SURAT GEMBALA Surat Gembala
Menciptakan Keinginan 2
15 July 2019

Saudaraku,
Ibarat kendaraan, Tuhan memberikan kepada kita masing-masing sebuah kendaraan yang siap kita pakai. Tuhan mengajar kita bagaimana mengemudikan kendaraan tersebut dan arah yang harus kita tuju. Tetapi Tuhan tidak pernah mengambil alih kemudi hidup kita. Kendaraan itu adalah hidup kita ini. Di sini kita harus belajar memiliki kesadaran bahwa kita dipercayai Tuhan untuk mengendalikan dan mengemudikan kendaraan hidup ini dan mengarahkannya ke arah yang benar. Kalau kendaraan secara harafiah, apakah itu motor atau mobil, itu benda mati yang pasti hanya menurut saja apa yang kita maui. Tetapi, kalau hidup kita ini, di sini ada tubuh dan ada jiwa yang memiliki gairah.

Tubuh kita ini sudah merekam banyak hasrat, keinginan atau nafsu. Jiwa kita juga memiliki banyak keinginan. Semua merekam hasrat yang terus menuntut untuk dipuaskan. Lalu bagaimana kita menguasai ini? Proses untuk mengendarai hidup dan mengendalikan sesuai dengan kehendak Allah ini, bukan sesuatu yang sederhana dan mudah. Ada keinginan daging, tubuh dan jiwa. Artinya, jikalau kita hidup hanya memuaskan daging dan jiwa kita, kita menjadi majikan atau tuan bagi diri kita sendiri. Dan kalau kita kuat, kita berpotensi, kita menjadi majikan atau tuan bagi orang lain juga. Itu keangkuhan hidup.

Saudaraku,
Semua itu berawal dari diri kita sendiri ketika kita membangun keinginan. Dan manusia diberi Tuhan pikiran dan perasaan yang mampu menciptakan keinginan. Keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup bukan berasal dari Bapa. Kalau kita tidak mengendalikan tubuh atau daging kita dengan baik, tidak mengarahkan jiwa kita dengan seksama, maka kita menjadi majikan tuan bagi diri sendiri. Itu keangkuhan hidup. Ketika kita tidak bisa lagi menundukkan diri kepada Tuhan, di situlah keangkuhan hidup dan itu lebih dari kesombongan. Karena itu sudah sampai pada wilayah melawan Tuhan.

Sejatinya, Tuhan yang harus menjadi majikan, Tuhan yang harus menjadi Tuan. Sekarang digantikan oleh diri sendiri. Oleh karena kendaraan yang kita kendarai ini punya gairah, jiwa kita juga punya gairah, maka seperti yang dikatakan dalam Galatia 5:17, dan juga merupakan pergumulan Paulus yang ditulis dalam Roma 7:21-23 bahwa keinginan daging berlawanan dengan keinginan roh. Keinginan roh itu artinya keinginan-keinginan yang sesuai dengan kehendak Allah. Sedangkan keinginan-keinginan daging, keinginan-keinginan yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Menjadi tanggung jawab kita untuk menerima Tuhan Yesus sebagai pemilik kehidupan ini, yaitu kita menundukkan diri di bawah kekuasaan atau kedaulatan Allah. Inilah yang disebut sebagai beriman atau percaya. Hal ini tidak bisa diperoleh melalui anugerah, di mana dengan mudah kita bisa menanggalkannya. Namun kita harus berjuang untuk dapat menanggalkan keinginan-keinginan daging, hasrat-hasrat jiwa, yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Dan menggantikannya dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Ini sebuah perjuangan. Dan perjuangan ini harus kita ciptakan; tidak datang dengan sendirinya. Bagaimana kita bisa memulai dan menciptakannya? Hanya kalau pikiran kita dibukakan mengenal kebenaran. Jadi betapa pentingnya pemberitaan Firman yang murni itu.

Saudaraku,
Bagi orang yang mau menciptakan perjuangan, Tuhan pasti garap orang itu. Di sini berlaku Firman: Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Ironi, jarang orang yang serius membuat berani memulai hal ini. Kenanyakan orang merasa sudah nyaman dengan standar hidup yang telah dicapainya, dia merasa sudah baik, dia merasa sudah tidak memiliki sesuatu yang patut dicela. Padahal justru di sini masalahnya.

Maka, jangan merasa diri orang baik, jangan merasa sudah menjadi orang benar dan membela semua tindakan Saudara dengan berbagai alasan. Karena sekarang kita harus mengsinkronkan diri kita dengan pikiran dan perasaan Tuhan Kristus. Ilmu agama yang memuat hukum-hukum dan syariat-syariat dan peraturan, tidak perlu menggunakan Roh Kudus, semua bisa mengerti. Tetapi kalau pikiran perasan Tuhan harus menggunakan Roh Kudus. Roh Kudus yang membuka pikiran kita untuk mengerti apa yang baik yang berkenan dan yang sempurna. Inilah perjuangan yang harus kita lakukan untuk dapat mempersembahkan hidup bagi Tuhan dan menunjukkan kesediaan kita menjadikan Tuhan Yesus sebagai majikan kita.

Maka ketika ada orang datang kepada Tuhan dan berkata “Aku mau memperoleh hidup yang kekal,” Tuhan berkata “Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin. Datang ke mari dan ikulah Aku.” Ini bukan berarti secara harafiah dimana kita memberikan semua harta kita kepada orang lain, tetapi maksud Tuhan adalah jangan kita terikat dengan hal-hal itu. Sebab daging dan jiwa kita menuntut untuk dipuaskan.

Saudaraku,
Sekarang kita harus berkata kepada daging kita dan jiwa kita, “Tunduklah! Turuti apa yang dimaui oleh Tuhan.” Kita yang menundukkannya. Kita harus mengarahkan kehendak kita sendiri. Untuk hal ini, kita harus mengisi pikiran kita dengan sesuatu yang baik. Kita harus mengisi diri kita dengan standar baru, standar Kerajaan Allah. Ketika suasana jiwa kita diisi dengan kebenaran, maka mulai terjadi satu ketidakpuasan yang kudus. Kalau kita berbuat salah, walaupun tidak melanggar hukum, kita kehilangan damai sejahtera. Jiwa kita terganggu. Dan itu signal, itu isyarat bahwa kita sedang dibawa Tuhan kepada kehidupan sempurna.
Untuk itu,kita harus melakukan dua hal, yaitu: Pertama, mengisi pikiran dengan kebenaran supaya kita menemukan standar baru. Oleh sebab itu, khotbah di gereja harus sampai tingkat bathiniah. Tidak hanya sampai tingkat hukum moral umum. Kedua, kita harus sampai dapat merasakan hadirat Tuhan. Ini harus dialami.

Jadi, kalau kebenaran diisikan dalam pikiran dan hadirat Tuhan dirasakan, maka suasana rohani mengalir dalam hidup kita. Untuk itu, kita harus tekun. Sampai kegembiraan kita hanya kehadiran Tuhan dan pengharapan hidup di langit baru bumi baru. Sampai tingkat ini, seseorang pasti sudah tahu ke mana arah perjalanannya dan ia mengarahkan ke arah tersebut. Dia akan berusaha menguasai daging dan jiwanya. Dia akan berusaha untuk bagaimana selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kita semua belum sempurna. Tetapi, selamat berjuang!

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono