SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menemukan Allah 1 (Sangat Ekstrem)
12 July 2020

Saudaraku,

Untuk menemukan Allah atau mengalami Allah, seseorang tidak cukup menjadi ekstrem, tetapi harus benar-benar sangat ekstrem. Dewasa ini, standar mengikut Yesus sudah sangat merosot. Sehingga kalau digunakan kata “ekstrem” sangat belum cukup, harus “sangat ekstrem.” Hal ini karena kehidupan orang Kristen sekarang ini sudah sangat wajar; kewajaran yang sebenarnya penyimpangan di hadapan Allah. Mereka belum menjadi Kristen yang sejati. Mereka sebenarnya mengenakan Kristen yang palsu. Tetapi, karena pada umumnya orang Kristen mengenakan standar itu, maka mereka berpikir bahwa itu tanda Kristen yang benar. Telah terjadi kemerosotan dari kekristenan yang sangat jauh, sangat dalam. Sehingga, untuk dikembalikan kekristenan yang sejati dibutuhkan langkah-langkah yang sangat ekstrem.

Yang pertama, menemukan Allah, itu segalanya. Tidak bisa dinilai dengan uang atau apa pun. Menemukan Allah itu bukan hanya berarti sudah beragama dan melakukan kegiatan agama. Menemukan Allah berarti kita memiliki persekutuan dengan Dia, dan Allah pun menikmati persekutuan itu. Allah menerima bahwa kita adalah sekutu-Nya. Dia bukan hanya kita percayai, tetapi Dia juga memercayai kita. Bukan hanya aku memercayai Dia, tetapi Dia juga memercayai aku. Dia bukan hanya menyertai diriku, tetapi aku juga menyertai diri-Nya.

Menemukan Allah itu bukan hanya kita beragama Kristen, menyembah, memuji-muji Dia, berkelakuan baik, melakukan hukum, melainkan kita benar-benar melakukan apa pun yang Dia inginkan. Kita bisa sepikiran dan seperasaan dengan Allah. Dan memang, standarnya orang Kristen itu adalah memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Memang standarnya begitu. Kita bukan hanya memercayai Allah, tetapi Allah juga memercayai kita.

Kita punya uang banyak, tidak tenggelam dan hanyut dengan kesenangan membeli barang dan menikmati dunia ini. Kita berkarier bukan karena kita mau terhormat dan memuaskan diri sendiri, melainkan benar-benar kita memaksimalkan potensi meraih keberhasilan untuk kepentingan Dia. Di sini, kita bukan hanya disertai Allah tetapi kita menyertai Allah. Kita menjadi sekutu dan mestinya standarnya begitu.

Kita telah ditebus oleh darah Yesus, sehingga kita tidak berhak lagi atas diri kita, Allah yang berhak sepenuhnya atas diri kita. Orang yang memiliki Allah itu pasti orang yang tidak lagi memiliki kepentingan apa pun. Tuhan itulah kepentingan kita. Kalau hidup kita hanya untuk kepentingan Tuhan, berarti kita hidup hanya untuk Dia. Kita tidak akan menyesal. Allah semesta alam yang Mahabesar ini tidak bisa kita miliki dengan benar atau tidak bisa kita miliki sepenuhnya sementara kita juga masih mau memiliki sesuatu.

 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono