SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menemukan Arti Dan Nilai Kehidupan (3)
22 September 2019

Saudaraku,

Banyak hal yang tidak pernah kita duga bisa terjadi dalam hidup kita. Itulah sebabnya hampir selalu saya katakan di dalam doa pribadi, “Aku berlindung kepada-Mu, ya, Bapa.” Bukan hanya pada waktu kita sedang menghadapi masalah yang tidak bisa kita tangani atau tanggulangi. Juga pada saat dimana semua keadaan tenang, nyaman, cukup -bahkan limpah- kita harus selalu bergantung pada Tuhan, pada Bapa di surga. Sebab dengan sikap bergantung, maka hal ini akan memicu kita untuk hidup tidak bercacat tidak bercela. Akan memicu kita untuk menjaga diri agar kita tidak melukai hati-Nya.

Orang yang memiliki pengalaman hidup dimana ia selalu bisa menyelesaikan masalah dengan uang, relasi, maka akan terbentuk karakter dimana ia bisa menggampangkan masalah. Semua masalah mungkin bisa diselesaikan dengan uang dan kekuatan relasi, tetapi kalau orang sudah berdiri di depan takhta pengadilan Kristus tidak ada yang bisa menopang kecuali kesucian hidup. Itulah sebabnya satu hal yang harus kita lakukan lebih dari segala hal, yaitu hidup tidak bercacat, tidak bercela. Dan setiap kita pasti tahu apa kesalahan-kesalahan kita.

Banyak orang hanya menyelesaikan kesalahan dengan minta pengampunan dosa, tetapi tidak menyelesaikan kelemahan dengan perjuangan. Kelemahan yang bisa melahirkan dosa. Maka sebelum membuahkan perbuatan dengan segala sanksi beratnya, kita sudah bisa mengelola itu dalam batin dan menyelesaikannya, sampai akhirnya kita bisa melewatinya.

Saudaraku,

Inilah hidup. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat bumi ini terlaknat, terhukum, sehingga bumi tidak akan menjadi tempat hunian abadi dan hunian yang ideal. Jadi selama kita hidup di bumi ini, kita bertarung melawan diri kita yang telah kehilangan kemuliaan Allah atau belum bisa mencapai standar kesucian Tuhan. Tuhan menyediakan pilihan sejak manusia jatuh dalam dosa dan Tuhan menghukum bumi ini, sebab manusia telah kehilangan kemuliaan Allah tidak layak, tidak pantas menikmati ciptaan Allah yang sempurna, harus dihukum. Allah tidak bisa dipermainkan. Maka Allah menyiapkan pilihan langit baru bumi baru. Yang manusia harus disempurnakan supaya layak menikmati ciptaan Allah yang sempurna.

Itulah sebabnya kita harus memindahkan hati kita. Jadi sejak manusia jatuh dalam dosa, lalu Allah memberi opsi langit baru bumi baru, maka Allah memanggil satu sosok pria hebat bernama Abraham. Dan Abraham menjadi bapak orang percaya, artinya menjadi contoh bagaimana orang yang beriman dengan benar itu. Abraham sudah memindahkan hatinya di Kerajaan Surga. Sedikit sekali orang yang memindahkan hatinya di Kerajaan Surga hari ini. Orang yang memindahkan hatinya di Kerajaan Surga, orang yang pasti hidup tidak bercacat, tidak bercela. Yang dia takuti hanya satu: kalau ditolak oleh Allah.

Makanya ia belajar bergantung pada Tuhan dalam segala hal, dan kalau sudah punya irama bergantung kepada Tuhan, maka seiring dengan kesuciannya bertumbuh, ia siap menghadapi pengadilan takhta Kristus itu. Tapi kalau orang tidak terbiasa hidup dalam ketergantungan kepada Tuhan, biasa dan bisa menyelesaikan semua masalah dengan kekuatan yang dia miliki (uang maupun relasi), dia akan menggampangkan masalah. Terbentuk karakter yang meremehkan masalah.

Saudaraku,

Orang yang memindahkan hatinya di surga tidak mungkin jadi serakah. Dia akan merasa cukup. Dan kalau orang merasa cukup, orang seperti ini baru merdeka. Dia berani menghadapi apa pun, karena tidak ada yang dia mau capai. Orang yang telah memindahkan hati di Kerajaan Surga, pasti orang-orang yang tidak akan terikat dengan dunia ini, tapi bukan berarti Saudara tidak bekerja keras, tidak mengoptimalkan potensi. Kita harus memaksimalkan potensi, sebagai bentuk tanggung jawab kita.
Orang yang memindahkan hatinya di Kerajaan Surga, orang yang pasti merindukan kematian, bertemu dengan Tuhan. Memang kita tidak bermaksud mau mati muda, tapi kita tidak takut menghadapi kematian. Jadi kalau Saudara takut mati, itu ada yang salah dalam hidupmu.

Jadi, bumi tidak akan dapat memberikan kenikmatan secara ideal sebab sudah dikutuk. Kadang-kadang ada orang dan persekutuan-persekutuan Kristen menawarkan Tuhan dan kuasa-Nya untuk mencapai hal-hal fana tersebut. Itu bukan Tuhan yang benar. Tuhan yang benar ialah Tuhan yang mengajarkan bagaimana menikmati damai sejahtera dan sukacita dari Dia. Maka kita harus belajar kebenaran, dan mengalami pembaharuan pikiran.

Jadi kalau Saudara berniat menikmati dunia tanpa hubungan yang ideal dengan Allah, maka Saudara berkhianat kepada Tuhan. Tetapi kalau Saudara memiliki hubungan yang benar, yang harmoni dengan Tuhan, tidak harus sepiring makanan, sesuap juga bisa membahagiakan kita. Pada umumnya orang berpikir makin banyak jumlahnya makin bahagia, makin tenang, terjamin, aman. Salah! Orang-orang sombong seperti ini suatu hari akan dipermalukan. Bukan ‘berapa banyak’ yang kita miliki, tapi ketika kita memiliki hubungan yang harmoni dengan Tuhan, maka berapa pun dan apa pun jadi menyenangkan. Makanya, untuk hubungan harmoni kita, harus hidup tidak bercacat, tidak bercela.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono