SURAT GEMBALA Surat Gembala
MENEMUKAN ALLAH 3 (Tanpa Batas)
26 July 2020

Saudaraku,

Ada satu hal yang ingin saya ajak Saudara benar-benar memikirkannya. Dan hal ini mestinya cukup membuat kita gentar. Coba kita renungkan, hanya ada satu Allah yang benar. Tetapi di dunia ini kita dapati ada banyak agama, banyak kepercayaan bahkan banyak juga penyembahan berhala dan banyak dewa. Mengapa Allah yang benar itu tidak terganggu lalu menghukum agama-agama yang salah atau dewa-dewa palsu dan menunjukkan diri bahwa Dia Allah yang benar? Dalam lingkungan Kristen saja terdapat banyak aliran, banyak denominasi, banyak gereja tetapi Allah juga diam. Allah tidak menunjukkan secara terang-terangan bahwa gereja ini atau denominasi ini yang benar.

Hal ini yang harus membuat kita bertanya-tanya, mengapa Tuhan diam? Kalau saya persempit lagi di dalam hidup kita secara pribadi, kita menjalani hidup yang suci, yang benar-benar saleh seakan-akan juga Tuhan tidak memberikan reward atau upah. Sebaliknya, kita berbuat salah, kita berbuat dosa, hidup kita tidak bersih, Tuhan juga seakan-akan tidak terganggu.

Allah yang Mahaagung, yang Mahabesar adalah Allah yang tidak murahan. Diamnya Allah atau seakan-akan Allah tidak ada, justru menunjukkan keagungan, kebesaran, supremasi dan keunggulan-Nya.

Sekarang, bagaimana kita bisa menemukan Allah dan mengalami Allah yang seakan-akan "diam?" Alkitab berkata, “carilah Aku, kamu akan mendapati Aku.” Allah itu kadang seperti jarum yang jatuh dalam tumpukan jerami, rasanya sulit ditemui. Tetapi Dia bukan Allah yang jauh, Dia Mahahadir. Namun, Allah yang agung ini tidak dapat kita temui kalau kita hanya menjadikan Dia sekadar sambilan. Dia harus menjadi segalanya bagi kita. Maka, kita tidak boleh ekstrem, tetapi harus sangat ekstrem.

Dan kita harus memandang bahwa Allah itu harta satu-satunya, bukan yang termahal, bukan yang terbaik, tetapi satu-satunya. Jadi tidak ada padanan, tidak ada imbangan, tidak bisa dipadankan atau dibandingkan dengan yang lain. Dia harus menjadi satu-satunya yang kita butuhkan. Sehingga, kita bisa berkata seperti pemazmur: “sekalipun dagingku dan hatiku habis, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.”

Kekristenan Itu bukan bagian hidup kita, kekristenan itu seluruh hidup kita. Saudara dimiliki Allah sepenuhnya, atau tidak sama sekali. Karena kita tidak bisa memberikan sebagian hidup kita. Kita harus memberikan tanpa batas bagi Tuhan, bagi Allah kita. Dengan begitu, kita bisa mengalami Allah. Ini adalah rahasia menemukan Allah, mengalami Allah.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono