SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menemukan Arti Dan Nilai Kehidupan (4)
29 September 2019

Saudaraku,

Kita secara pribadi pasti tahu kekurangan kita apa, maka selesaikan itu, kecuali memang Saudara tidak mau berubah. Mungkin malah bangga dengan keadaanmu. Tuhan berkata, “lebih baik kamu ke surga dengan mata sebelah daripada dengan mata utuh kamu ke neraka”. Ayo, kita berubah. Bumi tidak akan memberi kenikmatan, nanti di langit baru bumi baru. Makanya kita ada di sini sekarang ini, kita serius membenahi diri. Kita harus mendaftarkan semua kelemahan-kelemahan kita. Menyelesaikannya dengan sungguh-sungguh, sebelum menjadi tindakan, sebelum berbuah dalam perilaku nyata/konkret. Tuhan punya tatanan, Tuhan hanya bisa menasihati, menegur. Tetapi kalau orang yang dinasihati, tetap berkeras, Tuhan tidak bisa melindungi atau membela orang-orang seperti itu. Tuhan menasihati Adam dan Hawa, tetapi tidak mencegah ketika Hawa memetik buah yang dilarang oleh Tuhan, dan dengan pilu Tuhan mengusir Adam dan Hawa.

Roh Kudus akan memampukan kita untuk berubah. Jadi jangan berpikir dengan menjadi Kristen, ke surga itu mudah. Dengan anugerah dalam Yesus Kristus itu maka ada program sempurna, program anak-anak Allah. Program anak-anak Allah bukan hanya sekadar berstatus anak-anak Allah, tapi berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Menjadi Kristen membuat hidup kita berat karena kita masuk program ‘must be perfect as just our Father in heaven is perfect’. Ini sangat berat.

Saudaraku,

Tidak bisa tidak kita harus kudus, itu mutlak. Kalau Saudara tidak kudus, berarti Saudara memberontak. Alkitab mengatakan siapa yang menolak ini, kamu menolak Allah (1Tes. 4:7). Jadi jangan berpikir bahwa dengan adanya anugerah ke surga jadi mudah seperti masuk jalan tol. Salah! Kalau hanya beragama, cukup melakukan hukum (seperti agama Yahudi -cukup menjadi orang baik- dihakimi menurut Taurat yang tertulis), tetapi menjadi anak-anak Allah standarnya berkenan kepada Bapa di surga. Tidak bisa tidak mau, itu prerogatif Allah dan Saudara dan saya ditunjuk untuk itu.

Jadi perdamaian kita dengan Bapa itu beresiko tinggi, sebab “kamu harus kudus seperti Aku kudus” (1Ptr.1:16). “Kalau kamu memanggil Allah itu Bapa, hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia” (1Ptr. 1:17). Saudara tidak bisa hidup wajar lagi. Kalau hidup wajar, Anda pasti terbawa oleh dunia, terhanyut oleh dunia. Tidak bisa hidup wajar. Kekristenan itu harus mengubah manusia menjadi seperti Yesus. Kurang dari itu, bukan Kristen. Kalau Tuhan Yesus berkata “jadikan semua bangsa murid-Ku”, di balik pernyataan itu termuat mandat “jadikan orang memiliki hidup seperti hidup yang kau jalani, sebab Aku telah menunjukkan bagaimana hidup seperti yang Aku inginkan”. Dan memang generasi setelah murid Tuhan Yesus di Antiokhia, orang percaya disebut Kristen karena seperti Kristus.

Orang yang memindahkan hatinya di Kerajaan Allah -yang membuat dia hidup tidak bercacat, tidak bercela, yang membuat dia tidak mencintai dunia, yang membuat dia rela bertaruh apa pun demi kepentingan pekerjaan Tuhan, yang membuat dia tidak takut mati- itu pasti memancar. Anak-anak muda kita harus menemukan orang tua-orang tuanya yang telah memindahkan hati di Kerajaan Allah. Kalau tidak, anak-anak muda kita akan merasa bahwa dunia itu tempat mereka bisa meneguk kesenangan dan kebahagiaan. Tapi kalau orang tua-orang tua hatinya tertaruh di Kerajaan Allah, sukacitanya pada Tuhan, anak-anak akan ikut. Kita lihat bagaimana anak-anak kita menyerap apa yang kita lakukan. Jangan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Saudaraku,

Sekarang bukan masalah Anda di denominasi mana, Protestan/Pentakosta/Katholik, tidak bicara lagi denominasi. Kita tidak lagi bicara soal liturgi. Kita bicara soal hidup yang diubah untuk berkodrat Ilahi. Terutama Saudara yang mau dipanggil pulang. Ada di antara Saudara yang mungkin tidak lama akan dipanggil pulang Tuhan. Kalau tidak bersiap-siap hari ini, celaka. Oleh sebab itu, ketenangan yang kita harapkan hari ini bukan karena kita punya standar hidup yang sudah memenuhi standar umum. Standar hidup itu akan berubah terus. Sudah punya sepeda, mau motor. Sudah punya motor, mau mobil. Sudah punya mobil, mobilnya kurang dingin karena minibus, mau sedan. Sudah punya sedan, mau beli sedan yang lain, yang build up. Bergerak terus.

Lalu jangan punya cita-cita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Tuhan tahu Saudara butuh apa. Lalu jangan berpikir kalau masalah-masalah selesai, kita menjadi tenang. Itu artinya kita memberhalakan masalah. Jadi kalau kita punya tingkat ekonomi hari ini seperti yang Anda miliki, jangan mau menaikkan. Tidak usah, jalani saja. Kalau Anda punya cita-cita, perkarakan dengan Tuhan dan sebaiknya tidak perlu cita-cita yang bisa membuat Saudara malah damai. Jalani saja.

Ini serius, ini ketenangan yang sesungguhnya. Yang Saudara kejar adalah bagaimana Anda hidup tidak bercacat, tidak bercela, karena dunia ini bukan rumah kita. Tidak mudah melakukannya. Biar orang bilang apa tentang kita, tunggu saja nanti perhitungannya dan itu memicu kita untuk benar-benar hidup benar; hidup tidak bercacat, tidak bercela.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono