SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menemukan Arti Dan Nilai Kehidupan (2)
15 September 2019

Saudaraku,

Masalah adalah nutrisi jiwa yang Tuhan izinkan terjadi untuk mendewasakan kita. Dalam setiap peristiwa hidup yang dialami tidak mungkin tidak ada tangan Tuhan, karena Allah bekerja dalam segala hal. Di situ Saudara justru mengalami sebuah persekutuan dengan Tuhan melalui pengalaman hidup; yaitu bagi yang sadar bahwa dia dididik oleh Bapa untuk menjadi mempelai-Nya. Dikatakan oleh firman Tuhan bahwa Tuhan mau kita menjadi mempelai yang tidak bercacat, tidak bercela.

Anda tidak boleh merasa minder, jangan merasa warga kelas dua, jangan merasa tidak istimewa di hadapan Tuhan, karena setiap kita itu istimewa. Tuhan tidak menentukan orang tertentu jadi mempelai-Nya dan yang lain tidak, Tuhan tidak diskriminatif. Semua kita ini istimewa. Justru kalau Saudara tidak pernah mengalami mukjizat, hal-hal spektakuler, tapi Saudara percaya Tuhan, itu yang benar. “Berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat”.

Setelah dewasa, baru kita akan dipercayai Tuhan memikul salib (penderitaan yang kita alami untuk kepentingan orang lain atau pekerjaan Tuhan). Jadi Yohanes 4:34 yang mengatakan, “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” itu sangat pribadi, very confidential. Karena kehendak Allah dalam hidup kita masing-masing berbeda, karena kita orang percaya bukan hanya hidup menuruti hukum. Jelas, kita harus punya kesantunan hidup menurut hukum, tetapi dalam segala hal itu harus sesuai dengan kehendak Allah. Masalah yang kita alami berbeda-beda, tetapi Saudara harus mengambil keputusan, bertindak, dan bereaksi selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Saudaraku,

Banyak orang hanya mengurusi hidupnya sendiri. Padahal Tuhan mau kita punya ikatan emosi dengan Dia. Tapi yang sampai tingkat ini sangat sedikit, karena orang mengurusi dirinya sendiri. Jangankan memikul salib, menanggalkan beban dan dosa juga belum dan tidak. “Belum”, artinya kita semua belum sempurna. Kalau “tidak”, itu ironis, karena Saudara tidak punya kesempatan hidup kedua.

Tidak ada bisnis lain yang kita lakukan kecuali ini, menjadi perawan suci; hidupmu berubah, hidupmu benar. Tidak cukup menjadi baik. Di situlah arti nilai hidup. Umat pilihan, berbeda dengan umat Israel yang orientasinya masih berkat jasmani. Maka di sini diajarkan Doa Bapa Kami, bukan Doa Yabes. Doa Yabes tidak salah, untuk usia rohani tertentu, boleh. “Kiranya Allah memberkati kami berlimpah-limpah”, tapi kalau Tuhan Yesus mengajar kita “berikanlah makanan kami hari ini secukupnya”.

Semua kita memiliki tempat. Kita harus memaksimalkan potensi, kerja keras, karir, cari uang yang banyak. Menjadi mempelai Tuhan yang tidak bercacat, tidak bercela, dalam segala hal. Jadi kalau kita karir, kita kerja, kita banyak uang, bukan karena makin banyak kita punya makin bahagia, makin lengkap, makin utuh. Bukan bermaksud makin banyak yang kita punya, kita makin terjamin, tetapi agar kita semakin efektif bagi pekerjaan Tuhan. Orang-orang yang dimiliki dunia seperti ini tidak pernah jadi mempelai Kristus.

Saudaraku,

Tuhan mengunci manusia dengan dua hal: Kesatu, ada rongga kosong dalam jiwanya yang tidak bisa diisi oleh apa pun dan siapa pun, selain Tuhan. Yesus berkata kepada perempuan yang ditemui-Nya di dekat Kota Sikhar, di perigi Yakub, “kamu minum air ini, kamu haus lagi. Tidak dengan air yang Kuberikan kepadamu.” Kalau Saudara masih berkeras, saya tidak bisa menghalangi. Jangankan saya, Tuhan pun tidak bisa dan tidak mau menghalangi. Silakan, tapi Anda berkhianat kepada Tuhan. Engkau tidak akan pernah puas dengan dunia ini. Dikunci dengan dua hal; ada rongga kosong yang hanya bisa diisi oleh Tuhan.

Yang kedua, bumi terhukum. Kalau bumi terhukum, bumi tidak akan bisa memuaskan jiwamu. Allah mau kita memiliki dunia yang baru; langit baru bumi baru. Maka kita harus memindahkan hati kita di dalam Kerajaan Surga sejak sekarang ini.

Pelayanan gereja harus mengarahkan jemaat untuk menjadi perawan suci bagi Kristus. Tidak ada ikatan dunia lagi dan tidak ada dosa-dosa yang membelenggu kita. Percayalah, tidak ada orang yang lebih berbahagia dari orang yang bisa membahagiakan hati Tuhan.

Tuhan itu seakan-akan mati untuk orang yang tidak mengejar kesucian. Tapi orang-orang yang mengejar kekudusan (hidup tidak bercacat, tidak bercela) dan selalu memperkarakan setiap perilakunya, dia akan merasakan kehadiran Tuhan dan memiliki kesaksian dalam hati bahwa Tuhan itu hidup. Kalau Saudara memperkarakan hal ini, bertanya kepada diri sendiri, “sudahkah aku jadi perawan suci di hadapan Tuhan yang terlepas dari ikatan dunia dan hidup dalam kesucian Allah?” kira-kira apa yang akan Saudara jawab?

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono