SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menemukan Arti Dan Nilai Kehidupan (1)
08 September 2019

Saudaraku,

Pada akhirnya, arti dan nilai hidup manusia tidak kita temukan di mana pun dan tidak kita temukan di dalam siapa pun, tetapi kita temukan hanya di dalam Tuhan, di dalam Allah, Pencipta kita. Tetapi menemukan Pencipta kita itu tidak mudah, sebab kalau kita mau menemukan Pencipta kita dan memiliki hubungan yang harmoni, kita harus memiliki hati yang tidak bisa dibahagiakan oleh apa pun selain Dia. Inilah yang sebenarnya sulit dibahasakan untuk manusia hari ini.

Orang yang masih bisa dibahagiakan oleh dunia ini adalah orang-orang yang dimiliki dunia. Tidak mungkin bisa berwajah Tuhan. Apa yang membahagiakan seseorang itulah belenggunya, itulah tuan atau majikannya, yang kepadanya hidupnya diarahkan, yang kepadanya pasti dia mengabdi, itulah kekasih jiwanya. Tentu orang-orang seperti ini tidak bisa menjadi perawan suci di hadapan Allah. Padahal menjadi orang percaya itu kita dikehendaki menjadi mempelai Tuhan. Saudara dan saya memang “diprogram” untuk menjadi mempelai. Dan untuk menjadi mempelai, seseorang harus memiliki standar dan standarnya itu Tuhan Yesus.

Ketika Tuhan mengutuk bumi ini, maka pertama, bumi tidak lagi menjadi hunian yang abadi. Tidak bisa menjadi hunian yang kekal. Yang kedua, bumi tidak lagi menjadi hunian yang ideal. Jadi menjadi hunian yang sementara dan hunian yang bercacat. Onak dan duri akan dihasilkan, jadi tidak ideal. Di sini diisyaratkan bahwa Tuhan menciptakan bumi lain (langit baru dan bumi baru) dan isyaratnya jelas, Ia memanggil Abraham untuk keluar dari Ur-Kasdim ke negeri yang Tuhan tunjukkan. Dan ternyata negeri itu bukan negeri ini. Ibrani 11 menunjukkan bahwa ternyata negeri itu adalah Kanaan Surgawi.

Saudaraku,

Bumi terhukum, berarti bumi tidak lagi menjadi hunian yang tidak ideal. Allah yang benar tidak akan membahagiakan Saudara dengan materi dunia atau apa pun, tapi Allah yang benar akan membahagiakan kita dengan diri-Nya. Dan kalau kita bertumbuh dewasa, kita bisa dibahagiakan oleh Tuhan atau bisa menikmati Tuhan, maka apa pun yang kita miliki akan membahagiakan, berapa pun jumlahnya, bagaimana pun kualitas materi yang kita miliki, itu akan cukup bagi kita. Karena Yesus cukup bagi kita. Ini memang kedengarannya filosofis, dan jujur saja sedikit sekali orang yang sampai pada level ini.

Saudara harus memperlengkapi pikiran dengan satu hal, bahwa hidup itu bukan hanya di bumi. Justru hidup yang sesungguhnya itu nanti di langit baru bumi baru. Bumi sudah terkutuk. Manusia yang sudah kehilangan kemuliaan Allah, tidak layak menikmati bumi yang sempurna. Maka Tuhan kutuk. Tapi ada langit baru bumi baru yang sempurna, yang akan dihuni oleh orang-orang yang disempurnakan. Tentu Yesuslah sebagai standarnya.

Jadi adalah sebuah pengkhianatan kalau Saudara berpikir dengan memiliki banyak, memiliki yang berkualitas menurut ukuran manusia, hidupmu terasa lengkap, utuh, lebih bahagia, lebih terjamin. Itu pengkhianatan. Maka, begitu kita menjadi orang percaya, kita memiliki langkah iman seperti Abraham. Abraham itu seorang musafir, dia hidup dalam penghayatan sebagai pendatang di bumi (Ibrani 11). Kita pun juga pendatang. Tuhan Yesus berkata, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini. Aku bukan dari dunia ini, kamu juga bukan dari dunia ini.”

Saudaraku,

Tetapi ini bukan sesuatu yang mudah, menemukan Tuhan untuk menjadi mempelai-Nya, kita tidak boleh terikat dengan dunia ini. Tetapi karya salib ini luar biasa, karena kita bisa dipertemukan dengan Bapa di surga dan di dalam anugerah-Nya itu kita boleh ikut perlombaan yang diwajibkan. Dan perlombaan yang diwajibkan itu adalah menjadi seperti Yesus (Ibr. 12:2-4). Untuk menemukan nilai, arti hidup tidak mudah. Tuhanlah arti dan nilai kita. Tapi untuk menemukan ini tidak mudah, seseorang harus berkeadaan tidak bisa dibahagiakan oleh dunia. Kalimat lain yang mungkin lebih mengerikan: meninggalkan segala sesuatu. Seperti Abraham meninggalkan Ur-Kasdim. Kita meninggalkan dunia bukan berarti lalu kita tidak hidup di tengah-tengah masyarakat. Keterikatan hati kita dengan dunia yang harus dilepaskan. Dan Bapa mendidik kita sebab perdamaian yang diadakan oleh Tuhan Yesus atau oleh karena salib itu membuat kita berdamai dengan Bapa, Bapa memberikan kita Roh Kudus dan menuntun kita.

Setiap Saudara itu istimewa, ditebus oleh Tuhan Yesus Kristus. Supaya dididik oleh Bapa, mengambil bagian dalam kekudusan Allah, dan menjadi mempelai Tuhan Yesus. Kehadiran Allah dalam hidup kita tidak harus selalu melalui kejadian-kejadian yang spektakuler, tetapi melalui pengalaman hidup setiap hari Tuhan hadir membentuk kita. Justru pengalaman yang Tuhan izinkan kita alami, yang berdaya guna untuk mengubah kita, itu pengalaman dari waktu ke waktu, dari saat ke saat. Saudara bisa menangkap manuver Tuhan di dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Maka kita harus memahami kebenaran, karena kebenaran itu akan memberikan kita landasan untuk mengerti tindakan-tindakan Tuhan tersebut.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono