SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menerima Keadaan
18 December 2020

Saudaraku,

Roma 8:28 memuat kebenaran yang kalau kita gali seperti sumur atau mata air yang tidak pernah kering. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” Dalam teks aslinya, tidak ada kata ‘turut,’ jadi: Allah bekerja di dalam segala sesuatu; artinya tidak ada sesuatu atau suatu keadaan di mana Allah tidak terlibat, untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Itu berarti, dalam segala keadaan, Allah hadir. Dalam setiap situasi, Allah hadir. Saudara akan mudah menjawab atau merespons perkataan saya ini dengan kata ‘amin,’ tetapi tidak mudah untuk mengakui kehadiran Allah, keterlibatan Allah dalam keadaan-keadaan dimana kita merasa tersakiti, terlukai, kita dirugikan.

Orang-orang yang telah mencapai kedewasaan penuh bisa mengerti dan menerima kehadiran Allah dalam segala keadaan tersebut, yaitu jika kedewasaan tersebut ditandai dengan:

Pertama, Tuhan menjadi kebahagiaan hidup satu-satunya. Banyak fakta dan kejadian yang menyakitkan, terasa merugikan, dsb. Saat-saat seperti itu, sulit kita menerima kenyataan bahwa Allah hadir dan terlibat di dalam keadaan tersebut kecuali kita dewasa. Kedewasaan rohani ditandai dengan menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan kita. Ketika kita menjadikan sesuatu itu sebagai kebahagiaan, itu bisa membangkitkan kecemburuan hati Tuhan. Tidak jarang Tuhan membawa orang-orang yang memang punya komitmen mengasihi Dia kepada keadaan-keadaan yang menyakitkan dan sulit. Keadaan sulit itu sebenarnya merupakan panggilan untuk pulang.

Kedua, ketika seseorang memiliki tujuan hidup hanya Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kalau Tuhan menjadi tujuan hidup kita, maka keberkenanan di hadapan Tuhan menjadi segalanya dalam hidup kita, sehingga tidak ada yang bisa menenggelamkan kita. Orang yang dewasa, orang yang bisa menghayati kefanaan atau kesementaraan hidup dengan fokus atau orientasi hidup pada langit baru bumi baru.

Ketiga, ketika seseorang berusaha mengisi hidupnya dengan berkenan di hadapan Tuhan. Kalau Saudara membaca kisah mengenai anak terhilang, sering dilupakan timbulnya bencana kelaparan dalam negeri itu, dan ia mulai melarat. Kalau tidak timbul bencana kelaparan, saya tidak yakin si bungsu pulang. Jadi, keadaan itu yang membuat dia melarat, sehingga dia harus kembali ke orangtuanya. Anak bungsu ini bertobat.

Ketika kita berkomitmen untuk mencintai dan mengasihi Tuhan, Tuhan memproses kita sampai kita bisa mengalami pertobatan; pertobatan yang membawa kita sampai menjadi paranoia; perubahan pikiran. Tuhan memberikan keadaan-keadaan yang tidak nyaman untuk memroses kita sampai kita berkeadaan berkenan di hadapan-Nya.

Kalau saya tadi bicara soal kecemburuan Tuhan, bisa membangkitkan hajaran Tuhan, kalau dalam kehidupan orang Kristen, Tuhan mau mengangkat batu dosa, virus dalam diri kita. Tuhan harus mengadakan suatu keadaan yang membongkar atau mengobrak-abrik batu-batu dosa dalam hidup kita. Jadi kalau dikatakan bahwa Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan, berarti Allah membutuhkan keadaan-keadaan tertentu untuk memberi kebaikan, dan kebaikan itu jangan lupa: untuk serupa dengan Yesus. Serupa dengan Yesus itu bukan hal yang sederhana dan mudah. Ini hal yang luar biasa. Kita tidak tahu, seberapa banyak ‘sampah-sampah’ dalam kedalaman batin kita. Makanya, betapa berharganya waktu yang Tuhan berikan kepada kita itu.

Allah bekerja dalam segala hal, hanya untuk mereka yang mengasihi Allah. Atau paling tidak, untuk mereka yang masih diberi kesempatan untuk mengasihi Allah. Mengasihi Allah itu juga bisa relatif, tergantung dari proses pendewasaan yang dialami seseorang. Namun kalau orang sudah diberi kesempatan mengasihi Allah tapi tidak memenuhinya, Tuhan tidak salah kalau kemudian menghukum orang ini atau menyamakan dengan orang yang tidak mengenal Allah. Jadi kalau Tuhan memberi kesempatan hari ini, jangan sia-siakan. Dan ini memang terkait dengan waktu hidup kita. Jangan mengarahkan hatimu kepada yang lain. Tapi arahkan hatimu kepada Tuhan. Jangan menimbulkan kecemburuan hati Tuhan. Jadi tidak ada cara mudah atau shortcut untuk menjadi serupa dengan Kristus yang merupakan standar yang ditentukan oleh Allah.

Saudara harus mengerti betapa sulitnya mengubah diri. Justru ketika orang berkata, “Sulit sekali untuk menjadi benar,” ia sudah berada di track yang benar. Kalau kita hanya sampai pada perubahan menjadi baik atau standar umum, mungkin tidak sulit. Tetapi kalau kita mau sampai pada standar serupa dengan Yesus, ini standar yang ditentukan Allah, itu sulit. Sekarang, setelah sekian puluh tahun saya menjadi orang Kristen, di hari senja saya, saya mengenali satu hal: semakin kita mau berkenan di hadapan Tuhan, semakin banyak kita temukan cacat karakter kita yang Tuhan akan garap melalui segala peristiwa hidup yang terjadi, yang sering saya istilahkan untuk menyelesaikannya dengan baik; finishing well.

Jadi kita harus bisa mengerti dan menerima, bahwa segala peristiwa hidup yang kita alami itu mengandung berkat. Sebab di mana Allah hadir, pasti ada berkat abadi atau berkat kekal. Dan berkat kekal itu serupa dengan Yesus. Jadi, saya tidak bicara untuk orang yang masih manja, yang mau hidup tanpa masalah atau persoalan. Kalau sampah dosa kita makin bersih, kita akan makin efektif menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk menolong orang lain.Tapi kalau kita makin sibuk dengan urusan kita sendiri, maka kita masih pada taraf penderitaan atau kesulitan yang kita alami, atau keadaan nyaman yang kita alami sampai pada proses pembersihan diri. Kalau ini sudah lewat, mestinya kita masuk pada proses pikul salib.

Keempat, menjadikan langit baru dan bumi baru sebagai tujuan. Setelah kita menetapkan tujuan hidup kita secara benar, baru kita bisa menerima segala keadaan, dan keadaan itu membuahkan pengudusan, kedewasaan rohani yang matang dan permanen; keserupaan dengan Yesus. Baru kita bisa pikul salib, artinya kita baru bisa menderita demi pekerjaan Tuhan. Dan akhirnya, kita layak dimuliakan dengan Tuhan (Rm. 8:17), hanya orang yang menderita bersama-sama dengan Tuhan yaitu orang yang akan dimuliakan bersama Tuhan.

Akhir kata, hanya orang yang patah hati dengan dunia yang bisa menerima keadaan dengan sikap penerimaan yang benar. Orang yang belum patah hati dengan dunia, masih mengharapkan dunia membahagiakan, tidak mungkin bisa menerima keadaan yang menurut dia tidak nyaman dan tidak membuat dia bahagia. Jadi, berbahagialah Saudara yang mengalami patah hati dengan dunia ini.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono