaksikan bahwa hidup “biasa-biasa” saja dirasa cukup. Kemudian ia berhenti mengusahakan diri untuk bertumbuh melalui belajar kebenaran dan hidup dalam doa. Inilah yang dimaksud oleh penulis kitab Ibrani sebagai “putus asa dalam pergumulan melawan dosa” (Ibr. 12:2-4). Kadang-kadang Tuhan menegornya, kemudian ia bertobat. Tetapi berulang kembali hidup dalam kesuaman. Bila hal ini berulang-ulang terus, maka sampai suatu saat ia tidak bisa bangkit lagi. Inilah masa kegelapan.

Hendaknya kita menghindarkan diri dari stadium tersebut. Sebab itu adalah stadium paling mengerikan dalam kehidupan. Roh Kudus tidak lagi berbicara, sehingga ia tidak mampu lagi bangkit. Bisa jadi ia sampai taraf menghujat Roh Kudus. Dalam hal ini hanya orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan berniat kuat menyukakan hati Tuhan yang bisa melewati saat-saat kritis sehingga bisa memulihkan diri. Hal ini sangat tergantung kepada masing-masing individu, bukan Tuhan. Tuhan menyediakan lawatan dan pembentukan, manusia yang harus meresponinya.
Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono